Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
MARAH-MARAH


__ADS_3

Nathan gegas mencari Mamanya untuk mengambil ponsel. Dia harus segera menghubungi Embun untuk minta klarifikasi tentang si Johan ini. Nathan pikir Embun hanya punya 1 mantan saja, yakni Rama. Tapi ternyata dugaannya salah, masih ada Johan. Entah kapan pacarannya, mungkin SD atau SMP, karena setahu dia, sejak SMA, Embun pacaran dengan Rama.


"Ini ponsel kamu," belum juga bibirnya berucap minta, Mama Salma sudah menyodorkan ponsel miliknya. "Embun barusan telepon." Mata Nathan langsung melotot mendengar itu. "Dia minta izin mau pergi ke air terjun." Baru saja mata Nathan kembali normal, ehhh sudah melotot lagi.


"A-air terjun, sama siapa?"


"Teman katanya."


"Terus Mama larang dia?"


"Ya enggaklah, ngapain dilarang." Seketika tubuh Nathan terasa lemas. "Orang mau seneng-seneng sama teman kok dilarang. Kapan lagi coba bisa kayak gitu? Mumpung lagi pulang kampung dan belum punya anak, jadi biar dia puas puasin dulu main. Mam dulu ju___"


Nathan tak lagi fokus mendengarkan ucapan Mamanya, karena menurutnya, ada yang lebih penting dari itu, yakni menelepon Embun.


Tut...tut...tut..


Dilayar terlulis berdering, tapi belum juga diangkat. "Ayo Mbun, angkat teleponnya," gumam Nathan.


"Oh iya Mama lupa. Katanya dia motoran, jadi mungkin gak bisa angkat telepon saat diperjalanan."


"Diperjalanan," Nathan makin lemas lagi. Padahal baru saja dia mau melarang Embun pergi, eh...udah diperjalanan saja. Saat ini terbayang dibenaknya, Embun sedang diboncengan seorang pria. Kedua lengannya melingkar mesra dipinggang pria itu dan tubuh mereka saling berdempetan. "Tidak bisa dibiarkan."


...----------------...


Rama yang mencari keberadaan Navia, akhirnya menemukan wanita itu didalam kamar. Masih seperti tadi, asyik dengan ponsel, bahkan tak menggubris saat Rama masuk kedalam kamar. Jauh beda dengan Navia yang biasanya. Biasanya, saat dia masuk kamar, Navia akan langsung menghampiri dan bergelayut manja dilengannya. Berceloteh ini itu yang kadang membuat dia malas mendengar karena sama sekali tak penting. Tapi sekarang, mendadak dia rindu Navia yang seperti itu, Navia yang manja.


Didekatinya wanita yang sedang rebahan itu lalu dipelukanya. Diciuminya leher dan telinga Navia untuk membangkitkan gairah wanita itu. Karena sebenarnya, Rama sedang sangat ingin menyalurkan hasrat yang sudah beberapa hari ini tak tersalurkan.


"Mas, apaan sih?" Navia berusaha menjauhkan lehernya dari serbuan ciuman Rama. Tangannya berusaha melepaskan belitan tangan Rama dipinggangnya tapi tidak bisa.


"Aku pengen Yang," ujar Rama dengan suara serak. Nafasnya terdengar memburu, dia sungguh sudah tidak tahan. Napsunya sudah diubun-ubun.


"Aku capek," tolak Navia.


"Please," Rama memohon sambil menarik resleting gamis Navia. Bibirnya mencium bibir Navia dengan brutal. Tapi Navia sama sekali tak membalas, justru dia mendorong Rama hingga pagutan pria itu terlepas.


"Aku bilang capek," ujar Navia dengan suara tinggi. Sebenarnya bukan capek, entah kenapa, Navia mulai tak lagi bersemangat untuk melalukan itu dengan Rama. Dia takut Rama akan kembali mengulang kejadian malam itu. Navia tak mau, itu terlalu menyakitkan.


"Capek apa? Capek chattingan?" sindir Rama. Wajar pria itu terlihat memerah karena emosi. Gairahnya sudah ada diubun-ubun, tapi Navia menolaknya. Bukan hanya kali ini, tapi hampir tiap malam sejak kejadian salah sebut nama malam itu.

__ADS_1


"Aku lagi males berantem," Navia turun dari ranjang. Meletakkan ponselnya diatas nakas lalu mengambil baju ganti dialmari. Jika biasaya Navia akan ganti baju didepan Rama, sekarang wanita itu malah masuk kedalam kamar mandi untuk ganti baju.


Begitu Navia masuk kekamar mandi, Rama langsung menggunakan kesempatan itu untuk mengecek ponsel Navia. Dia mengumpat saat mendapati ponsel Navia terkunci. Sejak kapan dikunci? Bukankah sebelumnya ponsel mereka sama-sama tanpa kunci. Dan karena itulah, dulu Rama pakai 2 ponsel saat selingkuh dengan Embun.


"Kamu ngapain, Mas?" seru Navia saat memergoki Rama memegang ponselnya. Segera dia berjalan cepat dan merebut ponsel yang berada ditangan Rama.


"Kenapa dikunci?"


"Bukan urusan kamu," sahut Navia ketus.


"Kamu selingkuh?" tuduh Rama. Matanya menatap Navia tajam.


"Gak usah nuduh kalau gak ada bukti."


"Buka kunci ponsel kamu, biar aku cari bukti disana."


Navia tersenyum kecut. "Saat kamu selingkuh aja, aku bela kamu mati-matian. Tapi sekarang, kamu malah nuduh aku selingkuh, keterlaluan." Navia keluar kamar lalu membanting pintu dengan kasar. Dia berdiri didekat pintu, menyandarkan punggung didinding dan menangis.


Dia sadar jika menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain itu salah, apalagi orang tersebut adalah seorang laki-laki. Awalnya dia hanya ingin merasakan lega karena berbagi cerita, tapi tak hanya rasa lega yang dia dapat, makin kesini, dia malah makin merasa nyaman.


Kling


[ Besok aku manggung di Oceano cafe. Kalau kamu gak sibuk, datanglah kesana ]


"Navia."


Deg


Navia terjingkat kaget saat mendengar namanya dipanggil. Ternyata Nathan, dia pikir Rama.


"Kamu kenapa, kaget gitu dipanggil?"


"E-enggak papa Kak." Navia segera menghapus air matanya.


"Nangis? Ada masalah?"


"Eng-enggak kok." Navia ingin pergi dari sana tapi Nathan mencekal pergelangan tangannya.


"Cerita sama Kakak kalau ada masalah."

__ADS_1


"Gak ada kok, Kak." Navia melepaskan tangan Nathan lalu pergi darisana. Nathan memandangi punggung punggung Navia yang menuruni tangga. Adiknya itu sekarang sedikit berubah, yang dulunya apa-apa mengadu padanya, sekarang jadi sangat tertutup.


...----------------...


Selesai mandi diair terjun, Embun baru sempat mengecek ponselnya yang tersimpan didalam tas. Ada banyak sekali panggilan dan chat dari Nathan. Tanpa membaca 1 pun pesan, dia segera saja menelepon Nathan.


"Dimana kamu?" Embun menjauhkan ponsel dari telinga mendengar suara Nathan yang sangat keras, bahkan terkesan membentak.


"A-aku di_" Embun sampai gelagapan karena bingung kenapa Nathan membentaknya.


"Di air terjun?" potong Nathan.


"I-ya." Embun mengusap dadanya yang tiba-tiba deg degan. Ada apa dengan suaminya, biasanya selalu bicara lembut, tapi kenapa mendadak membentak bentak seperti ini.


"Kenapa gak minta izin dulu sama aku?"


"Aku sudah minta izin, kata Mama boleh."


"Suami kamu itu aku apa mama?" bentak Nathan. Embun tak kuasa menahan air matanya. Rasanya sakit sekali dibentak bentak seperti ini tanpa tahu apa salahnya. Padahal tadi dia sudah menelepon minta izin, tapi Mama Salma yang angkat. Dan mertuanya itu bilang gak papa, pergi saja, Nathan juga pasti ngizinin kok. Lalu dimana salahnya?


"Kak, bisa gak, gak usah ngebentak kalau ngomong?" suara Embun bergetar karena menahan isakan.


Nathan tediam mendengar nada suara Embun yang seperti sedang menangis. Apa dia sudah keterlaluan.


"Maaf jika aku salah," lirih Embun sambil terisak. Buru-buru dia menyeka air mata saat teman teman dan saudaranya mendekat.


"Telepon siapa Mbun, Mas Nathan ya?" tanya Ratih, sepupu Embun.


Mona yang iseng tiba-tiba merebut ponsel Embun. "Mas Nathan, kapan main ke Malang? Kita tungguin loh."


"Iya, main dong kesini,"


"Kesini Nathan,"


Orang-orang dibelakang Mona ikut menyahuti.


"Kakau aja Mas Nathan di Malang, pasti bisa ikutan kita ke air terjun, seru-seruan disini."


Nathan hanya terdiam mendengar banyaknya suara yang mangajak dia ngobrol. Ternyata Embun tak sedang berduaan dengan Johan.

__ADS_1


__ADS_2