Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
AKU PERNAH MELIHAT OM


__ADS_3

"Iya Pak, tunggu sebentar," ujar Embun via telepon.


Nathan yang hendak memasukkan nasi kedalam mulut, batal karena penasaran dengan siapa Embun bicara. Sementara Embun, setelah menutup panggilan, tampak tergesa gesa melalap sesendok nasi lalu minum.


"Siapa Yang?" tanya Nathan.


"Ojol," sahut Embun sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Tapi sedetik kemudian, tangannya langsung berhenti demi menyadari mulutnya yang telah keceplosan.


"Ngapain kamu mau naik ojol?"


Embun seketika tersenyum simpul, tuh kan jadi ketahuan deh. Semoga urusannya gak jadi panjang. Jangan sampai suaminya itu tanya panjang lebar mengenai kenapa mobilnya ditinggal disekolah. Bukan tak mau jujur, hanya tak mau membuat Nathan cemas karena tahu jika kemarin dia pingsan di sekolah.


"Oh iya, aku baru ingat. Tadi malam pas masukin mobil ke garasi, aku gak lihat mobil kamu," ujar Nathan.


"Sebenarnya," Embun ragu mau bilang. Sampai akhirnya, dia menemukan alasan yang tepat. "Mobil aku bannya kempes kemarin, nunggu orang betulin lama, jadi aku tinggal disekolah." Nathan mengerutkan kening, dia merasa jika Embun seperti sedang berbohong. "Udah dulu ya Mas, kasihan ojolnya nunggu lama." Embun meraih tangan Nathan lalu menciumnya. Namun saat hendak pergi, Nathan malah menahan lengannya.


"Aku anter aja."


"Tapi aku udah terlanjur pesen ojol," tolak Embun.


"Bayar aja, tapi kamu perginya sama aku."


"Ta_"


"Nurut," tekan Nathan sambil sedikit melotot. Dia lalu memanggil Bi Lasih, menyuruhnya memberi uang pada driver ojol dan memberitahu jika orderan dibatalkan. "Habiskan dulu makanan kamu."


Embun terpaksa duduk kembali dan menghabiskan makanannya yang masih tersisa dipiring. Baru setelah Nathan selesai makan dan bersiap, dia mengantar Embun ke sekolah.


Sepanjang perjalanan, Embun terus gelisah. Teringat kemarin Nathan kecil bilang jika supirnya sakit, dia jadi kepikiran bagaimana kalau pagi ini, Jihan yang mengantarnya ke sekolah. Dan itu artinya, kemungkinan Nathan dan Jihan akan bertemu. Bagaimana reaksi Nathan saat melihat Jihan yang sekarang sudah mualaf?


Enggak, enggak, balum tentu. Kalaupun sama-sama kesekolah, waktunya belum tentu juga bersamaan. Mungkin aku lebih dulu sampai atau Jihan yang duluan. Enggak, tenang Mbun, mereka pasti gak akan ketemu.


Embun yang sedang melamun, kaget saat Nathan menggenggam tangannya.


"Kamu kenapa, aku perhatiin, kayak gelisah gitu. Biasanya banyak omong, pagi ini kenapa diem aja?"

__ADS_1


"Gak papa," sahut Embun sambil tersenyum simpul.


"Kamu sakit Yang, muka kamu pucet banget?"


Embun menggeleng. "Aku gak papa, Mas."


Baru kali ini, Embun merasa deg-degan menuju sekolah. Segini meresahkannya mantan, sampai bener-bener bikin dia stres.


Sesampainya didekat gerbang sekolah, Embun langsung mengedarkan pandangannya, berharap tak ada Jihan.


"Sayang, kamu beneran gak papa? Wajah kamu pucet banget," Nathan merasa Embun seperti sedang tidak baik-baik saja.


"Masak sih?" Embun mengambil cermin didalam tas lalu memperhatikan wajahnya. Ternyata benar, dia terlihat sangat pucat, pantas saja Nathan cemas. Dia mengambil lipstik lalu kembali memoles bibirnya. Saat sedang memoles lipstik, tanpa sengaja dia melihat Jihan yang keluar dari mobil. Wanita itu lalu membukakan pintu untuk Nathan kecil dan membantunya turun. Jantung Embun seketika berdegup kencang.


"Astaga Sayang, ngeliatin apa sih, pakai lipstik sampai belepotan gitu?" Nathan cekikikan melihat lipstik yang sampai mengenai pipi.


Tak mau Nathan sampai mengikuti arah pandangnya, Embun langsung menjatuhkan lipstik yang dia pegang. Jangan sampai Nathan melihat Jihan.


"Mas, bisa tolong ambilin gak?"


"Ini," Nathan menyerahkan lipstik tersebut. Saat dia mau melihat kedepan, Embun langsung panik.


"Tisu, tisu, ambilin tisu yang ada didalam tasku." Embun meletakkan tasnya dipangkuan Nathan.


"Ini kan juga tisu," Nathan berniat mengambil tisu yang ada di dashbord tapi Embun menahan tangannya.


"Aku mau yang didalam tas, ini kasar."


"Ta_"


"Mas please, cepetan nanti aku telat." Embun gugup bukan main.


Meski merasa sedikit aneh dengan sikap Embun, tapi Nathan tetap melakukan apa yang diminta istrinya itu. Dia mengacak acak tas Embun untuk mencari tisu.


Sementara Embun, matanya terus menelisik keberadaan Jihan. Dia akhirnya bernafas lega saat melihat Jihan tak mengantar Nathan hingga gerbang, wanita itu kembali masuk mobil dan membiarkan Nathan jalan sendirian menuju gerbang.

__ADS_1


"Kok gak ada, Yang," ujar Embun


"Ini aja," Embun menarik selembar tisu yang ada didashboard lalu merapikan lipstiknya. Nathan hanya bisa geleng-geleng karena kelakuan absurd Embun pagi ini.


Mobil Jihan belum bergerak, Embun bisa melihat jika wanita itu sedang berbicara ditelepon. Tak mungkin menyuruh Jihan segera pergi, jadi lebih baik, Nathan saja yang segera pergi, batinnya.


"Aku masuk dulu ya, Mas. Kamu langsung kekantor saja." Embun mengambil tas yang ada dipangkuan Nathan lalu mencium tangannya.


"Gak mau aku anter sampai gerbang?" tanya Nathan setelah mengecup kening Embun.


"Apaan sih, aku guru, bukan anak TK. Buruan kamu ke kantor." Embun cepat-cepat turun dari mobil, berharap Nathan segera pergi dari sana.


"Bu Embun," teriak Nathan kecil yang melihatnya turun dari mobil. Padahal bocah itu sudah ada didepan gerbang tadi, tapi tak jadi masuk dan malah menghampiri Embun dan mencium tangannya.


"Hai Nathan, how are you today?" tanya Embun lemah. Jujur saja, sekarang jantungnya masih jedag jedug karena mobil Nathan tak segera jalan.


"Very well, Miss." Sahut Nathan dengan senyum lebar diwajahnya.


Embun menoleh kebelakang, berharap melihat Nathan yang sudah bersiap melajukan mobil, tapi mulutnya seketika menganga melihat Nathan yang malah keluar dari mobil. Pria itu memutari depan mobil menuju dia dan Nathan kecil.


"Hei Boy, boleh kenalan? Apakah kamu yang bernama Nathan?" Tanya Nathan yang saat ini sudah berdiri tepat disebelah Embun. Matanya tertuju pada Nathan kecil dan tersenyum padanya.


"Wow, bagaimana Om bisa tahu namaku?" Nathan kecil terlihat takjub. Tapi saat Nathan menunjuk dagu kearah name tag didadanya, dia langsung menunduk lemas. Dan ekspresinya itu, langsung membuat Nathan tertawa.


Beda halnya dengan Embun, jangankan tertawa, nafas saja, rasanya sesak. Dia melirik kearah mobil Jihan, berharap wanita itu segera pergi.


"Kamu gak mau kenalan dengan Om? Nama kita sama loh?"


Nathan kecil langsung mengangkat wajahnya antusias. "Jadi Om suaminya Bu Embun, yang namanya Nathan?"


"Yup, 100 buat kamu." Nathan tersenyum sambil mengusap kepala Nathan kecil.


"Tunggu, tunggu, aku seperti pernah melihat Om sebelumnya?" Nathan kecil meletakkan telunjuk dan jempolnya didagu. Menatap Nathan lamat-lamat sambil mengingat-ingat. "Ya, aku ingat," seru Nathan sambil melompat girang. "Mama, mama," bocah itu malah berteriak sambil melambaikan tangan kearah mamanya yang ada didalam mobil. Teriakannya mungkin tak akan terdengar oleh Jihan, tapi lambaian tangannya, pasti menarik perhatian Jihan.


Dan benar saja, Jihan melihat lambaian tangan Nathan kecil. Seketika kaki Embun terasa lemas saat Nathan melihat kearah mobil Jihan. Keduanya, Jihan dan Nathan terlihat saling menatap.

__ADS_1


"Aku ingat dimana pernah melihat Om Nathan, dilaci meja Mama. Ada foto Om bersama mamaku dilaci meja kerja Mama."


__ADS_2