
Bulan mengerutkan keningnya karena panas, matahari sedang terik-teriknya, tapi ia dan Gea harus meninjau langsung bahan-bahan bangunan yang akan di gunakan untuk proyek mereka.
Keningnya semakin berkerut saat ia melihat seseorang yang di kenalinya, ia mengajak Gea menghampiri orang itu.
"Papa.." panggilnya, ia baru menyadari bahwa ternyata sang papa lah yang menjadi pemasok utama bahan-bahan untuk proyek LaGroup. Kenapa ia bisa lupa, bukannya dari dulu papanya itu memang bekerja sama dengan LaGroup?
Bumi menoleh, tersenyum lebar menyambut putrinya, "Sayang.."
"Aku sampai lupa kalau papa pemasok utama LaGroup, tahu gitu kita pergi barengan tadi pa," ucap Bulan sesaT setelah memeluk sang papa. Karena kesibukan masing-masing, mereka jadi jarang ngobrol-ngobrol berdua. Dan tak dapat di pungkiri rasa rindu Bulan rasakan.
Bumi tersenyum, mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih, "Papa juga lupa, nak." Kemudian Bumi juga tersenyum pada Gea yang menyalaminya dengan sopan.
"Om Bumi?"
Panggilan itu membuat Bumi, Bulan dan Gea menoleh. Bintang tersenyum lalu menyalami Bumi.
"Apa kabar om?"
Bumi tampak sedikit terkejut, pasalnya, yang ia tahu Bintang tengah berapa di Amsterdam, tapi kini pria muda itu ada di hadapannya, "Kapan kamu kembali dari Amsterdam, nak?"
"Satu Minggu yang lalu, om. Om apa kabar?" Tanya Bintang.
"Baik nak, kamu sendiri bagaimana? Sehat?" Bumi menepuk bahu Bintang beberapa kali, senyum tulus pria paruh baya itu berikan.
"Sehat, Om. Seperti yang om lihat," Bintang menoleh pada Bulan yang tampak memalingkan wajahnya, ia lalu berpamitan pada Bumi pergi dengan Gea untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Aku lanjut kerja ya, Pa. Papa hati-hati," pesan Bulan.
Bumi mengangguk, ia menangkap ada sesuatu yang tak beres antara Bulan dan Bintang. Ia tahu betul bagaimana perasaan Bulan pada Bintang, ia juga tahu kekecewaan putrinya pada pria itu.
Bintang pun menyusul pamit untuk kembali bekerja setelah mengobrol sebentar. Ia menyusul Bulan yang sudah pergi lebih dulu, Angkasa tak ada, ini saatnya ia berjuang. Selama janur kuning belum melengkung, ia masih bisa memperjuangkan cintanya untuk Bulan, begitu pikirnya.
Dari kejauhan ia menatap Bulan, keningnya berkerut saat ia melihat sesuatu akan jatuh dari mobil pick up pengangkut barang tepat di atas kepala Bulan. Tanpa berpikir panjang, ia berlari dan menarik Bulan dengan cepat.
__ADS_1
BRUG
Bunyi yang di hasilkan dari papan yang terjatuh dari atas mobil pick up, entah mengapa papan itu bisa terjatuh, tali yang mengikat benda itu ternyata menjuntai terlepas.
"Kenapa ada kelalaian seperti ini?" Sentak Bintang, emosinya naik, hampir saja Bulan celaka. Dan jika itu terjadi, ia tak akan mengampuni semua pekerja disana.
Mendengar suara benda jatuh di susul suara keras Bintang, semua orang datang berkerumun. Mereka menunduk takut saat tahu siapa pemilik suara itu.
"Kamu gak papa?" Tanya Bintang, "Apa ada yang sakit? Maaf aku menarik kamu sedikit keras," ucap Bintang dengan lembut.
"Aku gak papa," jawab Bulan singkat.
"Siapa penanggung jawab mobil ini?" Tanya Bintang setelah ia mengalihkan perhatiannya dari Bulan.
Seseorang maju seraya menunduk takut, "Saya pak, maafkan saya. Saya lalai."
"Kelalaian kamu bisa melukai orang lain, kenapa kamu tidak memastikan muatan kamu dulu sebelumnya?" Tatapan Bintang menajam, ia benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada Bulan. Tak terbayang jika kayu tadi mengenai kepala Bulan, membayangkannya saja sudah membuat Bintang bergidik.
"Pak Bintang sudah, lagi pula saya juga tidak apa-apa. Bapak itu tidak sengaja," kata Bulan. Ia lalu tersenyum pada sopir mobil tersebut, "Saya tidak apa-apa pak, bapak boleh kembali bekerja."
"Bulan.." panggil Bintang saat Bulan hendak pergi.
Bulan menoleh, "Terima kasih pak, saya akan kembali bekerja. Permisi," ucapnya.
Sikap dingin gadis itu membuat Bintang murung, sepertinya Bulan memang sangat kecewa padanya.
"Kamu beneran gak papa, Lan?" Tanya Gea, ia juga mencemaskan gadis itu.
"Gak papa mbak, yuk lanjut kerja," Bulan tersenyum, menyembunyikan kekacauan hati saat Bintang sesaat lalu mendekapnya. Pria itu tampak begitu mencemaskannya.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing, melupakan kejadian menegangkan beberapa saat yang lalu. Andai saja Bumi dan Angkasa melihat, mungkin mereka juga akan sama cemasnya dengan Bintang.
Menjelang sore, Bulan dan Gea bersiap untuk pulang. Mereka pergi ke parkiran, motor merek ada disana. Lebih tepatnya motor Gea, karena mereka pergi bersama. Namun tiba-tiba hujan turun, membuat Bulan dan Gea berlari mencari tempat berteduh. Padahal tadi sangat panas, namun menjelang sore tiba-tiba mendung dan turun hujan.
__ADS_1
"Yah hujannya tambah gede lagi, Lan," keluh Gea. Andai tadi mereka menggunakan mobil kantor, mungkin mereka masih bisa melanjutkan pulang.
"Iya mbak, tunggu sampai reda aja." Bulan mengusap kedua lengannya yang basah, melindungi kepala dari cipratan air hujan.
"Kalian pulang sama saya aja!"
Kalimat itu membuat Bulan dan Gea menoleh, entah sejak kapan Bintang ada di belakang mereka, pria itu juga tengah berteduh.
"Saya menunggu reda saja pak, saya bawa motor." Sahut Gea, ia lalu menoleh pada Bulan, "Lan, kamu aja yang pulang sama pak Bintang. Rumah kamu jauh, nanti kamu kemaleman," kata Gea.
Bulan tentu menolak, ia menggelengkan kepalanya, "Aku pulang bareng mbak aja," kata Bulan.
"Tapi ini udah mau Maghrib Lan, nanti kamu kemaleman," Gea kembali memberi saran, ia tahu rumah Bulan cukup jauh.
Bulan terdiam, yang di katakan Gea memang benar. Andai saja ia meminta sang papa menunggunya, mungkin mereka bisa pulang bersama, sayangnya Angkasa juga memberi kabar bahwa pria itu tak bisa menjemput karena tugas ke luar kota mendadak.
Seperti semesta mendukung, hanya ada Bintang yang mau tak mau membuat Bulan akhirnya mengangguk.
"Mbak sendirian disini gak papa?" tanya Bulan.
"Gak papa Lan, aku juga bawa jas hujan kok. Kamu pulang sama pak Bintang aja," sahut Gea.
Bulan mengangguk, lalu menoleh pada Bintang yang tampak tersenyum. Pria itu lalu membuka jasnya, ia jadikan pelindung untuknya dan Bulan dari air hujan. Meski tak terlalu berpengaruh, tapi setidaknya kepala mereka bisa terlindung.
Keduanya berlari seiring menuju ke mobil, dengan cepat Bintang membukakan pintu mobil untuk Bulan, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman baru ia kembali menutup pintu. Ia sendiri memutari mobil dan duduk di balik kemudi.
Bintang mengambil sweaternya di jok belakang, lalu ia berikan pada Bulan, "Pakai ini, jangan sampai kamu masuk angin. Ganti saja bajunya, aku tidak akan melihat."
"Gak usah, aku gak papa," tolak Bulan.
"Bulan please, kali ini aja dengerin aku. Pakai sweater ini, aku berbalik badan." Tanpa menunggu persetujuan dari Bulan, Bintang lalu membalik badan, membelakangi Bulan dengan mata terpejam. Ia takut bisa melihat Bulan dari pantulan kaca pintu.
Bulan mendengus kesal, tapi ia tetap menuruti perintah Bintang. Setelah memastikan Bintang tak mengintip, ia lalu membuka kemeja lengan pendek yang ia pakai, lalu berganti memakai sweater milik Bintang yang tampak kebesaran di tubuhnya.
__ADS_1