Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
BERTEMU TEMAN LAMA


__ADS_3

Suasana cafe tampak ramai. Riuh rendah terdengar disela sela lagu yang sedang dibawakan oleh seorang penyanyi yang sedang manggung diiriingi musik akustik. Berbeda dengan orang-orang disana yang terlihat bahagia, seorang wanita duduk dipojokan dengan suasana hati yang tidak baik. Terlihat dengan jelas kesedihan dimatanya. Siapa lagi kalau bukan Navia.


Sudah lebih dari 1 jam dia duduk sendiri disana. Makanan yang dia pesan tampak masih utuh, hanya minuman saja yang tinggal setengah.


"Lagu yang selanjutnya ini, spesial untuk wanita cantik yang duduk dipojokan sana." Sang vokalis langsung menunjuk kearah Navia, tapi yang ditunjuk malah tak sadar karena sedang melamun.


"Mbak," Navia terperangah saat seorang pelayan perempuan menepuk pelan bahunya.


"Iya, ada apa?" sahut Navia.


Pelayan tersebut menunjuk kearah live musik, dan tatapan Navia pun seketika tertuju kesana. Dia melihat vokalis band tersenyum padanya.


"Satu lagu spesial buat yang ada disana," vokalis tersebut kembali menunjuk Navia.


Tepukan tangan langsung terdengar saat lagu dimulai. Navia heran, kenapa lagu itu untuknya? siapa pria itu, kenapa dari tadi tersenyum padanya. Perasaan gak kenal.


Selesai membawakan lagu, pria itu menghampiri Navia ditempat duduknya. "Masih ingat aku?" tanyanya sambil mengulas senyum.


Navia mengerutkan kening, mencoba mengingat- ingat siapa sosok pria dihadapannya ini. Apakah dia teman kuliah? Atau mungkin SMA atau SMP. Ah entahlah, Navia tak ingat sama sekali.


"Aku Rian," pemuda itu akhirnya menyebutkan nama. "Sudah ingat?"


Navia tersenyum absurd sambil menggeleng. Nama Rian telalu pasaran, terlalu banyak. Rian yang mana?


"Belum ingat juga ya?" Navia mengangguk malu. "Rian teman SMA?" Sudah ada 2 klu, tapi Navia belum ingat juga.


Rian tergelak melihat Navia yang kebingungan. "Kita sekelas selama 2 tahun loh."


Klu ke-3 ini mengingatkan Navia pada seseorang. Ya, namanya Rian, dulu sekelas saat kelas 2 dan 3. Tapi mungkinlah ini Rian yang itu? Seingat dia, Rian teman sekelasnya itu berpenampilan B aja, gak tampan seperti pria dihadapannya ini.


"Aku memang gak terkenal kayak kamu pas sekolah dulu. Jadi wajar kalau kamu lupa."


"Kamu...Rian Abdullah?" Navia terlihat ragu saat mengatakannya.


Rian langsung tergelak.


"Ah, bukan ya?" Navia malu sekali karena salah tebak.


"Tidak, tidak salah maksudnya."

__ADS_1


Navia langsung menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. Jadi benar pria dihadapannya inu Rian Abdullah, si pria berkaca mata yang dulu penampilannya B aja dan malah condong kearah culun.


"Syok gitu kayaknya, kenapa?" tanya Rian.


"Kamu beda, beda banget."


"Kamu orang ke 999 yang bilang gitu."


"Seriusan yang kesekian? Ke 999 ?"


"Iya serius, tapi boong." Rian kembali tertawa. Bisa bisanya Navia percaya. "Kamu gak berubah sama sekali Nav."


"Maksudnya?"


"Tetep agak lemot kalau mikir."


Navia langsung melotot dikatain seperti itu. Ya, dia akui, saat sekolah dulu, dia memang katagori bodoh. Dia sampai heran, padahal kakaknya pintar, tapi kenapa dia enggak.


"Becanda," ujar Rian. "Bukan tetep lemot, tapi tetep cantik. Bahkan makin cantik."


"Hehehe, garing," Navia memutar bola matanya malas. "Mau bikin aku baper, terus endingnya kamu bilang tapi boong. Udah kebaca," Navia yang kesal langsung menyesap jus mangga yang ada dihadapannya.


Melihat jam yang makin sore, Navia tak bisa berlama-lama. Apalagi barusan mamanya chat dan nyuruh dia segera pulang.


"Udah sore nih, kayaknya aku harus pulang," Navia menghabiskan jus mangganya lalu memasukkan ponsel kedalam tas lalu berdiri. Tampak raut kecewa diwajah Rian. Sebenarnya dia masih ingin mengobrol banyak dengan Navia.


Tapi dia tak ada alasan untuk mencegah kepergian Navia. Dia membiarkan Navia pergi begitu saja.


"Nav," panggil Rian saat Navia sudah sampai dipintu cafe. Pria itu berlari menghampiri Navia. "Aku udah lama follow ig kamu. Bisa gak, kalau kamu follow back aku?"


"Iya, nanti aku folback."


...----------------...


Saat bangun tidur, Nathan tak melihat Embun disebelahnya. Dia pikir Embun pasti masak atau bersih-bersih, tapi ternyata, Embun juga tak ada didapur maupun halaman belakang.


"Sayang, Embun," teriak Nathan sambil mencari Embun dibeberapa ruangan. "Sayang..."


"Iya, Kak."

__ADS_1


Nathan lega mendengar suara sahutan dari Embun. Tak lama kemudian, muncul Embun dari pintu depan. Entah darimana istrinya itu. Tapi itu bukan hal yang penting, karena ada yang lebih penting. "Kamu kenapa Sayang?" Nathan melihat mata Embun yang bengkak.


"Gak papa kok," bahkan suaranya terdengar serak, seperti habis menangis.


Nathan menangkup kedua pipi Embun sambil menatap matanya. "Kenapa?" tanyanya lagi karena belum puas dengan jawaban Embun.


"Aku dapat telepon dari kampung, Ibu sakit." Embun tak kuasa menahan air matanya. Tadi malam dia mimpi ibunya, dan pagi ini saat dia telepon, ternyata ibunya sedang sakit. "Kak, apa aku boleh pulang ke Malang?"


"Pulang ya?" Nathan terlihat ragu. "Kapan?"


"Kalau bisa besok."


Besok? Pekerjaan Nathan sedang banyak-banyaknya. Untuk mencari waktu senggang saja, sangat sulit. Apalagi untuk pergi keluar kota.


"Boleh ya Kak, please."


"Tapi...." Nathan berat sekali mau bilang iya. Rasanya dia gak sanggup kalau harus ldr. Apalagi sekarang, pas lagi sayang sayangnya, ehh...mau ditinggal, rasanya dia tak sangggup untuk mengiyakan.


"Kak..."


Tapi melihat ekspresi penuh permohonan diwajah Embun, Nathan tak tega menolak.


"Berapa lama?"


"Emmm palingan 2 minggu."


"What! Enggak-enggak," Nathan menggeleng cepat. Pisah 2 minggu, 2 jam aja udah kayak setahun.


"Ya udah deh, 10 hari saja."


"Enggak, 2 hari aja," sahut Nathan cepat.


"Jakarta-Malang jauh loh Kak. Masa iya cuma 2 hari. Gak cukup buat kangen kangenan sama Ibu."


"Terus kalau aku yang kangen gimana?"


"Cuma 10 hari, please," Embun mengatupkan kedua telapak tangan didada.


"3 hari, deal," Nathan menambah 1 hari lagi.

__ADS_1


Sekarang giliran Embun yang menggeleng. "1 minggu, fix." Nathan menghela nafas berat lalu mengangguk. Baru membayangkan saja sudah berat sekali, apalagi saat menjalani. Rasanya Nathan tak sanggup harus pisah selama seminggu.


__ADS_2