Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
HAMIL LAGI


__ADS_3

Pulang dari mall, Nathan dan Embun langsung menuju rumah Mama Salma. Embun sudah kangen sekali dengan Juna, tak sabar ingin segera main bersama bayi gembul dan tampan itu. Ketika sampai disana, pas sekali saat Juna tengah bermain bersama Navia, Rama dan Mama Salma. Mama Salma sudah bisa sedikit menggerakkan tangannya, tapi bicaranya masih belum jelas.


"Lihat itu, siapa yang datang?" Navia menunjuk kearah Embun dan Nathan yang baru masuk. Seakan paham, bayi berusia 4 bulan itu menoleh kearah yang ditunjuk maminya. "Yeee...Pakdhe Natnat dateng," seru Navia.


"Ck, aku gak mau dipanggil Pakde, panggil Om," protes Nathan.


"Apaan sih, orang emang kamu Pakdenya. Gimana ceritanya gak mau dipanggil Pakdhe coba," timpal Embun sambil memegangi lengan Nathan dan menatapnya.


"Pakde gak keren, aku maunya om aja." Nathan menghampiri mamanya lalu mencium tanganya, begitupun dengan Embun. "Mama sehat?" tanya Nathan.


Mama Salma hanya menjawab dengan anggukan kepala dan senyum. Tangannya bergerak pelan menyentuh perut Embun yang kebetulan berdiri didepannya lalu mengusap pelan.


"Ka-ka, ha-ha..il." Suara Mama Salma sangat tidak jelas, membuat Nathan dan Embun saling menatap bingung.


"Mungkin Mama mau nanya, udah ada isi belum?" terang Navia.


"Doain aja ya Mah," ujar Nathan sambil menggenggam tangan mamanya. Dia melihat kearah Embun, seperti biasanya, langsung mau nangis kalau bahas soal hamil. "Sayang, kayaknya Juna minta digendong kamu deh. Lihat, dia ngangkat tangannya kearah kamu." Nathan berusaha mengalihkan bahasan.


Embun menoleh kearah Juna yang berada dalam pangkuan Rama. Bocah tampan itu mengangkat kedua tangannya, seperti minta digendong. Segera saja Embun menghampirinya dan menggendongnya. Diciuminya pipi gembul Juna sampai bayi itu terkikik kegelian.


"Ganteng banget sih kamu sayang, kayak Pakde Nathan," pujinya.


"Om Nathan," tekan Nathan. Dan langsung disambut tawa oleh semua yang ada disana. Segitunya gak mau dipanggil pakde. Tapi karena itu, semua orang jadi suka menggodanya.


Navia membuka bag plastik yang tadi dibawa Nathan. Tertulis nama baby shop yang lumayan terkenal disana. "Terimakasi Bude," ujar Navia sambil melihat satu persatu baju yang dibelikan Embun.


Embun mengambil ponselnya lalu menyerahkan pada Nathan. "Fotoin aku sama Juna."


Nathan seketika menghela nafas berat. Galeri diponsel Embun sudah sangat penuh dengan foto Juna, tapi masih saja minta difotoin bareng Juna. Bisa-bisa kalau punya anak sendiri nanti, gak hanya galeri ponsel yang penuh foto, seluruh rumah bisa penuh dengan mainan, baju dan segala rupa pernak pernik anak. Embun memang dasarnya menyukai anak-anak. Mungkin karena itu juga, dia lebih nyaman jadi guru ketimbang kerja kantoran yang hanya menatap komputer.


"Kak, pengen punya kayak gini." Ujar Embun sambil menguyel uyel Juna yang saat ini berpindah kepangkuan Nathan.


"Iya, nanti pasti punya," sahut Nathan sambil mengusap kepala Embun.

__ADS_1


Setelah lumayan lama bermain bersama Nathan dan Embun, Juna menangis, sepertinya dia sudah mengantuk mengingat ini sudah lumayan malam. Navia mengambil alih Juna lalu membawanya kedalam kamar untuk dinenenin.


...----------------...


Pagi hari, suara tangis Juna membuat Embun terbangun. Semalam, dia dan Nathan menginap dirumah Mama Salma. Takut keponakannya itu kenapa-napa, segera dia mendatangi kamar Navia. Dia langsung masuk karena kebetulan pintunya terbuka. Terlihat Mbak Dea, pengasuh Juna sedang sibuk menenangkan bocah itu.


"Juna kenapa Mbak?" Embun mengambil alih Juna dari gendongan Mbak Dea. Dia timang sambil menepuk nepuk bokongnya pelan supaya diam, tapi usahanya sama sekali tak berhasil.


"Kayaknya dia minta *****."


"Terus Navianya kemana?"


Hoek hoek


Embun bisa mendengar suara muntah-muntah dari kamar mandi. Tak lama kemudian, Navia keluar dari kamar mandi dengan dipapah Rama. Tubuhnya terlihat lemas dan wajahnya pucat.


Melihat Juna menangis kencang, Navia yang sudah duduk diatas ranjang meminta Juna diberikan padanya dan segera menyuusuinya. Dibelakang Navia, Rama masih setia memijit punggung dan tengkuknya.


"Em...aku, aku..." Navia menoleh kearah Rama.


"Navia hamil," sahut Rama.


"HAMIL!" pekik Nathan yang baru saja masuk. "Kamu hamil Nav?" Segera Rama mengambil selimut untuk menutupi dada Navia yang saat ini sedang menyuusui.


"I-iya Kak," sahut Navia sambil menunduk malu. Gimana gak malu, Juna baru berusia 4 bulan, sementara dia sudah hamil lagi.


"Kok bisa?"


"Ya bisa, kan ada lakinya," sahut Rama. Heran dengan pertanyaan Nathan, masa iya dia gak paham.


"Maksud aku, kok bisa hamil lagi, emang gak KB?"


"Belum sempat, tapi Mas Rama udah ngeyel minta terus. Katanya mau dikeluarin diluar, taunya malah jadi," gerutu Navia sambil menatap Rama sengit.

__ADS_1


"Kebablasan," sahut Rama tanpa rasa bersalah.


Nathan memijit pelipisnya. Navia tak henti-hentinya bikin dia pusing. Bener sih ini bukan suatu masalah, tapi kasihan sama Juna. Dia masih terlalu kecil, masih butuh perhatian ekstra, tapi malah mau dikasih adik.


Nathan celingukan mencari keberadaan Embun, tapi entah kapan keluarnya, tahu-tahu wanita itu sudah tak ada disana. Dia berdecak pelan lalu meninggalkan kamar Navia. Saat memasuki kamar, dia langsung dibuat sesak karena melihat Embun menangis diatas ranjang sambil duduk memeluk kedua lututnya.


Dihampirinya Embun lalu dipeluknya. Meski tanpa bertanya, dia tahu alasan Embun menangis.


"Navia sudah hamil lagi, tapi aku, aku_" Embun tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia sesenggukan sambil memegang dadanya yang sesak.


"Nanti kamu pasti juga bakalan hamil sayang."


"Bagaimana jika aku mandul, Kak?" tanya Embun sambil mendongak menatap Nathan. Airmatanya terus bercucuran.


"Jangan bicara seperti itu. Ingat, kata-kata itu doa."


"Tapi saudara-saudaraku banyak yang mandul. Gimana jika aku sama seperti mereka?"


Nathan berdecak sebal, karena ada orang yang bisara seperti itu, secara tidak langsung membuat Embun memvonis dirinya sendiri mandul.


"Jangan dengarkan kata orang."


"Bukan kata orang, itu kenyataan. Saudaraku banyak yang mandul."


"Cukup Mbun," geram Nathan sambil menatap Embun tajam. "Jangan bicara seperti itu terus. Aku tidak mau kamu stres karena pikiran kamu sendiri. Sadar gak, kamu secara tidak langsung memvonis dirimu sendiri mandul. Please, sebentar saja gak usah galau mikirin masalah anak?"


Embun melepaskan pelukan Nathan. Mata sembabnya menatap Nathan nyalang. "Berhenti Kakak bilang? Kakak bisa bilang begitu karena Kakak gak ngerasain jadi aku," Embun menunjuk dirinya sendiri. "Setiap ketemu orang, yang ditanya selalu anak, anak dan anak. Tetangga ngomongin aku mandul, dan apa Kakak tahu? Setiap pasangan yang tak punya keturunan, selalu saja yang disalahan perempuan Kak, perempuan," suara Embun mulai meninggi. "Selalu perempuan yang dianggap mandul, selalu perempuan yang disalahkan."


Nathan menyesali perkataannya barusan yang menyulut emosi Embun. Dia hendak merangkul bahu Embun tapi tangannya lebih dulu ditepis.


"Baiklah, aku setuju dengan permintaanmu, kita periksa kesuburan," ujar Nathan pada akhirnya. "Tapi sebelum itu, kamu harus janji." Dia menatap kedua netra Embun. "Janji apapun hasilnya nanti, tak akan ada yang berubah dengan hubungan kita. Kita akan tetap bersama bagaimanapun hasilnya nanti. Aku tak mau kehilangan kamu Mbun."


Embun mengangguk lemah. "Ya, aku janji."

__ADS_1


__ADS_2