
Nathan mengerutkan kening mendengar pertanyaan Embun. Kenapa tiba-tiba bahas Jihan? Apa yang sebenarnya terjadi? Nathan masih mencoba menebak kemana arah pembicaraan Embun. Dan dari mana asal muasal tiba-tiba membahas Jihan.
"Kenapa diem? Jawab Kak, please," Embun mengatupkan kedua telapak tangannya didada. Matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam. Memohon dengan sangat agar Nathan mau bicara jujur. Dia tahu jika Jihan hanya masa lalu. Tapi jika ada anak diantara mereka, bukankah anak itu berhak tahu siapa ayahnya. Dan jika benar Nathan kecil adalah anak Nathan, rasa sakit yang saat ini dia rasakan, pasti akan terasa lebih sakit lagi, bahkan berkali kali lipat.
"Apa Kakak bohong, tentang ciuman pertama waktu itu?" Embun kembali bertanya.
"Bohong? Apa maksudmu?"
"Tolong katakan dengan jujur, sejauh mana hubungan Kakak dengan Jihan? Apa kalian pernah_" Ternggorokan Embun seperti tercekat, rasanya dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tidak sedang menuduhku kan Sayang? Kemana sebenarnya arah pembicaraanmu?" Nathan mulai tak sabar.
Embun menunduk sambil menangis. Entahlah, sudah berapa liter air mata yang dia keluarkan hari ini. Bahkan saat ini, matanya terasa susah untuk dibuka saking bengkaknya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau tahu?" Nathan memegang kedua bahu Embun sambil menatapnya dalam.
Pelan-pelan, Embun mengangkat wajahnya. Matanya bersitatap dengan netra Nathan. "Apakah Kakak pernah tidur dengan Jihan?"
Pertanyaan itu seketika membuat Nathan tercengang. Bagaimana mungkin Embun bisa menuduhnya seperti ini. Jelas-jelas hari itu, dia mengatakan pada Embun jika melakukan hubungan badan untuk yang pertama kalinya.
"Kau meragukanku?" tanya Nathan gamang. Ada rasa kecewa didalam hatinya atas tuduhan tak berdasar Embun.
"Aku tak mau berputar-putar. Jawab saja, pernah atau tidak?" Embun sudah tak sabar ingin tahu. Meski nanti bisa saja, jawaban yang dia peroleh menyakitkan.
"Bukankah hari itu aku sudah bilang, jika itu yang pertama? Jika kau tak bisa percaya padaku, lalu untuk apa aku kembali memberikan jawaban sekarang, karena pasti kau tidak akan percaya." Nathan sangat kecewa pada Embun. Padahal selama ini, Embun yang selalu berkoar koar jika dalam rumah tangga, kepercayaan adalah yang paling utama. Tapi saat ini, Embun malah terkesan menjilat ludahnya sendiri.
"Tidurlah sudah malam," Nathan turun dari ranjang. Berjalan menuju almari, mengambil piyamanya lalu masuk kekamar mandi. Didalam sana, dia memijit kepalanya yang terasa berat. Kenapa Embun tiba-tiba menuduhnya seperti ini? Jujur saja, dia sangat kecewa pada Embun.
__ADS_1
Saat keluar dari kamar mandi, dia melihat Embun berbaring memunggunginya. Bahu wanita itu masih tampak naik turun. Dan benar saja, saat Nathan naik keatas ranjang, dia masih bisa mendengar isakan Embun.
Nathan merebahkan badan disebelah Embun. Matanya menatap kelangi-langit kamar. Malam ini, dia tak akan bisa tidur jika masalah ini tak terselesaikan. Mau tidak mau, meski kesal dan kecewa, dia melanjutkan bahasan tadi.
"Apa yang sebenarnya membuatmu tiba-tiba meragukanku?" tanya Nathan.
"Nathan, Kakak ingatkan, aku pernah cerita tentang muridku yang bernama Nathan?"
"Iya, lalu apa hungannya dengan aku?" tanyanya dengan nada kesal.
"Dia anaknya Jihan."
Mulut Nathan seketika melongo. Jangan bilang kalau Embun mengira jika Nathan muridnya itu, adalah anaknya dan Jihan.
"Anak yang namanya sama, bahkan sifat dan makanan kesukaannya juga sama dengan kamu, dia anak Jihan, Jihan Elizabeth."
Nathan terdiam beberapa saat. Bukankah Jihan belum menikah? Kenapa tiba-tiba sudah punya anak? Atau mungkin dia yang ketinggalan gosip, tak tahu kabar terbaru tentang Jihan? Tapi jika Jihan menikah, pasti Rafael akan memberitahunya. Sahabatnya yang satu itu selalu apdate kabar tentang Jihan dan tak lupa memberitahunya tanpa dia minta sekalipun.
"Jadi kau mengira jika anak itu, anakku dan Jihan?" potong Nathan.
"Bisa sajakan.".
"Astaga," Nathan duduk sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Jadi akar dari masalah ini adalah pikiran Embun yang entah bagaimana caranya, tiba-tiba menarik kesimpulan jika Nathan adalah anaknya dan Jihan. "Aku berani bersumpah, anak itu bukan anakku. Jangankan berhubungan badan dengan Jihan, berciuman saja, kami tidak pernah. Aku dan Jihan sama-sama tahu batasan."
Embun membalikkan badan kearah Nathan. Bangun lalu duduk disebelah suaminya yanh tampak frustasi. "Kakak yakin?"
"Seribu persen, bahkan aku siap dites DNA jika kau masih ragu."
__ADS_1
"Hwaa.." Tangis Embun makin pecah, dia langsung memeluk Nathan dengan sangat erat. "Jadi dia bukan anak Kakak?"
"Bukan," sahut Nathan cepat. "Jika kau masih tak percaya, bawa aku ketemu Jihan. Biar kita bisa langsung tanya pada dia, siapa ayahnya Nathan. Yang jelas bukan aku. Aku bukan pria yang suka celap celup. Benihku mahal, tak akan aku sebar begitu saja pada wanita yang belum halal. Karena aku tak mau punya keturunan yang tidak bernasab."
Embun melepaskan pelukannya lalu menatap Nathan. "Jadi cuma aku yang udah diberi benih mahal itu?"
Nathan yang kesal karena tuduhan Embun, malas untuk menjawab. Dia memilih diam lalu berbaring memunggungi Embun.
"Ish, Kak Nathan." Embun menarik narik piyama Nathan. "Kok gak dijawab?"
"Males," sahut Nathan jutek.
"Maaf, jangan ngambek dong." Embun ikut rebahan sambil memeluk Nathan dari belakang. "Kak Nathan maaf. Please, jangan marah." Dia memeluk sambil terus meringsek dan menciumi bahu Nathan.
"Kenapa kamu gak nanya dulu ke Jihan, siapa bapaknya Nathan? Main nuduh aku sembarangan saja."
"Maaf, aku cuma terlalu takut aja. Takut kalau ternyata ada anak diantara kalian lalu kamu milih ninggalin aku karena aku gak bisa ngasih kamu anak." Embun masih memeluk Nathan erat.
Nathan berdecak pelan. Itu lagi kan ujungnya, gak bisa punya anak.
"Jangan marah, please. Hadap sini dong, aku kangen." Nathan menyebikkan bibirnya. Dia memilih jual mahal karena masih kesal pada Embun yang hanya bisa berteori tanpa bisa mempraktekkan. Selalu koar koar tentang kepercayaan, eh..tahunya gak bisa praktek, ngomong doang yang jago.
"Kak Nathan, jangan ngambek. Malam ini aniversary kita loh." Embun yang merasa bersalah masih mencoba merayu. "Hadap sini dong." Embun berusaha membalikkan badan Nathan, tapi sayang gagal karena kalah tenaga.
Setelah berkali-kali membujuk Nathan dan endingnya gagal, Embun lalu bangun.
"Mau kemana?" Nathan sigap membalikkan badan dan menarik lengan Embun. Jangan sampai karena merasa dicuekin, Embun malah milih tidur dikamar lain.
__ADS_1
"Mau pipis."
Sial, Nathan merasa tertipu. Andai saja tahu kalau cuma mau pipis, dia gak akan nahan lengan Embun. Terusin aja pura-pura ngambeknya. Kalau sudah begini, gagal deh wacana jual mahalnya.