MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
GAK AKAN NOLAK


__ADS_3

"Jadi, apa ada yang mau kamu jelaskan?" Tanya Bulan, masih ada waktu sebelum ujian di mulai, Bulan menggunakannya untuk meminta penjelasan pada Angkasa mengenai ucapan Mega tempo hari.


Angkasa tampak gugup, ia berdehem dan memalingkan wajahnya dari Bulan.


"Sa.." panggil Bulan lagi, gadis itu berdecak, lalu menarik tangan Angkasa agar pemuda itu menatapnya, "Jangan pura-pura deh!"


"Itu cuma salah faham, Lan."


"Maksud kamu?"


"Mama salah faham, dia kira Lo pacar gue."


"Iya kenapa? Kok bisa mama kamu sampai salah faham?"


Angkasa menghela nafas panjang, sepertinya jalannya memang buntu. Bulan pasti akan terus bertanya padanya sebelum gadis itu mendapatkan jawabannya. "Lan, gue.."


"Bulaaaan.."


Teriakan itu membuat Bulan dan Angkasa menoleh, Cici berlari dan memeluk Bulan.


"Apasi, Ci? Kaget gue, Lo kenapa dah?" Tanya Bulan, tapi ia tetap membalas pelukan sahabatnya itu.


"Iya, gue emang kangen Lo," Jawab Cici dengan jujur. "Kenapa gue gak seruangan sama Lo coba, malah seruangan sama ulet bulu. Sial banget kan gue?"


"Ulet bulu?"


"Ulet bulu?"


Angkasa dan Bulan kompak bertanya. Mereka tak mengerti dengan ucapan Cici.


Cici berdecak, "Zenita.." ucapnya.


Bulan menahan tawanya, sedangkan Angkasa benar-benar tertawa.


"Gatel dong," celetuk Angkasa.

__ADS_1


"Emang," ucap Cici, "Gatel sama Bintang kan?"


Angkasa kembali tertawa, kemudian pergi menuju kelas. Ini kesempatan untuknya menghindar dari pertanyaan Bulan, ia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa pada Bulan, salahnya terlalu sering menceritakan tentang gadis itu pada sang mama. Membuat Mega berkesimpulan sendiri, bahwa Bukan adalah kekasih putranya.


***


Bulan menghela nafas panjang saat ia selesai mengerjakan soal ujiannya. Ujian hanya tinggal satu hari lagi, setelah itu ia dan semua kelas 12 akan menunggu hari kelulusan.


Gadis itu membereskan alat tulisnya, lalu beranjak keluar dari kelas setelah berpamitan pada pengawas ujian.


"Bulan.."


Panggilan itu membuat Bulan menoleh, sejak hari pertama ujian, Bintang kebetulan keluar kelas beberapa detik setelah Bulan. Benarkan hanya kebetulan?


"Iya?" jawab Bulan. Ia menatap Bintang yang menghampirinya lalu berdiri di hadapannya. Jantung, jantungnya berdetak kencang saat pemuda itu menatapnya dengan intens. "A-ada apa, Bintang?"


"Kamu belum jawab pertanyaan aku semalam, jadi?"


"Jawaban aku penting yah buat kamu?" Lagi-lagi Bulan justru mengajukan pertanyaan balik, membuat Bintang berdecak lalu mencubit sebelah pipi Bulan.


"Aw, sakit ih," protes Bulan. Ia mengusap pipinya yang terlihat sedikit memerah. "Kenapa cubit-cubit?"


"Kenapa sih mau tahu banget? Gak penting juga kan buat kamu?"


"Ya emang enggak, aku cuma mau tahu aja. Iya atau enggak?!"


Bulan mendelik, "Kalau gak penting gak di jawab juga gak papa kan?"


"Bulan!!"


"Bintang!!" Bulan tertawa, lalu berlari meninggalkan Bintang. Bukan apa-apa, Bulan tak kuat lama-lama berhadapan dengan pemuda itu. Jantungnya serasa mau meledak.


Bintang tertawa tanpa suara, kepalanya menggeleng beberapa kali. Entah mengapa ia merasa Bulan begitu menggemaskan.


"Ketawa sendiri, kesambet Lo?"

__ADS_1


Setelah menoleh, Bintang berdecak. Ia merangkul bahu Angkasa lalu menyeretnya pergi, "Iya aku kesambet," ucapnya.


Angkasa tahu Bintang tertawa pada Bulan, saat Bintang keluar, tak berapa lama Angkasa juga keluar kelas. Langkahnya terhenti di dekat pintu saat ia melihat Bintang tengah bicara dengan Bulan. Ingin rasanya menghampiri mereka, tapi entah mengapa kakinya begitu berat. Apalagi ketika melihat tatapan Bulan pada Bintang, gadis itu pasti masih sangat mencintai sepupunya.


***


"Mi, apa di keluarga kita ada yang punya riwayat penyakit jantung?" Tanya Bintang tiba-tiba.


Jingga yang tengah melihat-lihat katalog bapperware terbaru mengalihkan pandangan, "Memangnya kenapa? Seingat mami gak ada tuh."


"Akhir-akhir ini jantung aku sering bermasalah," ucap Bintang. Helaan nafas panjang terdengar berhembus dari mulutnya, Bintang merasa ada yang tak beres dengan jantungnya.


Mendengar penuturan putranya, Jingga tentu cemas. Ia menyentuh dada Bintang, kemudian menyandarkan pipinya di dada sang putra, ia ingin mendengarkan detak jantung Bintang. Apa benar bermasalah? "Terdengar normal, bermasalah bagaimana maksudnya, nak?"


"Entahlah, aku juga gak tahu mi. Kadang-kadang detak jantung aku mendadak cepat. Hati aku tuh kaya yang gimana yah? Susah jelasinnya, mi." Bintang terlihat begitu bingung, ia memang tak mengerti dengan perasaannya.


Jingga semakin mengerutkan dahinya, "Penyakit yang aneh. Nak, besok ujian kamu selesai kan? Mami antar kamu ke rumah sakit yah?"


"Loh, buat apa mi?"


"Buat beli bapperware terbaru, ya buat apa lagi selain buat periksa. Kamu nih aneh deh," omel Jingga dengan raut wajah cemasnya.


"Aku gak mau, aku sehat kok." Jelas Bintang yang sedari kecil takut pada jarum suntik atau jenis jarum-jaruman.


"Katanya jantung kamu bermasalah, justru jantung lebih bahaya kalau gak segera di tangani. Udah jangan membantah, besok mami antar kamu, ok?"


"Mami.." rengek Bintang.


"Suuut, udah jangan nolak. Mami tuh cemas sama kamu, gimana kalau terjadi apa-apa?"


"Gak akan..."


Jingga menoleh, ia terlihat kesal, "Gak akan apa, hm?" Ia hanya tak mau terjadi apa-apa pada putra semata wayangnya itu.


"Gak akan nolak, mi.." jawab Bintang dengan pasrah. Ia paling tak bisa melihat jingga kesal padanya.

__ADS_1


IKLAN


Ramein komennya dong ges, sedih banget komenannya se uprit doang😭😭😭


__ADS_2