Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
TAKUT KEHILANGAN LAGI


__ADS_3

Menghabiskan malam sambil keliling kota dengan motor ternyata sangat mengasyikkan. Terasa seperti abg yang baru pacaran. Sepanjang jalan mengobrol sambil ketawa ketiwi. Dinginnya udara malam membuat Embun makin mengeratkan pelukan dipinggang Nathan, dan situasi ini, begitu dinikmati oleh Nathan. Berkali kali dia melepas tangan kirinya dari setir hanya untuk menggenggam tangan Embun atau sekedar mengusap lutut.


"Kak, mampir disitu bentar yuk," Embun menunjuk sebuah kedai es krim yang lumayan ramai. Dia memang pencinta es krim sejak dulu.


Nathan memarkirkan motornya didepan gerai lalu masuk bersama Embun. "Dingin Yang, aku gak mau." Nathan memang belum terbiasa dengan udara sejuk dikota Malang, beda dengan Embun, yang meskipun dingin, masih bisa menikmati es krim.


Bukannya menunggu dikursi, Nathan malah ngintilin Embun yang lagi pesen es krim. Tanganya tak lepas dari tangan Embun, seolah takut istrinya hilang digondol orang.


Selesai pesan, keduanya duduk disalah satu meja. Diaaat itulah, mata Nathan tertuju pada sepasang abg yang lagi pacaran. Si cowok memegang tangan ceweknya yang ada diatas meja. Sedang sicewek, terlihat senyum senyum terus sambil menyuapi cowoknya.


"Liatin apa sih?" Embun mengikuti arah pandang Nathan. Dan saat itulah, dia paham kenapa suaminya senyum senyum sendiri.


"Asyik ya pacaran, dunia milik berdua," ujar Nathan dengan mata masih fokus pada mereka.


Mendengar nomornya dipanggil, Embun segera beranjak untuk mengambil es krim pesanannya. Dia geleng geleng melihat Nathan yang masih asyik memperhatikan sejoli tadi.


Embun mengambil sesendok es krim lalu menyodorkan kedepan mulut Nathan. "Biar gak iri sama mereka," ujar Embun sambil tersenyum.


Nathan membuka mulutnya lalu menerima suapan Embun. Dia sampai memejamkan mata dengan pundak terangkat keatas untuk menahan dingin dimulutnya.


"Dingin banget ya?" tanya Embun sambil tertawa cekikian melihat ekspresi Nathan.


"Banget Yang. Pokoknya nanti kamu harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab apaan?"


"Bikin aku anget sampai kepanasan."


Mata Embun langsung melotot, dia menengok kiri kanan, berharap semoga gak ada yang dengar ucapan Nathan barusan. Tapi dia harus menelan ludah saat 2 orang wanita yang duduk dimeja sebelah, menatapnya aneh. Astaga, mereka pasti dengar.


"Kak Nathan malu maluin aja," desis Embun sambil memelototi Nathan.


"Ngapain malu, orang kita pasangan halal. Yang belum aja, gak malu," dia menunjuk kearah sejoli tadi.

__ADS_1


"Gak usah nuduh dulu. Siapa tahu mereka juga udah halal."


"Aku yakin belum."


"Sok tahu."


Setelah es krim habis, mereka lanjut pulang. Mampir sebentar beli martabak untuk dibagikan pada saudara Embun.


Sesampainya didepan rumah Pak lik, tampak Adli yang sedang duduk dikursi teras dengan muka masam. Padahal dia udah rencana mau ngajak ceweknya jalan karena lagi banyak uang, eh....yang pinjam motor gak tahu diri. Pinjam mulai siang sampai larut malam baru dibalikin.


"Kok udah pulang jam segini? Kenapa gak sekalian tengah malem aja?" sindir Adli sambil memutar bola matanya malas.


"Mau nya sih gitu, tapi Kak Nathan capek katanya." Embun malah menanggapi dengan santai tanpa rasa bersalah, bikin Adli makin naik darah.


"Udah difull-in belum bensinnya?"


Embun seketika tepok jidat. "Sorry Dli, lupa ngisiin bensin."


Adli mengecek motornya, matanya melotot melihat bensin yang udah hampir habis. Seketika, dia langsung pengen ngereok. Ada gitu, orang pinjam motor seharian, tapi gak ngisiin bensin. Katanya bos?


"I-ini semua buat aku Mas?" Mulut Adli menganga melihat uang yang jumlahnya sejuta lebih.


"Buat beli bensin sama uang saku sekolah."


"Makasih, Mas." Adli sampai lompat kegirangan saking senengnya.


"Inget, belajar yang rajin, jangan pacaran mulu. Pacarannya nanti aja kalau udah halal." Nathan menepuk bahu Adli beberapa kali.


"Kelamaan kalau nunggu halal, aku kan masih kelas 2 SMA. Udah gak sabar pengen ngerasain kayak Mas Nathan dan Mbak Embun tadi siang." Nathan seketika melongo.


Saat Embun keluar dari rumah, Adli langsung memamerkan uang pemberian Nathan. Kipas kipas pakai uang tersebut sambil bersiul.


"Kamu ngasih dia uang Kak?" Nathan hanya menjawab dengan anggukan. "Banyak sekali," protes Embun. "Anak seusia dia, gak boleh pegang uang terlalu banyak."

__ADS_1


"Udahlah, gak setiap hari juga." Nathan merangkul bahu Embun lalu mengajaknya pulang kerumah.


...----------------...


Setelah membersihkan diri, Nathan langsung naik ketempat tidur, sementara Embun, dia masih sibuk pakai skincare. Padahal Nathan udah gak sabar, tapi yang ditunggu malah masih terlihat santai aja.


"Sini Yang," panggil Nathan sambil merentangkan lengannya.


"Bentar."


"Diapain lagi sih tuh wajah, orang udah cantik." Embun tersipu malu dikatain cantik.


"Beneran aku cantik Kak?"


"Iya, cantik, pakai banget malahan."


"Cantik mana sama Jihan?"


Nathan berdecak pelan, ngapain juga sih, pakai dibanding bandingkan. Cewek emang sukanya nyari penyakit. Entar kalau jawabannya kurang tepat, pasti ngamuk ngamuk.


"Kok diam, cantikan Jihan ya?"


"Gak usah banding bandingin diri sendiri. Yang namanya wanita itu ya semuanya cantik. Kalau ganteng laki-laki."


Embun bisa menarik kesimpulan dari jawaban Nathan barusan jika Jihan lebih cantik. Karena kalau cantikan dia, pasti Nathan jawabnya langsung, kalau muter kayak tadi, udah pasti hanya cara buat ngalihin jawaban.


"Sini Yang," Nathan kembali menepuk ranjang sebelahnya. Selesai memakai skincare, Embun menghampiri Nathan dan berbaring disebelahnya. Seperti orang yang udah gak sabar, Nathan langsung aja ngusel ngusel dada dan leher. Memberikan kecupan kecupan basah yang meninggalkan jejak merah. Tapi ada yang berbeda dari biasanya, Embun terlihat kurang menikmati. "Ada apa?" Embun hanya menjawab menggelengkan kepala.


Nathan menghela nafas berat. Dia yakin ini pasti gara-gara masalah cantik tadi. Yaelah, cewek emang ribet. Dia menarik telapak tangan Embun lalu meletakkan didadanya. "Andai saja kau bisa tahu apa yang ada disini Yang. Kau tidak akan lagi meragukan cintaku. Hanya ada satu wanita yang bertahta disini. Tapi sayangnya, dia sangat serakah, dia menguasai setiap bagian hatiku, tanpa menyisakan sedikit bagian saja untuk orang lain." Nathan lalu merengkuh bahu Embun dan menyandarkan kepala wanita itu didadanya.


"Aku benci Embun yang seperti ini," ujar Nathan sambil mengusap lembut kepala Embun. "Aku benci Embun yang tak percaya diri sekaligus menyakiti dirinya sendiri." Dia mengendorkan pelukannya lalu menatap kedua bola mata Embun. "Jangan sakiti hatimu sendiri dengan pikiran pikiran yang buruk. Aku tak rela Embunku sakit hati, apalagi itu karenaku." Nathan menyorokkan wajahnya diceruk leher Embun. "Aku sudah gila karena mencintaimu. Jadi please, jangan buat aku makin gila karena kau tak mempercayai cintaku."


"Bukannya tak percaya, tapi aku hanya takut. Kehilangan orang yang kita cintai begitu dalam itu sangat menyakitkan." Jujur saja, Embun masih tak bisa lupa dengan rasa sakit yang dulu ditorehkan oleh Rama. Dulu Rama juga sangat mencintainya, dan dia tak ragu sama sekali, tapi buktinya, Rama mencampakkannya.

__ADS_1


Nathan menyeka air mata yang membasahi pipi Embun. "Kau tidak akan pernah kehilanganku." Nathan memajukan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka lalu memagut mesra bibir Embun. "Jauh darimu sebentar saja, rasanya aku sudah hampir gila, mana mungkin kau akan kehilanganku."


__ADS_2