
Pagi ini, Nathan dan Embun sudah ada dirumah sakit. Duduk dikursi tunggu depan ruangan dokter kandungan. Pikiran mereka sama-sama, menerawang jauh, menduga-duga seperti apa nanti saran dokter.
Saat nama Embun dipanggil, Nathan segera menuntunnya masuk kedalam ruangan Dokter Indah.
"Selamat pagi, Bu Embun." Sapa Dokter Indah sambil menyunggingkan senyuman yang sangat manis. Baru 2 hari yang lalu Embun dan Nathan datang, pagi ini, mereka sudah kembali datang. "Apa sudah ada tanda-tanda mau melahirkan?"
Embun menggeleng lemah. Wajah cemasnya membuat Dokter Indah segera menyuruhnya naik keatas brankar untuk melakukan pemeriksaan USG.
"Kita tengok ya dedek bayinya. Kenapa belum mau keluar juga sih sayang?" Setelah memberi gel dipermukaan perut Embun, Dokter Indah menempelkan transducer dan menggerakkannya.
"Apa ada masalah, Dok?" tanya Nathan. Matanya terus menatap layar monitor meski tak paham apa yang ada disana.
"Air ketubannya tinggal sedikit."
"Langsung di caesar saja, Dok," ujar Nathan tanpa minta persetujuan Embun dulu. Dia tak mau menunggu lagi. Lebih cepat lahir lebih baik, daripada dia cemas terus-terusan seperti ini.
"Apa bahaya jika masih menunggu 1 atau 2 hari lagi, Dok?" tanya Embun.
"Sayang," tekan Nathan sambil menatap Embun tajam. Saat ini, dia tak mau dinego lagi. Keputusannya sudah bulat, yaitu caesar.
"Sebenarnya masih aman menunggu 1 atau 2 hari lagi. Tapi keputusan tetap kami serahkan pada kalian."
"Saya mau di caesar hari ini juga, Dok." Nathan melihat kearah Embun, wanita itu tak lagi menyuarakan keberatannya. Sepertinya kali ini, dia lumayan takut juga dengan Nathan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu yang Bapak mau. Tapi hari ini, saya tidak bisa. Apakah tidak masalah jika Dokter lain yang melakukan operasi? Jangan khawatir, Dokternya sudah sangat kompeten."
"Baiklah saya setuju," ujar Nathan sambil menggenggam tangan Embun.
Setelah semuanya diurus, Embun masih harus menunggu di ruang rawat inap. Dia mendapatkan jadwal operasi nanti malam. Nathan sudah menghubungi Dimas, menyuruhnya menggantikan semua pekerjaannya. Dia juga menyuruh supir kantor untuk menjemput Bu Siti dirumah dan diantar ke rumah sakit.
"Gak usah takut." Nathan yang duduk dikursi samping brankar, menggenggam tangan Embun. "Aku bakal nemenin kamu didalam nantinya."
Embun hanya merespon dengan anggukan. Saat ini, pikirannya campur aduk. Kalau dibilang takut, tidak terlalu juga. Tapi jika dibilang tidak takut, lumayan takut juga. Selama hamil, dia rutin ikut senam hamil, jalan-jalan pagi, serta latihan pernapasan. Tapi semua diluar perkiraan, dia malah lahiran caesar.
Bu Siti datang dengan membawa koper yang berisi pakaian Embun dan perlengkapan bayi. Jauh-jauh hari, Embun memang sudah mempersiapkan apa saja yang nantinya akan dia bawa.
Sebelum dibawa keruang operasi, Bu Siti mencium kening dan pipi Embun sambil mendoakannya. Air matanya menetes, perasaannya tak karuan. Meski kemarin dia juga ikut menyarankan caesar, tapi melihat Embun yang didorong keruangan operasi, perasaannya cemas itu masih dominasi hatinya.
Bu Siti menunggu didepan ruang operasi seorang diri, sementara Nathan ikut masuk kedalam.
"Jangan takut, ada aku." Embun hanya menanggapi dengan anggukan.
Tubuh Nathan mulai gemetaran saat Dokter memulai operasi. Tak hanya itu, jantungnya berdegup sangat cepat dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Oek oek oek
Kaki Nathan terasa lemas, hampir saja dia jatuh saat mendengar suara bayinya. Rasanya masih seperti mimpi. Saat ini, dia sudah bergelar ayah.
__ADS_1
"Anak kita sudah lahir Sayang." Nathan mengecup kening Embun lama sambil meneteskan air mata.
Embun yang merasa tubuhnya lemas dan mengantuk, hanya merespon dengan anggukan. Meskipun begitu, bisa mendengar suara tangis anaknya.
Setelah proses operasi selesai, Embun dibawa kembali keruang rawat untuk menjalani masa pemulihan. Begitupun dengan bayi laki-laki tampan yang baru dilahirkan Embun. Setelah dibersihkan, dia dibawa keruangan Embun untuk diadzani dan melakukan proses inisiasi menyusui dini.
Nathan tak kuasa menahan air matanya saat melantunkan adzan dan ikomah ditelinga putranya. Kebahagiannya dengan Embun, semakin lengkap dengan kehadiran bayi mungil mereka.
Keesokan harinya, Mama Salma datang kerumah sakit untuk menjenguk cucunya. Saat ini, dia sudah mulai lancar berbicara, dan salah satu tangannya sudah bisa digerakkan. Dia sangat bahagia karena diwaktu yang hampir berdekatan, mendapatkan 2 cucu sekaligus.
"Masyaallah, cucu nenek tampan sekali. Mirip Embun," ujarnya sambil melihat kearah Embun. Sayang sekali dia tak bisa menggendong, hanya bisa melihat bayi tampan itu yang sedang tertidur didalam box.
"Masak sih, Mah? Perasaan mirip Nathan deh," protes Nathan. Dia memperhatikan hidung, mata serta bibir putranya, semuanya memang mirip Embun, gak ada dianya sama sekali.
"Udah kamu kasih nama belum?"
Nathan menoleh kearah Embun yang sedang berbaring diranjang. "Jadi siapa nih namanya, Yang?"
"Aku sih terserah kamu, Mas."
"Lhah," Nathan langsung nyengir. "Aku kan belum siapin nama."
"9 bulan kalian kemana aja, sampai belum mikir nama?" Mama Salma sampai heran. Padahal biasanya, anak pertama itu, paling antusias nyari nama. Lha mereka berdua, ngapain aja selama ini, sampai anak udah lahir, belum ada persiapan nama.
__ADS_1
"Kemana-mana Mah, tuh tanya sama mantu Mama," Nathan menunjuk Embun. Yang ditunjuk langsung melihat kearah lain, pura-pura tidak tahu. "Kemana aja kami 9 bulan ini? Sampai gak pernah nginjek lantai rumah kayaknya, minta jalan mulu."
Mama Salma langsung terkekeh. "Udah-udah, jangan dimarahin, dia baru lahiran. Mending kalian segera nyari nama. Biar nanti pas acara aqiqah, udah ada namanya. Oh iya, Navia sudah cerita belum, dia minta acara aqiqahnya digabungin, bikin acaranya dirumah."