
Nathan memeriksa satu persatu poin yang ada dalam surat perjanjian yang dibuat Navia. Sebenarnya intinya sama, jika Embun terbukti selingkuh, dia harus bersedia diceraikan tanpa harta gono gini sepeserpun. Dan jika ada anak, hak asuh otomatis jatuh pada Nathan. Tapi Nathan merasa berat sebelah, kenapa hanya Embun? Kenapa tak ada sanksi bagi dia jika selingkuh?
"Ini tidak adil."
"Apa maksud Kakak. Aku membuat persis seperti apa yang Kak Nathan buat."
"Ya, persis. Tapi aku keberatan. Aku ingin ditambah 1 poin lagi."
"Apa?" Navia mengerutkan kening.
"Jika aku yang selingkuh, Embun boleh menggugat cerai dan dia mendapatkan semua harta yang kami dapat selama pernikahan."
"Kakak gila," Navia menyentak lengan Nathan. "Buat apa Kakak ngasih ke dia. Ini itu surat perjanjian yang dibuat untuk menghukum mereka, sudah selayaknya mereka yang dipojokkan agar tak selingkuh lagi."
"Menghukum?" Nathan mengerutkan kening. "Kalimat itu tepat untukmu, karena Rama berselingkuh, mengkhianati pernikahan kalian. Tapi Embun, apa salah dia padaku? Dia tidak berkhianat padaku. Dia melakukan kesalahan sebelum menikah denganku, itu masa lalunya, aku tak berhak menghukumnya atas masa lalu."
"Wow," Navia bertepuk tangan sambil tersenyum getir. "Hebat sekali pelakor itu. Setelah membuat Rama berkhianat padaku, dia juga merebut hati Kakak." Dia menusukkan telunjuknya kedada Nathan. "Bahkan sekarang, kakakku lebih menyayanginya daripada aku," Navia menepuk dadanya sendiri. Rasanya sesak, tak rela jika cinta kakaknya direbut Embun.
Melihat mata Navia yang berkaca-kaca, Nathan segera memeluknya. "Tak ada yang merebutku darimu. Aku menyayangi kalian berdua, hanya saja, dengan posisi yang berbeda. Kau adikku Navia, kau kesayanganku. Tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu." Navia menitikkan air mata saat Nathan mencium puncak kepalanya. "Dan Embun, dia istriku. Aku menyayangi kalian berdua, tapi dengan rasa sayang yang berbeda."
Sejak papa mereka meninggal, Navia memang sangat bergantung pada Nathan. Baginya, Nathan sudah seperti pengganti papa. Dan dia takut ketika Nathan jatuh cinta pada Embun, tak ada lagi cinta untuknya.
Nathan melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Navia. "Tolong maafkan Embun. Dia melakukan itu juga karena ada alasannya."
"Alasan apapun, menjadi orang ketiga itu tidak benar."
__ADS_1
"Bagaimana jika dibalik, kamulah orang ketiganya?"
"Mustahil, Aku tak merebut Rama dari siapapun."
"Embun dan Rama sudah pacaran selama 10 tahun. Dan Rama, dia tiba-tiba memutuskan Embun dan memilih menikah denganmu."
Navia terhenyak mendengar penjelasan Nathan. Dia tahu jika Embun adalah mantan kekasih Rama. Tapi dia tidak tahu jika selama itu mereka pacaran, 10 tahun. Dan juga, dia tidak tahu jika putusnya mereka karena Rama lebih memilih menikahinya. Navia sungguh tidak tahu saat dia menjalin hubungan dengan Rama, ternyata Rama masih punya pacar dikampung.
"Bagaimana jika posisinya dibalik. Embun yang saat itu berstatus sebagai kekasih Rama, memergoki Rama berselingkuh denganmu? Mungkin keadaannya akan berbeda, Embun yang akan memaki maki dirimu."
Navia terdiam sambil menunduk. "Tapi aku tidak tahu jika Mas Rama punya pacar saat itu."
Nathan tak bisa menyalahkan Navia, disini memang Ramanya saja yang berengsek. Dia meraih kedua tangan Navia lalu menggenggamnya. "Tolong terima Embun sebagai Kakak iparmu. Embun wanita yang baik." Navia hanya diam, tak memberi jawaban apapun.
"Aku akan menambahkan 1 poin lagi disurat perjanjian ini. Jadi besok saja ditandatangi."
"Oh, ternyata kalian masih suka main belakang?" seru Navia. Padahal beberapa saat lalu, dia sudah berniat untuk melupalan segalanya dan menerima Embun sebagai kakak iparnya, tapi apa, ternyata mereka masih diam-diam bertemu.
Nathan membuah nafas berat, kenapa juga, Embun harus ngobrol berdua dengan Rama. Padahal tadi dia sudah susah payah menyakinkah Navia jika Embun tak seburuk perkiraannya.
"Kamu jangan salah paham, Navia." Rama segera menghampiri Navia. Ingin memegang tangannya tapi lebih dulu ditepis.
Embun menatap Nathan. Inilah yang dia takutkan, kesalah pahaman. Kalau saja Rama menurut dan masuk lebih dulu, pasti tak akan terjadi masalah seperti ini.
"Aku dan Embun hanya ngobrol biasa," Rama menjelaskan. "Kalau kami mau serong, jelas nyari tempat yang aman, bukan malah terang terangan disini."
__ADS_1
Masuk akal juga penjelasan Rama. Tapi Navia tetap merasa cemburu.
"Kak, tadi_"
"Aku tahu," Nathan memotong ucapan Embun. Mendekatinya dan menggenggam tangannya. "Ram, lebih baik ajak Navia pulang. Kami mau masuk kedalam," Nathan menggandeng tangan Embun lalu mengajaknya masuk kedalam kamar Mama Salma.
Jantung Embun mulai berdegup kencang saat menginjakkan kaki dikamar Mama Salma. Dia takut mertuanya itu masih bersikap dingin padanya.
Nathan dan Embun, keduanya bergiliran mencium tangan Mama Salma.
"Tadi kami mampir ketoko kue buat beli cake kesukaan Mama," ujar Nathan.
Embun meletakkan paperbag berisi cake keatas nakas lalu mengeluarkan isinya. "Embun potongin ya buat Mama?"
Mama Salma menatap Nathan, terlihat raut penuh permohononan diwajah putranya itu. "Terserah kamu."
Meskipun jawaban itu tak sehangat dulu, tapi Embun tetap senang. Dia memotong cake menjadi beberapa bagian lalu mengambil sepotong. "Mama mau Embun suapin?"
"Pasti mau dong, iyakan Mah?" Ucapan Nathan membuat Mama Salma tak bisa menolak.
Dengan senang hati, Embun menyuapkan potongan cake kemulut mertuanya. Tak lupa, dia juga mengambil tisu untuk mengelap bibir mertuanya saat ada cake yang tersisa disana.
Melihat mertuanya yang kelihatan kesusahan menelan, Embun mengambil air putih yang ada diatas meja lalu menyodorkan kedepan Bu Salma. Air putih didalam gelas yang sudah dilengkapi dengan sedotan itu, langsung diminum oleh Bu Salma.
"Aku juga mau dong cakenya," Nathan mendekatkan wajahnya pada Embun sambil membuka mulut. Dan tak perlu menunggu lama, potongan cake sudah tersodor dihadapan Nathan. "Emmm....enak banget," ujarnya sambil mengunyah cake yang ada didalam mulut. "Padahal biasanya gak seenak ini. Apa mungkin karena yang nyuapin cantik ya? Benar gak Mah?" Nathan bertanya sambil menatap mamanya, tapi sudut matanya, melirik Embun. Terlihat wajah istrinya itu bersemu merah.
__ADS_1
Mama Salma hanya menanggapi dengan senyuman. Senyuman yang mampu membuat gundah gulana dihati Embun sedikit lenyap. Setelah hari itu, ini untuk pertama kalinya, mertunya itu tersenyum padanya.