Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
TAKUT KECEWA


__ADS_3

Nathan memasangkan kalung berlian yang dia pesan dari toko perhiasan milik Satria. Tentunya dengan harga yang sudah didiskon alias harga teman. Kalung itu tampak dangat cocok dileher jenjang Embun. Dan yang pasti, membuatnya terlihat makin cantik.


"Kamu suka?" tanya Nathan sambil memperhatikan kalung cantik tersebut.


"Apapun yang kamu beri, aku pasti suka."


Nathan membuang nafas berat. "Nyesel aku beli kalung ini."


"Kenapa begitu?" Embun mengerutkan kening.


"Harganya mahal. Kalau saja aku tahu kamu suka apapun yang kuberikan, mending aku kasih hadian kalung imitasi yang dijual dimarket place aja." Embun langsung melotot sambil mencubit lengan Nathan. "Becanda sayang, becanda," ralat Nathan sambil mengusap lengannya.


"Jadi, nyesel gak?"


"Ya enggaklah. Apa sih yang enggak buat kamu," Nathan mendaratkan kecupan singkat dibibir Embun. "Oh iya, sekarang, mana hadiahku?"


Hadiah? Tenggorokan Embun seketika seperti tercekat. Dia bahkan belum ada hadiah untuk Nathan. Harusnya tadi siang dia beli di mall bersama Dinar, tapi gara-gara kejadian horor ketemu mantannya Nathan, dia jadi pingsan dan rencana ngemallnya gagal total.


"Jangan bilang kalau kamu belum nyiapin hadiah buat aku?"


Embun seketika tersenyum absurd, tebakan Nathan sangat tepat sekali. Dan sekarang, demi mengurangi rasa malu, dia harus bisa berkelit.


"Astaga, kamu keterlaluan sekali, Yang. Ini anniv yang pertama loh. Masih pertama aja udah gak dikasih kado, gimana kedepannya cobak?" Nathan menghela nafas berat.


"Si-siapa bilang aku gak ngasih," Embun memeluk Nathan. Membenamkan wajahnya didada Nathan agar pria itu tak melihat ekspresinya saat berbohong. "Aku udah beli online, sayangnya ada kendala dipengiriman, jadi belum dateng. Salahin aja ekspedisinya yang lelet."


"Yaelah, gini banget nasibku," Nathan lagi lagi membuang nafas berat.


Embun mendadak teringat ide Dinar. Kasih jatah aja sampai lemes, pasti Pak Su bakalan seneng. Tapi dia yakin, yang bakalan lemes pasti dia, bukan Nathan. Kalau Nathan, palingan cuma perkututnya aja yang lemes sebentar, habis itu on lagi.

__ADS_1


"Mas," Embun meraba raba dada Nathan sembari melepas kancing piyamanya.


"Harus gitu manggil Mas?" Nathan berusaha menahan tawanya. Panggilan itu membuatnya geli. "Sumpah Yang, lucu banget, gak cocok." Tawanya tak bisa lagi ditahan, pecah begitu saja. Dan bisa ditebak, langsung membuat Embun tersinggung.


Embun menatap Nathan tajam sambil cemburut, dan seketika, tawa Nathan langsung reda.


"I-iya, bagus kok dipanggil Mas," nyali Nathan seketika ciut.


Embun kembali tersenyum lalu melanjutkan aktifitasnya tadi yang sempat terhenti. Melepaskan satu persatu kancing piyama Nathan lalu jemarinya menari nari didada bidang itu. Bahkan tak segan mencubit sesuatu berwarna coklat disana.


Nathan mende sah pelan. Dia sangat suka Embun yang sedikit nakal seperti ini, tapi teringat tadi Embun habis pingsan, terpaksa dia memegangi tangan Embun untuk menghentikannya.


"Kamu habis pingsan, Yang. Yakin udah kuat? Kalau enggak, mending kita tidur aja." Nathan tak mau gairahnya semakin tinggi tapi endingnya malah mengenaskan karena Embun tak sanggup melayani.


"Tapi aku pengen, Mas," bisik Embun didekat telinga Nathan. Kalau sudah dipancing seperti ini, mana bisa Nathan menolak, yang ada dia jadi tak bisa menahan diri. Melupakan sejenak jika tadi Embun pingsan lalu mulai menerkamnya.


...----------------...


Saat mencium nasi yang hampir matang dimagigcom, perutnya langsung terasa diaduk-aduk. Dia berlari ketoilet lalu mengeluarkan isi perutnya.


"Non Embun kenapa?" Bi Lasih menghampiri Embun lalu memijit tengkuk dan punggungnya. Setelah itu, membantunya duduk dikursi dapur lalu membuatkan teh hangat. "Diminum dulu, Non."


Teh hangat sedikit membuat perut Embun terasa nyaman. Tapi kepalanya masih saja terasa pusing.


"Non Embun kayaknya hamil deh."


"Apaan sih Bi," sahut Embun sambil terkekeh. "Semalam itu tidurnya malem banget, hampir jam 2. Pasti aku masuk angin gara-gara itu."


"Ya tapi siapa tahu aja hamil. Udah telat belum datang bulannya?" Embun garuk garuk kepala ditanya soal datang bulan. Dia sudah tak lagi pernah memperhatikan siklus bulanannya. Mau datang silakan, mau enggak ya alhamdulillah, karena itu artinya dia hamil.

__ADS_1


"Gak inget Bi, kapan terakhir datang bulan."


"Coba dicek Non, siapa tahu hamil."


Embun menatap nanar gelas berisi teh hangat yang tinggal setengah. Bukannya gak mau ngecek, tapi sudah beberapa kali dia kecewa, dan sekarang, rasanya dia tak sanggup untuk kecewa lagi.


"Gak usahlah Bi, takutnya kecewa."


Setelah badannya enakan, Embun naik kelantai atas menuju kamar. Niat hati mau bangunin Nathan, eh tahunya mas suami udah ganteng aja.


"Tumben udah rapi jam segini?" Embun mendekati Nathan, membantunya memakai dasi.


"Kan mau ngenterin kamu ke sekolah, sama sekalian mau ketemu Jihan."


"APA!" pekik Embun.


Nathan memegangi lehernya yang sakit karena Embun menarik dasinya terlalu kuat. "Yang, aku kecekik." Embun yang baru sadar buru-buru mengendorkan dasi Nathan.


Hosh hosh hosh


Nathan menarik nafas sebanyak mungkin. "Kamu mau bikin aku kehabisan nafas, Yang?"


"Ngapain Mas mau ketemu Jihan?" Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Embun malah membahan hal lain.


"Kan mau nanyain tentang Nathan. Biar kamu gak curiga lagi sama aku."


"Enggak, gak usah." Embun kembali melepaskan dasi yang sudah terpasang. "Biar aku sendiri aja yang nanya sama Jihan. Udah kamu mending tidur lagi aja Mas."


Nathan mengerutkan kening, kenapa gak usah? Bukankannya kemarin udah nangis bombai gara-gara itu, kenapa sekarang kayak gak ada masalah.

__ADS_1


"Tapi, Yang."


"Udah gak usah. Aku bisa nanya sendiri. Lagian gak mungkinkan, benih mahal disebar-sebar." Embun tersenyum absurd lalu segera ganti baju. Dia tak rela Nathan kembali bertemu Jihan. Apalagi sekarang Jihan sudah berhijab, gawat kalau sampai ada cerita cinta lama bersemi kembali karena cinta lama belum kelar. Elah, mantan memang meresahkan.


__ADS_2