
Embun keluar dari kamar mandi dengan wajah mendung. Bisa ditebak, jika sebentar lagi akan turun hujan. Melihat itu, Nathan yang duduk diatas ranjang segera menghampiri dan memeluknya. Dan benar saja, air mata Embun langsung meleleh begitu wajahnya mendarat didada Nathan.
"It's ok, gak masalah. Sekarang belum, mungkin nanti." Nathan mengambil test pack ditangan Embun. Melihatnya sekilas lalu merematnya kuat.
Ini yang ke-3 kalinya, setiap bulan, Embun akan bersemangat mengecek. Hari ini dia sudah telat datang bulan 2 hari, tapi nyatanya, hasilnya masih sama, negatif.
"Kapan aku akan hamil Kak?"
"Nanti, jika sudah saatnya."
"Tapi kapan? Kita sudah 6 bulan menikah, tapi aku belum hamil juga." Nathan membelai rambut Embun sambil mencium puncak kepalanya berkali kali.
"Nanti, kalau sudah saatnya," lagi-lagi itulah jawaban Nathan untuk menenangkan Embun. Menyesal sekali dulu dia sempat bilang ingin punya banyak anak, karena sekarang, Embun seperti sangat terbebani dengan kondisinya yang tak kunjung hamil. "Mungkin kita disuruh pacaran dulu Yank. Diluar sana, banyak kok, pasangan yang udah nikah bertahun-tahun tapi baru punya anak. Kita masih baru 6 bulan. Malah kalau dihitung sejak kita berhubungan, baru sekitar 4 bulan."
Sebenarnya bukan hanya waktu 6 bulan atau 4 bulannya. Embun dibuat parno saat teringat ucapan tetangganya.
Jangan-jangan kamu kayak Ratih dan joko, yang udah nikah lama tapi tak segera punya anak. Keturunan keluarga kamu, banyak yang mandul.
Kata-kata itu seperti momok bagi Embun. Dia takut jika yang dikatakan tetangganya itu benar.
"Gimana kalau aku mandul Kak?"
__ADS_1
"Astagfirulllah," Nathan menarik wajah Embun lalu menangkup kedua pipinya. "Kata-kata itu doa, jangan ngomong seperti itu." Disekanya air mata Embun lalu diciuminya setiap inci wajah istri tercintanya itu. "Mungkin kita perlu usaha yang lebih keras lagi. Tak hanya setiap malam dan pagi, tapi pagi siang malam." Embun langsung terkekeh mendengar ucapan Nathan.
"Kayak makan aja 3x sehari."
"Kalau perlu nambah, 4x sehari. Berapa kalipun, aku jabanin." Embun memukul pelan dada Nathan sambil tertawa pelan. Kalau urusan yang satu itu, dia yakin suaminya mampu berapa kalipun sehari. "Gitu dong ketawa," ditariknya pelan hidung mancung Embun sambil tersenyum. "Tujuan nikah itu untuk bahagia, bukan semata mata untuk keturunan. Jadi jangan jadikan keinginan punya anak sebagai prioritas utama. Anak itu reziki, hak prorogatif Tuhan mau ngasih pada siapapun dan kapanpun. Aku gak mau kamu stress gara gara itu. Buruan mandi lalu siap-siap, hari ini aku antar ke sekolah." Sejak 2 bulan yang lalu, Embun menjadi guru disalah satu SD swasta yang tak jauh dari kediamannya.
"Aku bawa motor aja. Ntar Kakak kepagian kalau nganter aku lalu langsung ke kantor."
"Bagus dong kepagian, daripada telat? Bukankah bos harus ngasih contoh yang bagus buat anak buahnya?" Lagian nanti kita mau kerumah Mama, jadi pulangnya langsung aku jemput di sekolah." Hari ini ada acara 7 bulanan sekaligus pesta gender reveal untuk Navia.
Embun mengangguk lalu bersiap-siap, begitupun dengan Nathan.
...----------------...
Embun menatap backdrop gender reveal yang dihiasi balon berwarna biru dan pink serta tulisan boy or girl. Tanpa sadar, dia menghela nafas sambil mengusap perutnya. Kira-kira, kapan dia akan dibuatkan pesta seperti ini.
"Gak usah dilihatin terus, ayo masuk," Nathan menarik tangannya menuju dalam untuk menemui Mama Salma.
Diruang tengah, terdengar suara riuh rendah. Ada Mama Salma yang sedang temu kangen dengan saudara yang tinggal diluar kota.
"Panjang umur, yang diomongin dateng," ujar tente Sofi saat melihat Nathan dan Embun datang. Tante Sofi adalah adik dari Alm, Papanya Nathan.
__ADS_1
Nathan dan Embun mendekati kerumunan para saudara lalu salim.
"Ini istrinya Nathan yang namanya Embun?" tanya tante Ina. "Masyaallah, cantik sekali." Embun menjawab dengan anggukan kepala sembari mencium tangan tante Ina.
"Nath, nikah kok nggak ngundang ngundang sih, kita kita kan juga pengen makan gratis dinikahan kamu," celoteh Arina, sepupu Nathan.
"Males, makan kamu banyak. Dah gitu buntutnya banyak, rugi aku," sahut Nathan pada Arina yang sudah punya 3 anak meski usianya dibawah Nathan.
"Eh, ngomong-ngomong, Embun udah isi belum?" tanya tante Ina.
Raut wajah Embun seketika berubah. Inilah pertanyaan yang paling dia takuti.
"Kita masih nunda, masih pengen pacaran dulu," sahut Nathan sambil menggenggam tangan Embun dan tersenyum padanya.
"Yaelah, ngapain ditunda, umur kamu udah banyak Nath. Entar udah tua baru punya anak kalau ditunda-tunda," Arina menimpali.
"Bener Nath, gak usah ditunda, Arina aja udah 3 anaknya, masa kamu kalah."
"Kita kesana dulu ya," pamit Nathan. Dia tahu jika Embun mulai tak nyaman dengan pembahasan ini. Demi menjaga perasaan Embun, lebih baik mereka menghindar saja.
Nathan membawa Embun ketempat prasmanan, dia tahu istrinya itu belum makan siang. "Mau makan apa, biar aku ambilin," tawar Nathan.
__ADS_1
"Aku gak lapar Kak."
Nathan membuang nafas kasar lalu mengambil piring. "Kuncinya kalau mau cepet hamil, harus hidup sehat. Jadi kamu harus makan." Kalimat bernada penekanan itu membuat Embun tak berani menolak.