MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
MARAH


__ADS_3

"Besok malam prom night, kamu dateng gak?" Tanya Bulan, ia menoleh menatap Bintang yang duduk di sebelahnya, menunggu dengan harap-harap cemas atas jawaban pria itu.


"Emmm, mungkin." Jawab Bintang tanpa menoleh ke arah Bulan, tatapan pemuda itu menerawang jauh, sejauh persiapan masa depan yang sudah ia susun sejak jauh-jauh hari.


"Mungkin iya, atau mungkin tidak?" Tanya Bulan lagi.


"Kamu maunya apa? Iya atau tidak?" Bintang balik bertanya.


"Dih, jawab! bukan nanya lagi," Bulan mengerucutkan bibirnya, kesal dengan jawaban Bintang. Biasanya Bintang yang kesal padanya karena ia kerap memberikan jawaban dengan pertanyaan lagi, kali ini Bulan merasakannya, dan itu memang menyebalkan.


Bintang tertawa, kemudian menarik Bulan dan meletakkan kepala gadis itu di bahunya, "Jangan marah-marah, kamu lucu kalau marah. Aku bisa awet muda ketawa terus," ucapnya.


Bulan mendelik, tapi bibirnya menahan senyum. Bayangkan betapa bahagianya Bulan saat ini, semua khayalannya bersama Bintang perlahan terwujud, dan Bulan masih merasa ini mimpi.


"Jawab aku, kamu dateng atau enggak?"


"Mungkin aku datang. Mau aku jemput?"


Bulan duduk tegak, bangun dari sandaran ternyamannya. "Gak usah, besok kita ketemu di tempat acara aja." Tolak Bulan.


"Kenapa?"

__ADS_1


Bulan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, entahlah, ia masih merasa tak pantas terlalu dekat dengan pria itu.


"Bulan, jangan sembunyikan apapun lagi."


Tiba-tiba Bintang berkata demikian, membuat Bulan menelan ludahnya dengan susah payah. Apa pria itu juga tahu tentang masa lalu ibunya? "Apa maksud kamu?"


"Aku, aku sudah tahu semuanya. Tentang mama kamu dan.."


"Jadi kamu ngajak aku kesini buat ngomongin ini? Apa kamu mau menghina mama?"


Bintang menggeleng, "Bukan, bukan gitu maksud aku. Dengarkan aku dulu.."


Baginya, tak ada yang berhak membahas sisi kelam sang mama. Bahkan papanya saja tak pernah membahas hal itu, atau mungkin Bumi sengaja tak mengatakan kenyataan itu padanya. Bulan pun enggan bertanya lebih jauh, ia tak mau mempunyai pandangan buruk pada perempuan yang telah melahirkannya itu.


"Aku mau pulang!" Ucap Bulan, ia menghapus air mata yang tanpa sadar menetes membasahi pipinya. Lalu berdiri hendak pergi, namun Bintang menahan tangannya. "Lepasin tangan aku!"


"Gak, gak akan aku lepasin sebelum kamu dengerin aku. Bulan, aku hanya.."


"Hanya apa? Kamu mau hina mama aku? Atau kamu mau ngetawain aku?" Air mata semakin deras mengalir, membuat Bulan memalingkan wajah dengan bahu bergetar. "Kenapa kamu lancang, Bintang? Aku gak suka ada orang lain mengungkit tentang mama!"


"Bulan, aku minta maaf. Aku gak bermaksud untuk.."

__ADS_1


"Aku mau pulang!"


"Bulan.."


"Aku bilang aku mau pulang!"


Bintang menghela nafas panjang, ia tak bermaksud melukai Bulan, ia hanya ingin mengatakan pada Bulan, bahwa Bulan tak usah berkecil hati karena masa lalu mamanya, ia juga mau mengatakan bahwa Bulan tak usah merasa tak pantas berteman dengan siapa pun. Tapi Bulan justru marah. Mungkin ia yang salah karena terlalu ikut campur ke dalam hidup Bulan.


"Ok ok, kita pulang sekarang," Bintang pasrah, rencananya ambyar sudah.


"Aku pulang sendiri," setelah mengatakan kalimat itu, Bulan pergi begitu saja.


Tentu Bintang tak akan membiarkan gadis itu pulang sendiri, ia harus bertanggung jawab dan mengantar Bulan sampai ke rumah.


"Bulan, tunggu! Aku antar kamu," Bintang mengejar Bulan, meraih tangan gadis itu lalu ia genggam. "Jangan marah, aku antar kamu pulang."


Bulan menarik tangannya dari genggaman Bintang, tapi ia mengangguk dan menyetujui.


"Maafin aku," ucap Bintang lagi seraya mengusap puncak kepala Bulan dengan lembut.


Gadis itu tak menjawab bahkan memalingkan wajahnya. Ia tak menolak lagi saat Bintang kembali menggenggam tangannya dan membawanya ke motor.

__ADS_1


__ADS_2