
Dinar merasa ada yang aneh dengan Embun. Sejak masuk kedalam taksi, dia hanya diam. Tatapannya seperti menerawang jauh, matanya berkaca-kaca. Padahal tadi masih baik-baik saja, bahkan setelah menceboki muridnya yang ngompol, masih terlihat happy aja. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba berubah seperti ini?
"Ada apa Mbun?" Dinar menggenggam tangan Embun. "Kalau ada sesuatu, cerita sama aku."
Embun hanya diam, menatap jauh keluar mobil sambil bersandar dikaca jendela.
"Mbun, kamu bikin aku cemas tau gak?" gerutu Dinar.
"Hiks, hiks." Embun menutup matanya dengan telapak tangan. Tapi tetap tak bisa menyembunyikan air mata yang meleleh melewati pipinya.
"Mbun, kok malah nangis sih?" Dinar makin yakin jika telah terjadi sesuatu.
"Din, aku takut Din."
"Takut apa?" geram Dinar. "Yang ada justru aku yang takut. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba kamu kayak orang linglung gini."
Ada Din, ada badai yang besar, tapi aku gak bisa cerita sama kamu.
Sampai taksi yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah Embun, wanita itu belum juga cerita apapun pada Dinar.
"Aku anter sampai dalam ya, Mbun?"
"Gak usah Din," sahut Embun sambil menggeleng. "Makasih karena udah mau nganterin aku." Embun turun dari taksi. Berjalan lunglai memasuki rumah lalu naik kelantai atas menuju kamarnya.
Embun kembali membuka laptopnya. Mengecek data diri Nathan sekali lagi. Kenapa nama mama Nathan dikartu keluarga bukanlah Jihan. Disana tertulis jelas namanya Veronika. Apa mungkin Jihan memasukkan Nathan ke KK orang lain agar bisa mendapatkan akta kelahiran? Atau agar Nathan tidak tertulis hanya memiliki ibu di aktanya.
Merasakan kepalanya hampir pecah, Embun meletakkan kembali laptopnya diatas nakas. Berbaring sambil menangis hingga tertidur.
...----------------...
Dikantor, Nathan terus terusan menatap ponselnya. Ini sudah jam 5, tapi tak ada wa masuk dari Embun yang menanyakan kenapa dia belum pulang.
"Apa dia sedang menyiapkan kejutan untuk anniversary, hingga tak menanyakan kabarku sama sekali?" Nathan kelimpungan sendiri. Padahal sebenarnya dia yang mau ngasih kejutan. Pura-pura mendadak ada kerja diluar kota hingga tak bisa pulang. Padahal niatnya nanti pulang tepat jam 12 malam.
Dengan sabar, Nathan menunggu hingga jam 7 malam. Tetap sama, Embun tak menghubunginya.
__ADS_1
"Gimana Dim, Embun gak nanya ke kamu kenapa aku belum pulang?" tanya Nathan yang saat ini masih ada diruangannya bersama Dimas.
"Gak ada Pak. Bu Embun tidak menghubungi saya." Nathan kelimpungan, jalan mondar mandir kayak setrikaan. Bukankah hari itu Embun bilang menyimpan nomor Dimas untuk mencari tahu jika dia pulang telat. Tapi ini sudah sangat telat, tapi Embun tidak mengirim pesan padanya maupun Dimas.
"Apa mungkin Bu Embun tahu kalau Bapak mau nyiapin kejutan, makanya dia diem aja, udah bisa nebak."
"Iya juga sih," Nathan manggut-manggut. "Ya tapi masa suami jam segini belum pulang, dia santai aja, gak cemas gitu?"
"Dari pada Bapak bingung kayak gini, mending pulang aja deh. Lagian saya juga harus pulang Pak. Cindy udah nanyain terus kapan saya pulang," gerutu Dimas. Capek juga dia jam segini belum pulang.
"Astaga, kenapa malah Cindy yang sibuk nanya, padahalkan targetnya Embun." Dimas hanya mengedikkan bahu, mana tahu dia.
Disaat Nathan masih bingung, dirumah Embun baru bangun. Dia kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Kenapa Nathan tidak membangunkannya? Apa jangan-jangan Nathan belum pulang.
Embun mengambil ponselnya, tak ada pesan masuk dari Nathan. Dia lalu turun kebawah untuk melihat apakah Nathan sudah pulang atau belum. Saat menuruni tangga, dia berpapasan dengan Bi Lasih.
"Baru saja saya mau ke kamar Non Embun. Mau manggil buat makan malam."
"Kak Nathan udah pulang, Bi?"
"Belum Non."
"Oh iya Non, tadi ada kurir yang nganterin kue, katanya pesenan Non Embun." Beberapa hari yang lalu, Embun memesan kue untuk anniversary pernikahannya.
Embun melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Menuju meja makan untuk melihat kue pesanannya.
Mata Embun berkaca-kaca melihat kue bertuliskan happy anniversary. Dadanya terasa sesak, dan air matanya luruh tatkala mengingat ucapan Nathan kecil tadi siang.
Ayahku sudah meninggal sejak aku bayi. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya.
Mungkinkah jika ayahnya adalah Nathan? Dan Jihan hanya berbohong dengan mengatakan jika ayahnya sudah meninggal.
Embun duduk dikursi makan sambil menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. Rasanya seperti dihimpit dua batu yang sangat besar. Air matanya mengalir, deras dan makin deras.
"Non Embun kenapa?" tanya Bi Lasih yang bingung melihat majikannya menangis. Dia mendekati Embun dan langsung saja Embun yang sedang duduk, memeluk pinggang Bi Lasih yang berdiri disebelahnya.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu sama Mas Nathan?" Bi Lasih mendadak cemas. Apalagi Nathan belum pulang hingga jam segini. Embun tak menjawab apapun, hanya menangis sambil mengeratkan pelukannya.
Setelah cukup lama menangis, Embun melepaskan pelukannya.
"Non Embun mau makan, biar saya bantu ambilkan?" Embun hanya menjawab dengan gelengan kepala. Dia lalu bangkit dan kembali menuju kamar.
Dikantor, Nathan tak tahan lagi. Akhirnya jam 9 dia menutuskan untuk pulang, padahal niatnya mau tiba-tiba datang pas jam 12 malam. Tapi semua rencananya gagal karena Embun tak masuk dalam jebakannya. Istrinya itu bahkan tak menanyakan kenapa dia belum pulang.
Sesampainya dirumah, Nathan yang baru masuk langsung disamperin Bi Lasih.
"Akhirnya Mas Nathan pulang," Bi Lasih terlihat sangat lega.
"Emangnya kenapa Bi?"
"Non Embun seharian ini hanya dikamar. Keluar sebentar, bukannya makan atau apa, malah nangis."
"Nangis, Embun nangis?" Nathan tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamarnya. Dan seperti yang dibilang Bi Lasih, Embun meringkuk diatas ranjang didalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur. Bahunya terlihat naik turun, seperti sedang menangis.
Embun sebenarnya tahu Nathan pulang, tapi dia tetap diam saja, tak segera bangun apalagi menyambut.
Nathan menghampiri Embun lalu duduk disisi Ranjang. "Kamu kenapa?" Dia membalikkan tubuh Embun agar bisa melihat wajahnya. Dan benar saja, mata Embun terlihat bengkat. "Kamu nangis sayang? Ada apa?" Nathan semakin cemas.
Embun bangun, duduk sambil menyeka air matanya.
"Ada apa sayang, cerita kalau ada apa apa, jangan bikin aku panik?" Nathan meraih tangan Embun lalu menggenggamnya.
Embun menatap Nathan yang duduk disebelahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bilang kalau kamu nangis kayak gini, gara-gara anak? Aku mohon jangan seperti ini. Jika sudah waktunya, kamu pasti hamil." Nathan mengira jika Embun menangis gara-gara tak kunjung hamil.
"Kak." Embun menatap Nathan tajam.
"Iya, ada apa?" Nathan membelai pipi Embun. Menyeka sisa air mata yang masih tertinggal.
"Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur."
__ADS_1
"Apa?"
"Seberapa jauh hubunganmu dulu dengan Jihan?"