
Saat makan malam, Embun dengan antusias menceritakan pada Nathan tentang murid barunya yang bernama Nathan.
"Nama mungkin sama, makanan kesukaan juga, tapi urusan kadar kegantengan, jelas masih gentengan aku."
Embun langsung tertawa ngakak. Bagaimana mungkin tanggapan mereka juga bisa sama seperti ini. Mereka benar benar seperti,
Deg
Detak jantung Embun seketika berhenti berdetak, wajahnya pias. Tidak ini tidak mungkin. Bisa-bisanya dia berfikiran jika muridnya itu adalah anak Nathan. Ini pikiran paling konyol menurutnya.
Jelas-jelas waktu itu Nathan bilang, dia yang telah mengambil ciuman pertamanya. Jadi mana mungkin Nathan tiba-tiba punya anak. Rasanya mustahil ada orang yang melakukan hubungan badan tanpa melakukan ciuman.
"Kamu kenapa, perasaan tadi tertawa, kok tiba-tiba berubah gini ekspresinya?"
"Enggak kok," bohong Embun. Dia tak mungkin bilang kalau sedang mencurigai Nathan. Dia tak boleh menuduh Nathan tanpa bukti dan hanya mengandalkan beberapa kesamaan, takutnya malah fitnah. "Kak, besok kerumah Mama yuk. Aku kangen sama Juna. Boleh gak sih, Juna kita pinjem seminggu buat diajak tinggal disini?"
"Emang kamu bisa nenenin dia?" cibir Nathan sambil terkekeh pelan. "Nenenin aku aja, akunya gak kenyang-kenyang."
"Ish, bisa gak sih, kalau bicara itu gak terlalu vulgar?"
"Gak bisa, kalau dekat kamu, otakku larinya langsung kearah sana," sahut Nathan sambil cekikikan. "Lagian kamu aneh, anak orang mau dipinjem, ya mana boleh sama Navia."
Embun tertunduk lesu. Mungkin kalau dia punya anak sendiri, dia tak akan serindu ini pada anak orang.
"Udah jangan sedih gitu. Kalau kamu pengen seminggu bareng sama Juna, kita bisa tinggal dirumah Mama seminggu."
"Andai saja kita punya anak sendiri ya Kak, pasti seru. Keluarga kecil kita makin lengkap." Kalau sudah bahas anak, mata Embun pasti langsung berkaca-kaca. "Kak, gimana kalau kita program bayi tabung?"
Nathan membuang nafas berat. Dia paling males kalau sudah bahas soal anak. Karena ujung-ujungnya pasti baper, terus nangis.
"Gimana soal cuti, beneran gak dapat cuti?" Nathan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Enggak," sahut Embun sambil menggeleng lemah.
"Ya udah kalau gitu, kita honeymoon pas weekend aja. Kepuncak atau kemana gitu, yang deket-deket aja intinya. Nginep 2 hari dihotel cukuplah."
"Hm, cukup, cukup banget buat bikin aku gak bisa jalan." Nathan langsung terkekeh mendengar celetukan Embun barusan.
Setelah makan malam, Embun segera kembali kekamar untuk melihat laptopnya. Disana tersimpan semua data diri siswa. Dia yang masih kepikiran, langsung melihat data diri siswa bernama Nathan. Embun bernafas lega saat melihat nama mama Nathan ternyata bukan Jihan, namanya adalah Veronica Alma dan ayahnya Ilham hidayat, diketerangan tertulis jika Nathan beragam islam.
__ADS_1
Astaga Mbun, bisa-bisanya kamu mikir jika Nathan kecil adalah anak Nathan.
Dia merasa bersalah karena sudah sempat mencurigai Nathan. Bukankah dalam rumah tangga itu kuncinya kepercayaan. Dia tak boleh meragukan Nathan. Jika hari itu Nathan bilang yang pertama dengannya, jadi dia harus percaya itu.
Melihat Nathan mendekat, Embun buru-buru menutup laptop dan meletakkan kembali keatas nakas.
"Sini Yang," Embun menepuk pahanya, meminta Nathan tiduran disana. "Mau aku pijitin kepalanya?" tawarnya karena merasa bersalah sudah mencurigai Nathan.
"Kepala sekalian bahu, pegel banget Yang," keluh Nathan. Dimas cuti beberapa hari karena Cindy lahiran, alhasil tak ada lagi orang yang membantu pekerjaannya.
"Apa Cindy sudah pulang dari rumah sakit?"
"Katanya besok. Kamu mau jenguk anaknya Dimas?"
"Ya iyalah, masa eggak. Besok kita jalan-jalan yuk, sekalian nyari kado buat anaknya Dimas."
"Terserah kamu," Nathan mulai memejamkan mata karena kantuk. Embun menyuruhnya pindah rebahan dikasur agar dia bisa sekalian memijit punggungnya.
"Enak banget yang," puji Nathan saat Embun memijat punggungnya. "Kurangnya apa coba istri aku ini. Udah cantik, pinter masak, penyayang, pinter mijet. Dan satu lagi, pinter goyang."
Plakk
"Habisnya, hobi banget ngeledekin aku."
"Siapa yang ngeledek, aku mah muji. Kamu kan emang jago urusan itu. Besok kalau kita ke mall, kamu sekalian beli lingeri yang banyak biar bisa buat gonta ganti."
"Males, buang-buang duit. Kamu beringas orangnya. Yang ada kamu tarik sobek lagi." Nathan langsung tergelak. Sejak kejadian lingeri sobek malam itu, Embun tak pernah lagi memakai lingeri.
...----------------...
Sore ini, Nathan dan Embun jalan-jalan di mall, mencari kado untuk anak Dimas dan Cindy. Embun juga ingin sekalian membelikan baju untuk Juna. Ya, meskipun baju Juna sudah penuh 1 almari karena Navia sangat hobi membalikannya baju. Tapi tak ada salahnya kan, membelikan keponakan baju.
"Anaknya cowokkan Kak?" tanya Embun sambil melihat lihat deretan jumper bergambar superhero.
"Astaga, aku sampai lupa gak nanya, anaknya laki apa perempuan," Nathan menepuk dahinya.
"Anaknya laki," ujar Embun sambil menghela nafas.
"Kalau udah tahu, kenapa nanya?"
__ADS_1
"Ngetes kamu doang."
Nathan berdecak pelan sambil memelototi Embun.
"Oh iya, darimana kamu tahu kalau anak mereka laki-laki?"
"Aku kan punya nomornya Dimas, jadi lihat di status wa dia."
"Ngapain kamu nyimpen nomor dia?"
"Buat jaga-jaga sewaktu waktu kalau kamu pulang telat atau malah gak pulang, kan bisa nyari tahu kedia. Kamu beneran kerja atau ngapain?"
"Cie...mode posesif udah mulai on nih. Bucin ya Buk?" ledek Nathan sambil mencubit gemas pipi Embun.
Embun malas menanggapi. Selain itu, dia juga tak mau menyangkal kalau memang udah kena virus bucin.
Mereka berdua memutari baby shop, mencari hadiah yang sekiranya cocok untuk anak Dimas. Embun juga membelikan beberapa potong baju untuk keponakannya, Juna.
Saat melewati deretan baju bayi perempuan yang lucu-lucu, Embun tak bisa untuk tidak berhenti sejenak.
"Lucu banget," Embun mengambil gaun warna pink yang tampak menggemaskan lalu menunjukkan pada Nathan. Dia lalu melihat pakaian lainnya, sepatu, kaos kaki dan topi bayi perempuan. Andai saja dia punya anak perempuan, pasti sudah dia borong.
Sebenarnya Nathan kasihan pada Embun yang terlihat sangat ingin punya anak, sebenarnya dia juga sama. Tapi untuk melakukan pemeriksaan seperti yang diminta Embun, dia belum siap. Dia takut tak bisa menerim kenyataan jika dia yang tak subur. Begitupun jika Embun yang tidak subur, dia takut mentalnya malah down. Mungkin dengan tidak tahu seperti ini, adalah solusi terbaik. Tapi semoga saja, dia dan Embun sama-sama subur, hanya saja belum waktunya diberi rezeki berupa momongan.
"Mbak, kok udah belanja perlengkapan bayi sih?" tegur seorang ibu kepada Embun yang sedang asyik melihat kaos kaki bayi. "Pamali, tunggu kandungannya besar dulu, seenggaknya kalau udah 7 bulan."
Embun tersenyum getir mendengar ucapan ibu itu. "Bukan untuk saya Bu. Saya tidak hamil."
"Oh...bukan ya, maaf. Saya kira mbaknya yang hamil. Soalnya saya lihat, mbaknya kayak orang hamil."
Embun reflek menunduk, menatap perutnya. Perasaan perutnya gak buncit, tapi kenapa dikira hamil.
"Yang, aku gendutan ya?" tanya Embun saat ibu itu sudah pergi.
"Enggak kok, perasaanku biasa aja," sahut Nathan.
"Kok kata ibu tadi, aku kayak orang hamil."
"Gak usah dimasukin hati. Biasa, ibu-ibu yang iri lihat wanita cantik ya kayak gitu."
__ADS_1
Heh, Embun langsung nyengir. Kenapa jawabannya kayak gak nyambung gitu.