
Acara hari ini tak mengusung adat sama sekali. Tak ada acara siraman atau lainnya seperti acara 7 bulanan pada umumnya. Acara hari ini, lebih kepada pesta gender reveal.
Navia dan Rama yang berdiri didepan backdrop, berusaha menampilkan senyum meski mereka sedang tidak baik baik saja, terutama Rama. Bahkan tadi saat sesi photoshoot, dia harus pura pura tersenyum dan berpose mesra dengan Navia.
Tatapan Embun, terus tertuju pada Rama. Bukan karena masih cinta apalagi cemburu, melainkan dia merasa jika ada yang berbeda dengan Rama. Tak seperti ini senyuman Rama, pria itu terlihat seperti sedang berlakon saat ini.
Nathan menarik pinggang Embun agar lebih merapat padanya. "Jangan manatap mantan kekasihmu seperti itu, aku cemburu," bisiknya.
"Maaf," Embun mendongak menatap Nathan lalu mengusap pipinya pelan. Dia tak bisa mengatakan isi hatinya pada Nathan, takut pria itu makin cemburu karena mengangapnya terlalu perhatian pada Rama.
"Menurutmu, anak Navia laki-laki apa perempuan?" tanya Nathan.
"Kayaknya cewek deh, Navia kelihatan cantik benget soalnya."
"Navia mah, cantik dari orok. Lihat aja kakaknya, gantengnya sampai over dosis." Embun nyengir mendengar ke narsisan suaminya. "Kalau menurutku, anaknya pasti laki. Gimana kalau kita taruhan?"
"Taruhan, apa?"
"Emm....satu permintaan buat yang tebakannya benar."
"Hem," Embun mengangguk cepat. "Aku setuju."
"Semangat banget kayaknya?" Nathan sampai heran.
"Soalnya lagi pengen penthouse 7 M." Nathan langsung nyengir, dan itu, membuat Embun terkekeh pelan.
MC sudah selesai berbasa basi, sementara Rama dan Navia, masing masing juga sudah diberi kesempatana bicara, meski Rama hanya mengatakan beberapa patah kata karena rangkaian kata yang sudah dia susun untuk Navia beberapa hari yang lalu, lenyap seketika dari kepalanya.
__ADS_1
"Boy or girl?" Seru MC dengan sangat lantang.
"Boy," teriak Nathan kencang besamaan dengan beberapa orang yang menebak boy.
"Girl," teriak Embun sambil melotot pada Nathan. Kali ini dia harus menang karena ada yang ingin dia minta pada Nathan. Yang pasti bukan penthouse seharga 7M, karena itu hanya candaan belaka.
Rama sebisa mengkin tak ingin beradu pandang dengan Navia. Dia tak ingin emosinya kembali naik, apalagi saat mengingat dengan jelas, chat Rian yang sedang menunggu Navia di hotel. Belum lagi ratusan chat mesra keduanya.
Teriakan boy dan girl terus menggema, mereka sudah tak sabar ingin tahu. Sebenarnya Rama juga ingin tahu karena dia belum tahu apa gender anaknya.
Diam diam, Navia menatap kearah pria yang sejak tadi memperhatikannya, siapa lagi kalau bukan Rian. Ya, Rian ada disana, bergabung dengan tamu lain. Memang sedikit gila, tapi Navia sendiri yang menyuruhnya datang. Dan Rian, tentu dengan senang hati datang. Bahkan sejak tadi, matanya tak pernah lepas dari Navia.
Rama dan Navia memegang balon besar. Dengan sebuah jarum kecil, mereka meletuskan balon tersebut hingga tersisa balon terakhir yang berwarna biru bertuliskan boy.
"Yeey...boy," teriak Nathan dan lainnya yang ada dikubu boy. Embun terlihat kecewa, apalagi saat Nathan tersenyum penuh kemenangan padanya. "Bersiaplah mengabulkan 1 permintaanku, Sayang."
Apa dia selingkuhan Navia? Jika iya, keterlaluan sekali Navia, dia mengundang selingkuhannya diacara ini.
Rama mengepalkan kedua telapak tangannya. Kalau tak ingat sedang banyak orang, sudah pasti dia akan langsung menghampiri pria itu dan menghajarnya. Tapi saat ini, didepan semua orang, dia masih harus menjaga nama baik dan keluarga. Selain itu, dia juga harus punya bukti dulu, benerkah dia yang bernama Rian.
Setelah foto-foto bersama teman, keluarga dan tentunya Nathan serta Embun, Rama dan Navia turun dari panggung mini tersebut.
Navia langsung disongsong oleh teman teman dekatnya. Mereka yang memang masih berusia muda, terlihat sibuk berfoto.
Rama berkumpul dengan teman dan rekan kerjanya. Tapi meski ada diantara mereka, matanya terus memperhatikan kearah Navia. Dia ingin tahu, apakah ada interaksi antara Navia dan pria tadi.
"Selamat ya Ram, anak pertama cowok," ujar Reka.
__ADS_1
"Kalau gender revealnya semewah ini, pesta lahirannya nanti, pasti lebih mewah lagi," ujar lainnya sambil menikmati makanan. Rama hanya menanggapi dengan senyuman. Saat ini, dia tak bisa fokus mendengarkan celotehan temannya, karena pikirannya hanya tertuju pada Navia.
Mata Rama terbeliak saat beberapa orang pria terlihat menghampiri Navia, dan salah satunya, adalah pria yang tadi tersenyum pada Navia.
Para pria itu adalah teman sekolah Navia. Mereka memberi selamat pada wanita itu.
"Selamat ya, si boy pasti bakalan cakep banget, secara mamanya secantik ini," ujar Rian. Dia menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat setelah semua teman temannya selesai.
Navia tampak tersenyum malu-malu mendengar pujian Rian. Disaat teman temannya sedang asyik mengobrol, Rian diam diam memegang tangan Navia. "Kamu cantik banget hari ini," bisiknya.
Melihat Rama yang menatap tajam kearahnya, buru-buru Navia melepas tangan Rian. Meski dia yakin Rama tak bisa melihat genggaman tangan mereka karena berada dibelakang tubuh.
"Aku dapat honor gede pas manggung kemarin, kamu mau hadiah apa dari aku?" Rian kembali berbisik.
"Eh Yan, nyanyi dong." Interupsi salah satu teman mereka membuat Rian reflek sedikit menjauh dari Navia. "Ya masa gak mau nyumbang suara sih, maunya dibayar doang, pelit ah lo." Rian tertawa renyah mendengar ledekan temannya. Saat ini, memang banyak sekali teman teman SMA Navia, jadi mereka saling kenal.
"Lagu apa nih enaknya?" tanya Rian.
"Ya apa kek, terserah lo."
"Lagu sakit hati, kan lo dulu pernah naksir sama Navia," celetuk Asma, sahabat baik Navia.
"Huuu...." teriak lainnya.
Rian menatap Navia sambil tersenyum padanya. "Minta lagu apa?"
Jadi kejauhan, meski tak bisa mendengar percapakan mereka, tapi Rama bisa melihat senyuman Navia. Ini gila, setelah pertangkaran hebat mereka tadi, Navia masih bisa senyum dan terlihat baik-baik saja. Apakah tak ada penyesalan, atau rasa bersalah sedikitpun? Darahnya mendidih, seperti inikah yang Navia rasakan dulu, saat dia selingkuh dengan Embun.
__ADS_1