MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PAHIT


__ADS_3

Matahari sudah terbit, bahkan pagi menuju siang. Tapi gadis cantik yang semalam tak bisa tidur itu masih bergelung di bawah selimut.


Pasalnya, tadi malam ia benar-benar bahagia, membuatnya tak bisa tidur karena kejadian romantis antara dirinya dan pria pujaannya terus terbayang-bayang.


Adalah Rembulan, gadis itu sampai berguling kesana kemari dengan bibir terus mengukir senyum. Bahkan beberapa kali ia menyentuh bibirnya, rasa manis dan hangat dari bibir pria pujaannya masih terasa menempel.


Mungkin sampai terbawa mimpi, karena meski terlelap pun, bibirnya tetap tersenyum tipis. Sampai suara dering ponsel membuyarkan mimpinya dan membangunkannya dan tidur.


Dengan mata setengah terpejam Bulan meraba nakas kecil di sebelah kanannya, mencari benda pipih yang terus berdering.


"Ih, siapa sih pagi-pagi nelpon," gerutunya dengan suara serak. Tanpa melihat nama kontak di layar benda pipih itu, Bulan menggeser tombol hijau dan menerima panggilannya. "Halo.."


"Lo masih tidur? Gue kira Lo mau kesini?"


"Kesini kemana?" Tanya Bulan, matanya masih terpejam.


"Ke bandara, Lan."


Bulan membuka matanya, menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat nama kontak yang melakukan panggilan dengannya, "Angkasa?"


Angkasa di seberang sana berdecak, "Ck, astaga Bulan. Bangun! Lo gak ke bandara?"


"Bandara?" Ulang Bulan dengan kening berkerut, "Ngapain ke Bandara?"


"Eh? Lo gak tahu?" Tanya Angkasa, pria itu menghela nafas panjang, rupanya sepupunya tak memberi tahu Bulan.


"Gak tau apa sih? Ngomong yang jelas, Sa!"

__ADS_1


"Sepuluh menit lagi.." Angkasa menghentikan ucapannya, ia takut salah bicara. Karena sepertinya Bintang sengaja tak mengatakan apapun pada Bulan. Ia menatap Bintang yang tengah berbicara dengan Langit, sepupunya itu benar-benar si raja tega!


"Angkasa!" Sentak Bulan, gadis itu mulai merasa ada sesuatu yang Angkasa sembunyikan. Dan hal itu membuat perasannya tak karuan. "Ngomong yang jelas, Sa!"


"Sepuluh menit lagi pesawat Bintang take off Lan. Dia, dia mau kuliah di Amsterdam. Emangnya Lo gak di kasih tahu?" Kata Angkasa dengan suara yang semakin pelan.


Bagai di sambar petir, Bulan terdiam kaku. Ponsel yang sebelumnya ia genggam pun jatuh begitu saja, bersamaan dengan jatuhnya air mata yang tanpa permisi membasahi pipinya.


"Amsterdam?" Lirihnya.


"Halo, Lan? Lo masih disana kan? Lan? Halooo.."


Bulan tak lagi menyahut, ia beranjak dari ranjang berlari ke kamar mandi. Sepuluh menit lagi, tak ada waktu untuk membersihkan diri, Bulan hanya mencuci wajahnya juga menggosok gigi. Gadis itu bahkan tak berganti pakaian. Bulan masih menggunakan piyama tidur di tutupi dengan sweater.


Tidak lupa juga ia mengambil kunci motor di laci nakas, kemudian segera pergi. Rumah tampak sepi, mungkin sang papa sudah pergi ke tokonya.


Dengan kecepatan tinggi Bulan melajukan motornya. Ia seperti kesetanan, bahkan umpatan-umpatan dari pengendara lain tak ia indahkan. Tujuannya hanya ingin cepat sampai di Bandara dan menemui Bintang sebelum pria itu pergi.


"Bintang, kamu jahat," ucapnya seraya terisak. "Kenapa lampunya terus merah sih? Sengaja yah bikin aku telat?" Omelnya pada lampu merah.


Gadis itu tak perduli menjadi bahan tontonan banyak orang, ia hanya ingin meluapkan perasaan kacaunya.


Setelah perjalanan penuh drama, akhirnya Bulan tiba di Bandara internasional Soekarno Hatta. Ia memarkirkan motornya kemudian berlari memasuki area Bandara. Sadar helm yang ia gunakan belum ia buka, Bulan kembali keluar lalu menyimpan helm itu di motornya.


"Bintang.." panggilnya, Bulan mengedarkan pandangannya, mencari sosok pria yang semalam membuatnya begitu bahagia. "Bintang!"


Dengan asal Bulan menghapus air matanya, ia tak putus asa mencari. Berlari kesana-kemari mencari Bintang atau setidaknya ia bisa menemukan Angkasa.

__ADS_1


"Amsterdam," gumamnya, ia kembali berlari menuju pintu keberangkatan, sayangnya di sana ia juga tak menemukan Bintang. "Bintang!" Teriaknya, lagi-lagi ia mengabaikan pandangan orang-orang di sekelilingnya.


"Bulan.."


Bulan menoleh, kembali menghapus air mata yang membuat pandangannya buram. "Sa, mana Bintang?" Tanyanya, ia berusaha kuat.


Alih-alih menjawab, Angkasa justru mendekat dan memeluknya. "Dia bilang, Lo harus baik-baik aja."


Bulan tentu tak terima, ia mendorong Angkasa dan berkata, "Aku tanya mana Bintang? Jawab!" Sentaknya.


"Dia, dia udah pergi lima menit yang lalu.."


Bulan menggeleng beberapa kali, kakinya melangkah mundur sedikit menjauh dari Angkasa. Ia tak percaya pria itu pergi begitu saja, tanpa memberinya kepastian tentang hubungan mereka. Bintang bahkan tak mengatakan apapun tentang kepergiannya, atau setidaknya meminta Bulan untuk menunggunya pulang.


"Gak, kamu boong kan, Sa?" Air mata semakin deras mengalir, Bulan mulai merasa sesak dan sakit di bagian dadanya.


"Lan, Lo pasti baik-baik aja. Kalian harus mengejar cita-cita kalian, Lo juga harus kuliah seperti yang Lo mau. Lo pasti bisa melanjutkan hidup meski jauh dari Bintang."


"Gak!" Pekik Bulan, "Kamu gak pernah ngerasain jadi aku, Sa! Kamu gak akan pernah ngerti sakitnya aku! Tiga tahun aku mencintainya, Sa. Tiga tahun aku terus menunggunya. Tiga tahun aku membuang rasa malu untuk mengejarnya, dan setelah dia memberikan sedikit harapan, kenapa dia pergi gitu aja?! Apa yang harus aku lakukan, Sa? Apa aku harus nunggu lagi? Apa aku harus terus berharap tanpa kepastian? Kuliah bukan waktu yang singkat, dan selama itu apa aku harus terus berharap?" Suara gadis itu semakin terdengar lirih, air mata semakin deras mengalir, menggambarkan betapa hatinya begitu sakit mendapati kepergian Bintang. "Kamu gak tahu, sesakit apa jadi aku? Tadi malam aku mimpi indah, dan paginya aku harus di sadarkan bahwa kebahagiaan yang semalam aku rasain ternyata memang hanya mimpi!"


Baru tadi malam ia merasa seperti di bawa terbang ke awang-awang, ternyata paginya ia kembali di jatuhnya oleh kenyataan pahit. Dan sakitnya lebih sakit lagi. Jika boleh memilih, Bulan memilih tak mau merasakan manisnya sikap Bintang tadi malam, jika pada akhirnya rasa yang lebih pahit harus ia telan untuk imbalannya.


Andai saja ia tahu akhirnya akan sepahit ini, Bulan tak akan menghancurkan benteng pembatas yang sudah ia bangun untuk Bintang sebelumnya. Biarkan mereka menjauh kemudian asing, mungkin rasanya tak akan sesakit ini dan sesesak ini.


Angkasa menunduk diam, andai ia memberi tahu Bulan lebih awal, mungkin gadis itu masih bisa menemui Bintang walau sesaat. Angkasa kira, Bintang sudah membicarakan kepergiannya pada Bulan mengingat semalam mereka pulang bersama, ternyata Bintang bahkan tak berpamitan pada Bulan.


Tak mengatakan apapun lagi, Bulan berlari, pergi meninggalkan Angkasa yang hendak mengejarnya namun kembali urung. Angkasa mengerti, Bulan pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.

__ADS_1


IKLAN


Jangan pada hujat Bintang please😭


__ADS_2