
Setelah puas mencium seluruh wajah Embun, Nathan mendaratkan bibirnya pada bibir Embun. Bibir pertama yang pernah dia cium dan membuatnya ketagihan.
Embun mengambil nafas sebanyak banyaknya saat pagutan bibir mereka terlepas, tapi hanya sesaat, karena Nathan kembali menyatukan bibir mereka. Dia tak puas-puas menikmati bibir manis nan kenyal tersebut.
"Apa aku boleh meminta hak ku?" tanya Nathan setelah ciumannya berakhir.
Embun tertunduk dengan wajah bersemu merah. Mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah suaminya.
"See," Nathan mengangkat dagu Embun, membuat wanita itu menatap kedua matanya. Untuk beberapa saat, hanya mata yang bicara, mengungkapkan cinta melalui pandangan. "Aku mencintaimu Embun, sangat mencintaimu." Nathan mengecup kening Embun lama.
"Aku juga mencintai Kak Nathan," Embun melingkarkan kedua lengannya dipinggang Nathan lalu menyandarkan kepala didada bidangnya.
Sebenarnya, tadi pagi Nathan mendengar pengakuan cinta Embun. Hampir saja dia melonjak kegirangan kalau tak ingat dia sedang pura-pura tidur.
Nathan menguraikan pelukan Embun, mengangkatnya ala bridal style lalu membawanya kedalam kamar di lantai satu yang sejak tadi pagi, resmi menjadi kamar mereka berdua. Seakan tak pernah bosan, Nathan terus memandangi wajah ayu istrinya, sampai-sampai Embun malu dan menyembunyikan wajahnya didada Nathan.
Pelan-pelan, Nathan menurunkan Embun diatas ranjang. Jantungnya berdetak sangat cepat, begitupun dengan Embun. Dada mereka terlihat naik turun karena nafas yang memburu seiring dengan gejolak didada.
Nathan memindai wajah Embun, menyentuh inci demi inci hingga berakhir dibibir merah yang tampak menggoda. Mereka kembali berciuman. Lagi dan lagi tanpa bosan seolah besok tak ada hari lagi untuk berciuman.
Sama sama pengalaman pertama, mereka hanya mengikuti naluri. Memberikan sentuhan demi sentuhan yang mampu melambungkan keduanya ke langit ke tujuh.
Embun terhenyak dan matanya terbeliak saat Nathan mulai menyatukan raga mereka. Terlalu sakit sampai cairan bening meleleh dari sudut matanya.
"Apakah sakit?" Embun mengangguk, tapi sedetik kemudian, dia menggeleng. Dia tak mau menyurutkan gairah Nathan, membuat pria itu ragu untuk melanjutkan sesuatu yang mulai memasuki tahap inti. "Kamu yakin tidak apa-apa?" Embun tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Nathan memulai kembali pergulatan mereka. Terus bergerak hingga keringat sebesar biji jagung membasahi tubuh keduanya.
Embun mulai mengeluarkan suara yang membuat Nathan tersenyum puas. Ya, wanita dibawahnya terlihat sudah mulai menikmati permainannya. Nathan makin bersemangat untuk memberikan Embun puncak kenikmatan yang didambakan semua pasangan yang sedang mengarungi bahtera kenikmatan.
"Terus, Kak," tanpa sadar, keluar kata itu dari bibir mungil Embun. Ini terlalu nikmat sampai dia lupa daratan. Kalau dalam kondisi sadar, dia pasti malu meminta seperti itu.
"Sesuai yang kamu mau, Sayang." Nathan mempercepat tempo gerakannya. Membuat Embun yang berada dibawahnya makin terguncang dan melayang layang. Tak lama kemudian, Embun merasakan jika sesuatu didalam tubuhnya ingin meledak.
"Kak Nathan." Teriak Embun sambil mencengkeram punggung Nathan saat merasakan ledakan dahsyat dari dalam inti tubuhnya. Tubuh Embun melenting keatas dan bergetar. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sesuatu yang begitu nikmat. Pantas saja orang selalu menyebut surga dunia.
Sama sepeeti Embun, Nathan juga mencapai puncak diwaktu yang bersamaan. Tubuhnya ambruk menimpa Embun, dan dengan sisa tenaganya, dia beringsut lalu berbaring disebelah Embun.
Dengan nafas yang masih memburu dan badan penuh dengan keringat, keduanya saling menatap.
"Makasih," Nathan mengecup kening Embun lama.
"Aku masih pengen melihatnya," Nathan ingin menurunkan selimut tersebut tapi Embun menahannya. "Kenapa?"
"Malu," sahut Embun dengan wajah memerah.
"Kenapa baru sekarang malunya, bukan dari tadi," ledek Nathan sambil tersenyum.
"Em....tadi lupa."
Nathan tak bisa menahan tawanya. Lupa, konyol sekali alasan itu. Bilang saja kalau tadi terlalu menikmati hingga terbawa suasana dan lupa daratan.
__ADS_1
"Sini," Nathan menepuk dadanya, memberi kode agar Embun menyandarkan kepalanya disana.
Embun beringsut mendekati Nathan. Meletakkan kepala diatas dada bidangnya dengan sebelah lengan melingkar diperutnya yang keras.
"Kecil apa besar?"
"Kak Nathan ihh...." Embun mencubit perut Nathan. Malu sekali diberi pertanyaan sevulgar itu. "Dulu bilangnya kecil. Sekarang udah tahukan, segede apa kalau udah bangun? Sampai bikin kamu kesakitan."
Mendengar Nathan menyebut kata sakit, Embun langsung teringat sesuatu. Dia memegangi selimut sebatas dada lalu bangun. "Auh...." Dia meringis saat bagian intinya terasa sakit.
"Kenapa, masih sakit?" Nathan ikutan bangun.
Embun mengangguk, dia kemudian bergeser sedikit dan menyibak selimut. Senyumnya merekah melihat bercak darah disprei. "Aku masih perawan, itu buktinya," ujar Embun dengan bangga. Matanya terus menatap bercak darah perawan kebanggannga. Ya, dia bangga bisa mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga itu pada sang suami.
"Maaf, dulu udah nuduh kamu yang enggak-enggak." Nathan menyentuh kepala Embun lalu membelai rambut panjangnya.
Kruyuk kruyuk
Mata Nathan terbeliak saat perutnya membunyikan alarm. Alarm pengingat jika dia minta diisi. Bagaimana tidak, sejak pagi tadi, Nathan belum sarapan. Dan barusaja, energinya habis untuk olah raga bersama Embun.
Embun menatap perut Nathan sambil tertawa cekikikan. "Kayakanya dia protes, pengen disenengin juga kayak yang dibawahnya. Aku ambilin makanan kesini ya?" Nathan menahan lengan Embun saat wanita itu beringsut ketepi ranjang.
"Biar aku aja yang ambil terus bawa kesini," ujar Nathan.
"Ta_"
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapian. Milikmu masih sakitkan? Jadi lebih baik aku aja yang mengambil makanan." Tanpa menunggu persetujuan Embun, Nathan turun dari ranjang. Memakai kembali pakaiannya lalu kedapur untuk mengambil makanan.