Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
APAKAH DIA BISA MENCINTAINYA SEPERTI AKU?


__ADS_3

Didepan UGD, Embun sama sekali tak melepaskan lengan Nathan. Dia tahu saat ini suaminya itu masih belum stabil emosinya. Sejak tadi melirik Navia dengan tatapan tajam. Sedangkan Navia, dia duduk disebuah kursi panjang bersebalahan dengan Rama. Tak terdengar sepatah katapun dari bibir keduanya selain isakan Navia.


Rama memejamkan mata sambil menyandarkan punggung dikursi. Mengabaikan sakit diwajah dan badan akibat perkelahiannya tadi. Andai sjaa dia menuruti kata Embun tadi, pasti semua tak seperti ini. Sekarang, masalah rumah tangganya jadi konsumsi publik. Pasti banyak yang akan menghubungkan ini dengan kasus perselingkuhannya dulu. Orang-orang pasti akan menganggap ini adalah karma yang setimpal untuknya. Astaga, rumah tangga macam apa yang sedang dia jalani ini. Dan sekarang, mertuanya sedang tak sadarkan diri dan dalam penanganan dokter.


"Bagaimana kondisi Mama saya Dok?" tanya Nathan saat melihat seorang berjas putih keluar dari UGD.


"Kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi, termasuk melakukan rontgen dikepala untuk mengetahui apakah ada penyumbatan diotak atau pembuluh darah yang pecah."


Nathan menghela nafas berat. Semoga saja tak terjadi sesuatu yang buruk. Sebelah tubuh mamanya sudah sulit digerakkan, semoga saja nanti tak makin parah.


"Tekakan darah Bu Salma sangat tinggi."


"Apa ini akan memperburuk kondisi strokenya Dok?"


"Kita lihat saja nanti, semoga saja tidak. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat."


Embun mengurusi administrasi, sementara mereka bertiga mengikuti suster yang membawa Mama Salma keruang rawat. Mama Salma masih belum sadar karena pengaruh obat.


"Udah puas kamu sekarang?" geram Nathan. Dia menatap Navia tajam, tapi yang ditatap hanya menunduk, tak berani balik menatap balik. "Apa yang ada diotakmu, Navia? Aku sangat malu dengan kelakuanmu."


Melihat Nathan yang berhadapan dengan Navia, Embun yang baru masuk keruangan langsung menarik Nathan menjauh. "Kak, ini rumah sakit."


"Tapi dia udah keterlaluan, gak ada otak. Apa dia tak malu pada perutnya. Aku sebagai kakak saja, sangat malu."


Embun membuang nafas berat. Dia membuka kresek yang dia bawa lalu mengeluarkan 1 cup susu hangat lalu dia berikan pada Navia. Melihat Navia yang tak kunjung menerima, Nathan jadi geram.

__ADS_1


"Ambil," geramnya sambil menatap Navia tajam. Dengan tangan gemetaran, Navia meraih susu yang disodorkan Embun.


Embun mengambil 1 cup kopi lalu menyodorkan pada Rama, dan seketika, Nathan langsung berdecak pelan.


"Makasih," ujar Rama sembari menerima kopi tersebut.


"Kita keluar sebentar," ajak Embun. Nathan mengangguk lalu keduanya keluar ruangan. Berjalan menuju kursi panjang yang tak jauh dari ruangan Mama Salma lalu duduk disana. Embun mengeluarkan 1 cup kopi yang tersisa dikantong kresek lalu menyerahkan pada Nathan.


"Hanya 1?"


"Biar romantis," sahut Embun sambil tersenyum.


Nathan tersenyum, menyeruput kopi hangat tersebut lalu memberikannya pada Embun agar gantian minum. Nathan menyandarkan kepalanya dibahu Embun, air mata yang dia tahan sejak tadi, akhirnya lolos. "Aku takut Sayang, aku takut Mama kenapa-napa."


Embun meletakkan kopi disebelahnya lalu menggenggam tangan Nathan. "Mama pasti baik-baik saja."


Embun ikut menangis karena terbawa suasana. Nathan hanya tinggal mempunyai mama, jadi wajar jika dia sekhawatir ini. Diapun, kalau hal serupa terjadi pada ibunya, dia tentu juga akan seperti Nathan.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Mama, Kak."


"Kau tahu Sayang, dulu aku dan Mama sempat tak setuju Navia menikah dengan Rama. Navia masih terlalu muda dan labil. Dan satu hal lagi yang tak aku sukai dari dia. Setiap kali jatuh cinta, dia akan bucin. Kau masih ingatkan, seperti apa dia membela Rama mati-matian kala itu? Ya, seperti itulah Navia saat jatuh cinta. Dan sekarang, dia sedang jatuh cinta pada pria tadi. Navia belum dewasa, bahkan saat dia akan menjadi ibu." Rasanya kepala Nathan mau pecah kalau memikirkan tentang adiknya itu.


"Dulu karena bucin sama Rama, dia ngebet minta nikah. Semoga saja sekarang tak tak ngebet minta cerai karena bucin pada pria tadi."


"Semoga saja tidak. Kasihan anaknya nanti kalau saat dia lahir, orang tuanya sudah berpisah. Apa Kakak ingin menginap disini malam ini? Kalau iya, aku akan pulang sebentar untuk mengambil baju dan lainnya." Nathan hanya menjawab dengan anggukan. Saat ini, dia tak mau jauh dari mamanya. Dia ingin tahu perkembangan kesehatan mamanya. Semoga saja tak seperti yang dia bayangkan.

__ADS_1


...----------------...


Sementara didalam ruangan, Rama melepas jasnya lalu memakaikan pada Navia yang terlihat kedinginan.


"Kau tak perlu sebaik ini padaku," ujar Navia dengan tatapan yang lurus kedepan, sama sekali tak melihat Rama. Dia hendak melepas jas tersebut tapi Rama menahannya.


"Jangan egois, pikirkan dia," Rama mengusap perut buncit Navia.


Navia menoleh kearah Rama dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin bercerai, Mas."


Rama tersenyum getir. Dulu saat dia yang selingkuh, jangankan minta cerai, Navia malah terus membelanya. Tapi sekarang, saat Navia yang selingkuh, wanita itu justru minta cerai.


"Secinta itukah kau pada pria itu?" Hati Rama seperti disayat-sayat, sakit sekali.


"Aku mencintainya, dan yang penting, dia juga mencintaiku." Lagi-lagi Rama tersenyum getir, tapi kali ini, senyuman yang disertai dengan lelehan air mata.


"Ya, mungkin dia memang mencintaimu. Tapi apakah dia mau menerima yang didalam sini?" Rama kembali meletakkan telapak tangannya diatas perut Navia.


"Ya, dia mau menerima anak ini," sahut Navia yakin.


"Baiklah, jadi dia mau menerima, aku salut padanya. Tapi apakah dia bisa mencintainya seperti cintaku? Cinta seoarang ayah kandung kepada putranya?" Rama menyeka air mata yang terus mengalir tanpa henti. Membayangkan anaknya akan tumbuh didampingi ayah tiri, rasanya dia tak rela. "Tolong pikirkan lagi keputusanmu."


"Mempertahankan hubungan tanpa cinta itu tidaklah mudah, Mas. Kita berdua tak saling mencintai, lalu untuk apa bersama." Rama menggeleng cepat. Itu tidak benar, dia mencintai Navia. Buktinya hatinya sakit saat ini, dan dia juga takut kehilangan Navia. "Anak ini juga tak akan bahagia tumbuh dalam keluarga toxic. Dimana kedua orang tuanya tak saling cinta dan hanya memaksakan diri bersama."


Rama meraih tangan Navia lalu menggenggamnya. "Aku mencintaimu Navia."

__ADS_1


"Kamu tidak mencintaiku Mas. Yang kau cintai Embun."


"Benar, tapi itu dulu. Sekarang, yang aku cintai adalah kamu. Lupakan pria itu, kita perbaiki hubungan kita. Kita mulai lagi semua dari awal." Rama tak ingin saat anaknya lahir, orang tuanya malah pisah. Dia rela mengesampingkan ego dan harga diri demi putranya.


__ADS_2