Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
MENYEBUT WANITA LAIN


__ADS_3

Malam ini, Rama tak bisa tidur. Niat hati melupakan Embun, yang ada malah makin rindu. Kebersamaan mereka memang sangat lama, jauh jika dibanding dengan Navia. Apalagi Embun adalah cinta pertamanya.


Apakah Nathan sudah menyentuh Embun? Apakah mereka sudah berhubungan layaknya suami istri? Rama teringat tanda merah dileher Embun. Kenapa rasanya dia masih tidak rela. Seperti inikah rasanya gagal move on, menderita sekali.


"Mas."


Rama menoleh saat mendengar Navia yang tidur disebelahnya memanggil. "Kok bangun, mau ke toilet ya?" tanya Rama.


Navia menggeleng. "Kamu kok belum tidur?"


"Belum ngantuk."


Navia duduk lalu menggeser tubuhnya mendekati Rama. "Kenapa, ada masalah dengan kerjaan?" Tanya Navia sambil menyandarkan kepala dibahu Rama. Dan bergelayut manja dilengannya.


"Enggak kok," Rama mengecup kening Navia.


"Lalu kenapa? Kamu kayak banyak pikiran?"


Gak mungkin Rama bilang kalau lagi mikirin Embun. "Aku kangen keluarga di kampung," bohongnya demi menjaga hati Navia.


"Ya udah, nanti kita pulang. Aku juga pengen jalan-jalan ke Malang. Tapi tunggu kandunganku agak besar dikit. Kata dokter trimester dua sudah aman untuk perjalanan jauh. Jadi bulan depan udah bisa ke Malang." Navia mengusap perut dimana tumbuh buah cintanya dengan Rama.


Rama mengangguk lalu kembali mendaratkan kecupan dikening Navia.


"Mas." Navia mulai meraba raba dada bidang Rama. "Pengen," ujarnya malu-malu. Tak tahu kenapa, sejak hamil, dia jadi lebih bergairah. Apalagi beberapa hari sejak mamanya masuk rumah sakit, mereka tak pernah melakukan hubungan suami istri.


"Aku capek sayang, besok saja ya." Rama memang sedang tak bernaffsu saat ini. Kepalanya masih dipenuhi Embun dan Embun.

__ADS_1


Navia tampak kecewa. Dia beringsut menjauhi Rama lalu berbaring memunggunginya. Bukan mudah bagi seorang wanita mengajak duluan, tentu saja karena malu. Tapi ini, udah menahan malu, malah ditolak.


Rama menghela nafas berat. Ada rasa bersalah karena telah menolak Navia. Dia ikut berbaring lalu memeluk Navia dari belakang. "Ayo," bisiknya ditelinga Navia. Dia tak ingin Navia ngambek. Selain itu, dia sudah bertekad menjadi suami yang baik, jadi sudah seharusnya dia tak egois, memaksa saat ingin, tapi menolak saat malas.


Navia tersenyum, tapi dia diam saja, pura-pura jual mahal sampai akhirnya Rama membalikkan tubuhnya dan mulai menciumnya.


"Lepas," Navia pura-pura berontak. "Tadi katanya gak mau," ujarnya sambil mengerucutkan bibir.


"Tadi hanya ngeprank kamu aja, mau lihat seperti apa reaksi kamu."


"Ihhh nakal kamu." Navia memukul pelan dada Rama.


Keduanya lalu kembali berciuaman panas. Saat ciuman Rama turun keleher, dia kembali teringat kissmark dileher Embun. Otaknya tiba-tiba membayangkan seperti apa Embun jika diatas ranjang? Apakah dia sangat hebat? Apa Nathan terpuaskan?


Navia yang memang sangat ingin karena lama tak melakukan, terlihat sangat agresif. Dia ingin memberikan servis yang memuaskan pada Rama. Berbagai cara dia lakukan untuk menservis suaminya, termasuk memegang kendali permainan.


"Kau hebat sekali sayang," racau Rama.


Mendengar itu, Navia makin bersemangat. Keduanya terus memacu hingga sama-sama sampai dipuncak.


"Mbun..."


Deg


Jantung Navia seperti merosot keperut. Dia tak salah dengarkan, Rama menyebut nama Embun saat memadu kasih dengannya.


Air mata Navia meleleh, dia turun dari tubuh dengan perasaan hancur. Dia berbaring disebelah Rama dengan posisi memunggungi.

__ADS_1


Rama, pria itu masih memejamkan mata sambil menikmati pelepasan yang terasa begitu luar dahsyat. Bahkan lebih hebat dari biasanya. Dia tak sadar jika tadi dia menyebut nama Embun. Tapi suara isak tangis, membuatnya mengerutkan kening lalu menoleh kearah Navia.


"Sayang, kamu kenapa?" Rama hendak menyentuh bahu Navia tapi wanita itu lebih dulu menepisnya. "Apa ada yang sakit?" Rama mengingat ingat, apa mungkin tadi dia menyakiti istrinya? Apa tadi dia main kasar? Rasanya tidak, lalu kenapa Navia menangis?


Navia memegangi dadanya. "Hatiku, Mas. Hatiku yang sakit," ujarnya lemah. "Bisa-bisanya kamu menyebut nama wanita lain saat kita memadu kasih."


Deg


Rama langsung memukul kepalanya sendiri. Dia sama sekali tak menyangka jika akan keceplosan seperti ini.


"Apa kalian sering bercinta selama ini?" Meski dia takut Rama akan memberi jawaban yang menyakitkan, Navia tetap memberanikan diri bertanya.


"Tidak," Rama menggeleng. "Aku hanya melakukan denganmu, aku berani bersumpah."


"Baru beberapa jam yang lalu kamu berjanji akan menjadi suami yang baik dan melupakan Embun, tapi apa yang terjadi? Kamu malah menggila padanya." Navia meremat guling. Rasanya sakit sekali, bahkan lebih sakit daripada saat memergoki mereka ciuman. Ternyata membuat surat pernjanjian tak ada gunanya, karena pikiran dan hati Rama, sejatinya masih untuk Embun.


"Sayang, tolong maafkan aku." Kali ini, Rama benar-benar merasa bersalah. Dia berniat memeluk Navia tapi lagi-lagi, Navia menepis tangannya.


"Jangan menyentuhku sebelum hati dan pikiranmu benar-benar tertuju padaku, bukan Embun."


Rama terdiam sambil merutuki diri sendiri. Kesalahannya kali ini sangat fatal. Dia menatap bahu Navia yang naik turun karena isakan. Baru pertama kali ini dia melihat Navia semarah dan sekecewa ini.


"Aku ingin tidur sendiri, Mas. Aku minta kamu keluar dari kamar ini?"


"Tapi Sa_"


"Please, aku mohon. Aku pengen sendiri."

__ADS_1


Tak mau berdebat, Rama akhirnya mengalah. Memunguti pakaiannya dan segera memakai lalu keluar menuju kamar tamu.


__ADS_2