
Kedatangan Nathan bukannya membuat Embun senang, malah membuatnya sangat lelah. Tak hanya lelah karena terus terusan dihajar diatas ranjang, tapi juga lelah kerena antusias ibunya untuk menyambut sang menantu.
Sepulang dari pasar, Embun lanjut memasak bersama ibunya. Padahal udah ada ayam goreng dan oseng tempe, ehh si ibu masih ngajak masak rendang, capcay, acar dan bikin terong balado. Baru denger aja, kepala Embun sudah kliyengan.
"Rendangnya gak usah, Bu. Kak Nathan gak suka daging. "
"Kamu ini buat suami kok perhitungan. Kali aja kalau resep buatan Ibu, dia jadi mendadak suka daging. Udah ayo buruan, ntar suami kamu keburu bangun, udah jam 10 ini." Yaelah, enaknya jadi mantu laki-laki, jam 10 belum bangun, gak dapat omelan, tapi malah dimasakin yang enak-enak. Coba mantu perempuan jam 10 belum bangun dirumah mertua, gak jamin bibir mertua masih pada tempatnya, mungkin udah kemana-mana.
Bu Siti memang tipe mertua idaman, saat istri Fajar datang dan malas malasan dirumah, dia juga membiarkannya. Tapi malah Embun yang ngomel-ngomel.
"Hari itu, Nathan bawa banyak banget seserahan buat kamu. Datangnya mendadak, jadi ibu gak bisa nyambut. Hari ini, mumpung dia datang lagi, jadi ibu mau nyambut." Embun menghela nafas. Lebih baik dia manut saja, asal ibunya senang.
"Oh iya, mertua kamu baik kan Nduk?"
"Baik Bu," sahut Embun sambil mengingat mama Salma. Wanita itu sangat baik, tapi justru dia yang mengecewakannya.
"Syukur kalau gitu. Ibu selalu berusaha berbuat baik sama mantu, nganggep kayak anak sendiri, biar apa coba? Biar kamu sama Fajar, juga diperlakukan seperti itu sama mertua kalian. Ibu itu percaya hukum tabur tuai. Kalau kita baik, orang juga akan baik sama kita." Embun langsung memeluk ibunya dengan mata berkaca-kaca. Baru tahu alasan ibunya tak pernah marah-marah pada Nina, istri Fajar. Ternyata semua itu dia lakukan dengan harapan agar anak anaknya juga diperlakukan sangat baik oleh mertua mereka.
"Udah sana, kupas timun dan wortel lalu potong kecil-kecil. Habis itu biar semua ibu yang selesaiin," Embun sekatika bernafas lega. Akhirnya dia bisa istirahat setelah ini. "Kamu lanjut sikat kamar mandi." What! Embun langsung melongo. Ternyata masih ada tugas kenegaraan yang harus dia lakukan setelah ini. Alamat makin pegel-pegel badannya.
__ADS_1
Embun berdendang diiringi lagu dangdut yang terputar diponselnya sambil menyikat lantai kamar mandi. Dibikin happi aja meski seluruh badan rasanya remuk.
"Cie....istri bos nyikat wc nie yeee..." ledek Adli sambil tertawa cekikikan. Adli adalah sepupu Embun yang saat ini duduk dibangku kelas XI. Dia anaknya Paklik. Libur sekolah karena anak kelas XII sedang ujian.
Embun tiba-tiba terfikirkan sesuatu. Dia berdiri sambil tersenyum pada Adli.
"30 ribu?" Embun menaikkan sebelah alisnya.
"Ya elah, istri bos kekuatannya cuma 30 rebu," Adli tertawa mengejek. "300 rebu gimana?" Embun langsung membanting sikatnya sambil memelototi Adli.
"Heh 300 rebu udah bisa bayar orang buat bersih-bersih rumah seminggu. 50 ribu," dia kembali manawar.
"275."
"200 ribu, deal," Adli tersenyum penuh arti.
Embun membuang nafas berat. Mengambil kembali sikat yang tadi dia buang lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Adli berdecak pelan. Ternyata susah juga melobi kakak sepupunya itu. Terlalu perhitungan, padahal udah jadi istri bos. Dia mendekati Embun lalu merebut sikatnya. "Selesai kerjaan, langsung bayar," sewot Adli.
__ADS_1
"Iya," Embun menahan tawanya. Anak bau kencur, mau coba ngakalin dia, jangan mimpi.
Embun mencuci tangan lalu keluar dari kamar mandi. Jadi orang kaya emang enak, tinggal pakai uang, semua kelar. Dia berjalan menuju meja dapur. Mengambil air minum untuk membasuh tenggorokannya yang terasa kering.
Dia terkejut saat tiba-tiba, ada yang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Nathan.
"Kak, lepasin. Malu kalau ada yang lihat." Embun mencoba menguraikan pelukan Nathan, tapi pria itu sama sekali tak mau melepaskan pelukannya, yang ada, malah makin nyosor, nyium nyium leher dan tengkuk.
Embun melirik kearah kamar mandi. Bisa gawat kalau Adli tiba-tiba nongol. Belum lagi kalau ibunya masuk kedapur, mampus. "Kak, lepasin. Ini bukan dirumah kita." Tapi Nathan seolah tak mendengar, tetap saja asyik dengan aktifitasnya, memeluk sambil mencium leher dan tengkuk Embun. "Kak, lepas, aku mau ngaduk rendang. Ntar gosong dimarahin ibu."
"Ya udah aduk aja. Tangan kamu juga gak aku pegangin," jawab Nathan santai.
"Ya tapi lepasin dulu." Akhirnya Nathan mau melepaskan pelukannya, membiarkan Embun bergeser kedepan kompor untuk mengaduk rendang. Tapi beberapa saat kemudian, Nathan kembali memeluknya dari belakang dengan satu tangan, sedang tangan yang satunya, menggenggam tangan Embun yang sedang memegang spatula. Sepertinya, dia tak tahan sebentar saja gak nempel sama Embun.
"Aku bantuin ngaduk." Dia lalu menggerakkan tangan Embun. "Romantiskan kalau kayak gini? Dijamin rendangnya makin enak, karena ditambahin bumbu cinta." Embun langsung ngakak.
"Romantis darimananya coba? Romantis itu kalau Kakak bawain aku seribu tangkai bunga mawar."
"Itu bukan romantis tapi mubadzir. Romantis yang sesungguhnya itu." Nathan melepaskan tangan Embun dari spatula lalu membalikkan badannya. Dalam hitungan detik, bibir Nathan langsung maju mencium bibir Embun. Embun seketika melotot mendapatkan ciuman tiba tiba tersebut. Tanpa mereka sadari, ada anak dibawah umur yang sedang menyaksikannya.
__ADS_1
Begitu pagutan bibir terlepas, betapa kagetnya Embun saat menyadari jika Adli sedang menatapnya cengo. "Ka-kamu lihat tadi?" tanya Embun dengan muka merah padam.
Dengan ekspresi yang masih terbengong-bengong, Adil menganggukkan kepalanya. "Mataku ternoda."