
"Bagaimana, sayang? Apa kamu sudah mengambil keputusan?" Tanya Bumi saat ia menemui Bulan di kamarnya.
Bulan tampak menunduk, ia lalu menggeleng, "Pa, apa aku boleh bekerja? Aku janji gak akan ganggu waktu sekolah. Kalau aku pindah sekolah, pasti gak bisa. Beberapa bulan lagi ujian, biasanya susah menerima siswa pindahan. Uang hasil aku kerja bisa untuk biasa sekolah. Papa hanya tinggal mikirin buat bekal kita sehari-hari, boleh ya pa?"
Bumi menghela nafas panjang, benar yang di katakan Bulan, pasti sulit mencari sekolah yang mau menerima siswa pindahan saat waktu ujian sudah dekat. "Tapi mau kerja apa, nak? Mencari pekerjaan itu gak gampang.."
"Papa tenang aja, temen-temen aku banyak yang punya cafe. Aku bisa kerja paruh waktu di cafe. Boleh ya pa?"
Bumi menatap Bulan dengan sendu, mana tega ia membiarkan putri kesayangannya itu lelah bekerja. Biasanya Bulan di perlakukan bak seorang putri, apapun keinginan gadis itu selalu di dapat dengan mudah, apa ia akan sanggup membiarkan Bulan susah mencari uang di usianya yang masih muda?
"Tapi, nak.."
"Pa, papa gak usah cemas. Aku putri ayah yang kuat, buktinya aku bisa bertahan tanpa mama. Biarkan aku membantu papa kali iniii aja pa, aku janji aku akan lulus dengan nilai yang bagus."
Bumi menangkup pipi Bulan dengan lembut, lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang. Sejak Bunga meninggal 10 tahun lalu, sejak saat itu juga lah Bulan berusaha kuat demi sang papa yang saat itu nyaris depresi karena kehilangan istrinya. Padahal Bulan baru berusia 8 tahun, tapi Bulan kecil bisa bertahan dan membuat sang papa bisa kembali bangkit.
"Papa sayang Bulan, papa janji akan mengembalikan semua yang sudah mereka rampas dari kita. Papa akan berjuang demi kamu, terima kasih sayang.."
Bulan mengangguk, lalu berhambur memeluk sang papa. Mereka menangis dalam diam, sesungguhnya mereka hanya berusaha kuat dan terlihat baik-baik saja. Di balik raga kuat itu, ada sisi rapuh yang tak bisa mereka ungkapkan.
Dalam sekejap apa yang mereka miliki berpindah tangan karena kecurangan seseorang. Perusahaan yang di rintis oleh Bumi dari nol harus ia relakan karena keteledorannya sendiri.
Semua itu berakibat pada semua aset yang ia miliki. Dari mulai perusahaan, rumah, mobil, beberapa tanah bahkan rekening perusahaan di bekukan. Beruntung semua karyawan tak ada yang menuntut karena pemilik baru perusahaan itu membayar mereka tepat waktu.
Hanya tinggal tabungan milik pribadinya yang sudah berkurang karena ia membeli rumah sederhana untuk mereka tingga, juga motor matic untuk Bumi pergi ke toko material yang ia beli kemarin. Bahkan toko itu belum siap beroperasi karena masih banyak barang-barang yang belum tersedia.
Sisa tabungan itu harus cukup sampai keuangan mereka sedikit stabil meski pendapatannya tak akan sebesar dulu. Akhirnya sekolah Bulan yang nyaris terancam karena biaya di sekolah internasional itu membutuhkan biaya yang besar.
***
__ADS_1
"Kok bengong? Nih ada roti, gue liat Lo gak ke kantin," Angkasa duduk di sebelah Bulan. Mereka ada di taman belakang sekolah yang mulai kemarin menjadi tempat favorit Bulan untuk menyendiri.
"Kenapa repot-repot? Aku bisa beli sendiri. Cici gak masuk, aku males ke kantin sendirian," ucap Bulan.
"Gak repot kok, nih makan." Angkasa kembali menyodorkan sebungkus roti isi coklat ke hadapan Bulan, gadis itu tersenyum lalu menerimanya.
"Makasih.."
Angkasa mengangguk, ia menyimpan sebotol air mineral di samping Bulan. "Gue lihat-lihat Lo udah mulai deket sama Bintang, tadi pagi dia ke kelas Lo kan?"
Bulan mengangguk, "Minta sarapan dia, katanya gak sarapan di rumah."
"Modus, mami Ji pasti udah nyuruh dia makan. Tapi Lo seneng kan? Itu kan yang Lo mau dari dulu?"
Bulan menelan roti yang sudah ia kunyah dengan lembut tapi masih terasa sulit untuk ia telan, "Aku justru bingung, Sa."
"Lah, kenapa?"
"Aku udah mutusin buat fokus sekolah, ujian udah deket. Kaya yang Bintang mau. Tapi saat aku mutusin itu, Bintang justru berubah. Dia yang biasanya acuh, malah ramah banget sama aku. Aku harus gimana, Sa?"
Angkasa menghela nafas panjang, sepupunya itu memang menjengkelkan. Dia sendiri yang minta Bulan untuk menjauh, tapi setelah Bulan menjauh, dia kalang kabut sendiri.
"Hati kecil Lo maunya gimana?" tanya Angkasa. "Turutin hati Lo aja Lan, kalau misalnya Lo mau perjuangin cinta Lo ke dia, Lo lanjut ngejar dia. Tapi kalau menurut hati Lo, Lo mau mundur dan fokus sekolah, ya Lo ikutin juga. Mengenai perasaan, gue gak bisa kasih saran banyak. Karena yang ngerasain itu Lo, diri Lo sendiri yang tahu apa yang Lo mau dan apa yang Lo butuhin."
Bulan menghela nafas panjang, "Haaaah, aku malah makin bingung."
Angkasa tertawa, mengusap puncak kepala Bulan dengan gemas. "Pacaran sama gue aja gimana? Biar Lo gak bingung, Lan."
Bulan mendelik, "Ish, kebiasaan bercandanya gak ada rem. Udah ah, aku mau ke kelas."
__ADS_1
Bulan hendak beranjak, tapi Angkasa menarik tangan gadis itu, membuat Bulan kembali duduk dan menatap Angkasa.
"Abisin dulu rotinya, mubadzir."
"Iya-iya.."
"Kalian lagi ngapain?"
Pertanyaan itu membuat Angkasa dan Bulan menoleh, mereka saling menatap lalu menggeleng kompak.
"Gak lagi ngapa-ngapain," jawab Angkasa. Ia lalu beranjak, lalu menoleh pada Bulan, "Gue duluan ya Lan, jangan lupa rotinya di abisin!"
Bulan mengangguk, "Sekali lagi thanks ya, Sa."
Angkasa tersenyum, lalu menarik tangan Zeni agar gadis itu mengikutinya. Meski Zeni menolak tapi Angkasa tak menghiraukannya.
"Kok gak ke kantin?"
Bulan menoleh, ia menggeleng seraya tersenyum. "Lagi males aja," Ia lalu bergeser saat Bintang duduk di sampingnya.
"Pantesan aku cariin dimana-mana gak ada, ternyata kamu disini sama Angkasa."
Bulan menoleh, ia tampak terkejut, "Kamu nyariin aku?"
Lihatlah, Bintang tampak seperti seorang kekasih yang memergoki kekasihnya berselingkuh.
"Buat apa nyariin aku?" Tanya Bulan lagi saat ia tak mendapatkan jawaban dari Bintang.
Bintang menoleh, menatap Bulan tanpa berkata apapun. Membuat Bulan mengalihkan pandangan lalu berdehem untuk mengusir gugup.
__ADS_1
"Buat kasih kamu ini, tapi kayanya aku telat. Angkasa udah beliin kamu makanan," Bintang menyimpan kantong plastik berisi beberapa makanan dan minuman di samping Bulan. "Aku cuma mau ganti bekal kamu yang udah aku makan, jangan salah faham."
Kata salah faham yang Bintang maksud berbeda dengan kata salah faham yang Bulan tangkap. Membuat keduanya kembali saling diam dengan pikiran masing-masing.