Mendadak Jadi Istri BOS

Mendadak Jadi Istri BOS
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Nathan mengantarkan Embun ke bandara pagi ini. Jangan dibilang ini mudah, berat banget, karena ditinggal pas sayang-sayangnya. Tapi dia tak mau dianggap suami egois. Selain itu, kebahagiaan Embun adalah yang utama baginya.


"Kak, kayaknya aku udah harus masuk deh," Embun menatap tangannya yang ada dalam genggaman Nathan. Sudah terdengar suara panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Malang.


"Gak bisa nanti dulu apa?" Nathan masih enggan melepaskan genggaman tangannya.


"Aku bisa ketinggalan pesawat kalau dipegangin gini terus."


"Bagus dong, biar gak jadi pulang." Embun langsung melotot mendengar itu.


"Aku itu sebenarnya dizinin pulang kampung gak sih?" Embun menghela nafas berat. Greget sama Nathan yang kayaknya mempersulit kepulangannya.


"Iya, iya, maaf." Nathan kemudian melepaskan tangan Embun. Tapi raut wajahnya yang mirip bocil mau ditinggal ibunya pergi jadi bikin Embun tak bisa menahan tawa.


"Aku itu cuma seminggu. Lagian kita bukan hidup dijaman purba, kalau kangen tinggal telefon, vc atau kirim chat." Embun lalu memeluk Nathan. "Aku pergi dulu ya."


"Hati-hati, telepon kalau sudah sampai. I really love you." Nathan melepaskan pelukan Embun lalu mengecup keningnya. Kecupan perpisahan karena setelah itu Embun masuk keruang tunggu setelah mengucap I love you too.


Embun tak sabar ingin segera sampai kampung halaman. Dia rindu sekali dengan ibunya.


...----------------...


Sesampainya di bandara Abdul Rachman Saleh, Embun dijemput oleh Pak lik dengan mobil bututnya. Mobil yang dulu paling bagus sekampung, sekarang jadi paling jelek karena tetangga udah punya yang lebih bagus.


"Gak enak ya rasanya? Kamu kan terbiasa naik mobil mewah," seloroh Pak lik.


"Tetap mobil ini yang ternyaman," sahut Embun sambil memperhatikan jalanan kota Malang sudah sudah lama tidak dia lewati. Tempat dia lahir sekaligus tumbuh dewasa itu memamg tak ada duanya, tetap menjadi kota favoritnya sepanjang masa. "Rasanya langsung adem Pak lik, beda ama Jakarta."


"Nathan kenapa gak ikut, kalian gak lagi sedang ada masalahkan?"


"Ya enggaklah, orang dia tadi yang nganter Embun sampai bandara."


Pak lik merasa lega mendengarnya. "Pak lik sempat kaget hari itu nduk, saat tahu jika Nathan itu kakak iparnya Rama. Jodoh emang gak ada yang tahu, kamu dan Rama pacaran bertahun-tahun tapi gak nikah, dan sekarang malah jadi ipar."

__ADS_1


Embun tersenyum getir jika ingat Rama. Apalagi saat ingat seperti apa dulu dia dan Rama saat bucin. Tapi endingnya, 10 tahun jagain jodoh orang.


Sesampainya dirumah, Embun langsung disambut ibunya dengan pelukan. Padahal belum 1 tahun Embun di Jakarta, tapi rasanya sudah seperti puluhan tahun tak bertemu. Embun sampai menitikkan air mata melihat tubuh ibunya yang tampak lebih kurus daripada saat dia pergi dulu.


Pak lik menurunkan 2 buah koper dari bagasi mobilnya. Embun memang membawa banyak sekali oleh-oleh.


"Opo ae sing kamu bawa ini Mbun, banyak banget," ujar Pak lik sambil menyeret kedua koper besar itu masuk kedalam rumah.


"Itu semua oleh-oleh dari Kak Nathan Pak lik. Dia gak bisa ikut, jadi nitip buat keluarga disini." Sebenarnya itu dari Embun semua, bukan Nathan. Suaminya itu malah melarang dia membawa apapun selain barang pribadi karena takut dia kerepotan. Urusan oleh-oleh, bisa diganti dengan uang saja, itu menurut Nathan, tapi tidak berlaku untuk Embun. Menurutnya kurang afdhol jika pulang kampung tak bawa oleh-oleh, apalagi tetangga pada tahu jika suaminya bos. Bukannya mau pamer, Embun hanya ingin menjaga nama baik Nathan. Apakata orang nanti jika istri bos pulang gak bawa apa-apa.


"Wah, Embun pulang nih," Bu Ari, tetanga sebelah langsung ikutan datang menyambut Embun, begitupun dengan tetangga depan rumah dan beberapa orang yang kebetulan lewat. Alibinya sih, nanya kabar, tapi tak tahu apa niat yang sesungguhnya.


Setelah masuk kedalam rumah, Ibu mengambilkan segelas teh hangat yang sudah dia siapkan sebelum Embun datang tadi. "Minum dulu Nduk, habis itu istirahat, pasti capek. Jakarta - Malang itu jauh."


"Ya gak jauh lah Bu Siti, kan naik pesawat," sahut Bu Ninik. "Eh Mbun, kok suami kamu gak ikut?"


"Dia sibuk kerja, namanya juga bos," sahut Pak lik.


"Namanya juga istri bos, kerjaannya cuma shopping dan perawatan, ya pasti makin glowing," sahut Bu Ninik. "Emang kayak kita, bulan ini beli skincare, bulan depan gak ada duit mau beli lagi, balik kusem lagi deh." Ucapan Bu Ninik langsung disambut tawa oleh lainnya.


"Eh, ngomong-ngomong, udah isi belum Mbun?" tanya Bu Ari. "Kan udah 2 bulan lebih nikahnya. Tuh si Lila, baru nikah sebulan lebih udah isi."


"Belum Bu," sahut Embun sambil tersenyum. Mulai bikin aja baru beberapa hari yang lalu, mana mungkin sekarang udah jadi, batinnya.


"Kamu tunda ya?"


"Enggak kok."


"Waduh, semoga saja kamu gak kayak Ratih, sepupumu yang gak hamil-hamil itu. Terus si Joko, dia juga belum punya anakkan. Keluarga kamu banyak yang gak bisa punya anak, semoga saja kamu gak sama kayak mereka."


Deg, apa maksud kalimat tadi? Apa dia dituduh mandul? Raut wajah Embun seketika berubah, bagitupun dengan Bu Siti dan Pak lik, mereka ikutan geram.


"Anak itu rezeki, jadi terserah Gusti Allah mau ngasihnya kapan," Bu Siti berusaha membesarkan hati Embun. "Kalau belum rezeki, mau dikejar gimanapun ya gak dapat."

__ADS_1


"Kayak Bu Ari ini, suaminya mau kerja di Malaysia, eh taunya kena tipu," Pak lik ikut menyahuti. "Itu namanya belum rezeki. Seperti itulah makna rezeki, Allah paling tahu kapan waktu yang tepat untuk ngasih rezeki pada hambanya,"


Mendengar itu, wajah Bu Ari jadi merah padam. Dia tak berfikir jika Pak lik akan membahas masalah keluarganya saat ini.


"Mbun, kamu bawa oleh-oleh buat tetangga gak?" tanya Pak lik. "Kalau ada, buruan kasih, habis itu kamu istirahat." Sinis Pak lik sambil melirik tajam tetangga yang menyebalkan itu.


Embun membuka koper besar khusus oleh-oleh. Dia membagikan beberapa makanan dan souvenir khas Jakarta pada mereka. Terlihat raut penuh kegembiraan diwajah mereka. Bahkan tak segan untuk memuji Embun maupun Nathan. Entah itu tulus, atau hanya menjilat.


Setelah mereka pulang, Embun bisa bernafas lega. "Heran ya Bu, sama orang. Belum nikah, ditanya terus kapan nikah. Udah nikah, ditanya kapan punya anak."


"Entar kalau udah punya anak, pasti ditanya kapan nambah," Pak lik menyahut cepat.


"Ya begitulah orang. Kita hanya bisa ngambil pelajaran saja. Gak enakkan ditanya seperti itu? Jadi lain kali, jangan pernah bertanya seperti itu pada orang," Bu Siti mengingatkan dan langsung diangguki oleh Embun.


Ponsel ditas Embun berdering, segera dia mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang telepon. Bibirnya melengkung keatas melihat nama Mas suami dilayar ponsel.


"Hallo Kak,"


"Udah nyampek?"


"Udah."


"Kok gak ngabarin kalau udah nyampek."


"Hehehe, iya maaf, lupa."


Terdengar Nathan menghela nafas berat diseberang sana. "Baru nyampek aja, udah lupa sama aku. Gimana nanti?"


"Gak lupa Mas suami sayang, cuma belum sempet aja."


"Aku kangen."


Embun langsung tegelak. Baru beberapa jam, tapi udah kangen aja.

__ADS_1


__ADS_2