
Jam istirahat, Bulan mengajak Cici makan di kantin. Ia yang kemarin sore mendapatkan gaji dari Angkasa berniat mentraktir sahabatnya itu.
"Lo beneran ada uang?" Tanya Cici, entah ke berapa kalinya Cici bertanya. Ia hanya tak mau Bulan repot-repot membelikannya makanan padahal gadis itu tengah kesulitan.
"Udah Lima kali Lo tanya gitu, ada lah. Makanya gue ajak Lo, kemaren sore gue gajian. Udah lama gue gak traktir Lo, gue kangen makan-makan di kantin. Lagian bayar uang sekolah juga tinggal dikit," jawab Bulan. Ia tersenyum membalas sapaan yang menyapanya.
Setelah semua orang tahu keadaan Bulan sekarang, memang ada pro dan kontra. Karena tak semua kepala berpikiran sama, tak semua raga berhati sama dan tak semua orang mempunyai rasa simpati yang sama. Ada yang tetap baik padanya bahkan memperlakukannya semakin baik, ada pula yang menjauhinya, mengoloknya bahkan menghinanya seperti yang Zeni lakukan.
Tapi Bulan tak perduli, seperti yang Angkasa pernah katakan, lebih baik ia fokus pada sekolahnya, pada hidupnya dan pada kebahagiaannya sendiri ketimbang mengurusi omongan orang. Melalui Angkasa, ia mulai belajar acuh, tak terlalu memikirkan hal kecil dan tak mendengar omongan buruk orang lain untuknya.
Karena Bulan sadar betul, ia tak akan bisa membungkam mulut semua orang yang tak menyukainya, ia juga tak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Ia hanya perlu menulikan pendengaran dari kata-kata yang bisa menyakiti hatinya.
"Jadi beneran nih?" Tanya Cici lagi.
Bulan tertawa, lalu menarik tangan Cici menuju kantin.
Suasana kantin tampak ramai, sepertinya lebih ramai dari biasanya. Atau mungkin karena cukup lama Bulan tak ke kantin, suasana di sana jadi sedikit berbeda.
Hari ini Bulan memang sengaja tak membawa bekal, ia sudah berniat untuk mengajak Cici makan bersama di kantin. Tapi tempat duduk di kantin penuh, semua tampak terisi kecuali..
"Bulan!"
Panggilan itu membuat Bulan menoleh, begitu pun dengan Cici. Mereka menghampiri meja Angkasa, satu-satunya meja yang tampak kosong. Hanya ada Angkasa, Bintang dan Zeni. Masih ada tempat kosong untuk tiga orang.
__ADS_1
"Duduk sini, gabung sama kita aja. Semua meja penuh," ucap Angkasa. Ia bergeser, membiarkan Bulan duduk di sebelahnya. Sedangkan Cici, ia duduk di sebelah Bulan. Mereka duduk berhadapan dengan Bintang dan Zeni yang terlihat sekali tak mau jauh-jauh dari Bintang.
"Gak papa nih aku ikut duduk disini?" tanya Bulan.
"Harusnya Lo nanya kaya gitu sebelum Lo duduk," celetuk Zeni. Gadis itu berdehem saat Bintang dan Angkasa menatapnya dengan tajam, untuk kesalahannya sebelumnya saja Zeni tak mau minta maaf pada Bulan. Dan kali ini Zeni hendak kembali menyerang Bulan, tentu Bintang dan Angkasa tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Sa, aku cari meja lain aja.." ucap Bulan, ia tak mau ada keributan, apalagi Zeni kerap melontarkan kata-kata pedas padanya.
Bulan hendak berdiri, namun Angkasa menahan tangannya. Genggaman yang begitu lembut itu membuat Bulan membeku, ia menatap Angkasa yang juga tengah menatapnya, lalu Bulan beralih menatap pergelangan tangannya, tangan Angkasa masih betah menggenggamnya.
"Duduklah, tidak usah mendengarkan apa pun," ucap Angkasa dengan lembut.
Bak terhipnotis, Bulan pun akhirnya kembali duduk. Sedangkan Cici, gadis itu beranjak untuk memesan makanan.
"Kalian cocok," celetuk Zeni.
Membuat Angkasa dan Bulan saling menoleh. Entah mengapa mereka tampak salah tingkah.
"Kenapa gak jadian aja? Kalian kan sama-sama jomblo," ucap Zeni lagi.
Bulan tak menanggapi, ia menunduk menghindari tatapan Bintang di hadapannya.
"Dia-nya nolak gue terus," kata Angkasa. Sontak membuat Bulan menoleh dan mencubit lengan pria itu.
__ADS_1
"Sa.." Tegur Bulan, "Kebiasaan deh bercandanya suka blong. Remnya rusak yah?" ucap Bulan, gadis itu tersenyum gemas.
Angkasa meringis, "Aw, sakiiiit.." rengeknya dengan lebay.
Bulan tertawa, begitu juga dengan Angkasa. Hal itu semakin membuat Zeni gencar menggoda mereka.
"Duh, manisnya. Udah jadian aja, gue dukung," ucap Zeni lagi. Ia melirik Bintang yang tampak diam saja, pemuda itu bahkan kembali fokus dengan makanannya.
Situasi tak nyaman itu membuat Bulan merutuki dirinya. Kenapa tadi ia tak mencari meja lain atau balik lagi saja? Tatapan Bintang benar-benar terasa dingin, Bulan merasa Bintang seperti dulu, dingin dan acuh. Mungkin memang benar dugaannya, bahwa Bintang mendekatinya hanya karena kasihan dan rasa bersalah saja.
"Aku udah selesai, aku ke kelas duluan, permisi.." Bintang beranjak dan pergi sebelum mendapat jawaban dari semua orang. Ia bahkan tak menoleh lagi hingga tubuh tingginya tak terlihat lagi.
Bulan menunduk lesu, hati kecilnya tak dapat di bohongi, bahwa cinta itu masih sangat ada. Bahkan sedari tadi ia mencoba mengendalikan degup jantungnya. Namun sikap dingin Bintang kembali menyadarkannya dan meyakinkan niatnya untuk melupakan pemuda itu.
"Gue juga duluan yah, mau nyusul Bintang. Kalian santai aja, gue dukung hubungan kalian.." kata Zeni.
"Zen!" Tegur Angkasa, melihat perubahan raut wajah Bulan, ia tahu bahwa Bulan tak bisa melihat sikap dingin Bintang. Gadis itu tampak bersedih.
"Lan, omongan Zeni jangan di dengerin. Dia emang gitu anaknya, lagian gue juga tahu kok, hati Lo cuma buat Bintang. Lo jangan sedih.." Angkasa mengusap bahu Bulan, lalu pamit untuk pergi ke toilet.
Akhirnya hanya ada Bulan di meja itu, sampai beberapa saat kemudian Cici kembali dengan pesanan makanan mereka.
Apa Bulan masih bisa makan? Nafsu makannya hilang, tapi perutnya keroncongan meminta asupan.
__ADS_1
"Haaaah, aku harus makan. Pura-pura baik-baik aja juga butuh tenaga bukan?"