MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
MERENGEK


__ADS_3

"Bantu aku, Sa.." Rengek Bintang, ia pusing. Prosesi pingitan di mulai hari ini, Bulan tak dapat di hubungi sejak kemarin, Angkasa juga belum mau membantunya. Komunikasi melalui ponsel adalah satu-satunya harapan untuknya, tapi Bulan memblokir semua akses.


Bintang jadi semakin takut, pernikahan hanya tinggal 6 hari lagi, dia bisa gila jika batal. Bertahun-tahun ia menantikan pernikahannya dengan Bulan, karena itu tak tergambar setakut apa Bintang saat ini.


"Bintang, gue aja lagi pusing. Lo gak kasian liat gue? Gue di tinggal bini, gue lebih miris lagi. Bujangan bukan duda juga bukan," Angkasa malah curhat. Karena Esta sudah pergi satu Minggu lamanya, istrinya itu juga tak bisa di hubungi, ingin menyusul namun pekerjaannya begitu menumpuk, di tambah lagi Bu'de melarangnya. Perempuan itu mengatakan, biarkan Esta tenang dulu agar gadis itu bisa berpikir dengan jernih.


"Kasian lah, tapi seenggaknya kamu udah nikah, udah milikin dia. Lah aku? Kamu juga tahu berapa tahun aku menunggu moment ini, kalau sampai batal, aku bisa sinting," Bintang semakin memelas, jika ia seorang gadis, mungkin ia sudah menangis sejadi-jadinya. Tapi gengsinya gede, masa iya seorang pria menangis? Padahal menangis manusiawi, tak ada larangan juga bagi seorang pria menangis, terkadang pria juga butuh pelampiasan untuk meluapkan kesedihannya.


"Aku mau liat se-sinting apa seorang Bintang di tinggal Rembulan-nya. Nanti kamu juga akan tahu, Se-sinting apa Bulan dulu saat kamu tinggalin dia," Angkasa justru semakin membuat Bintang takut.


"Sa.." rengek Bintang. Sungguh ia ingin menangis. Harusnya ia sadar dengan gelagat tak beres Kimmy, saat tiba-tiba gadis itu menjatuhkan diri di pangkuannya, ia justru bengong karena terkejut. Andai saja otaknya bekerja dengan cepat, ia pasti akan segera mendorong Kimmy dan Bulan tak akan melihat pemandangan menjijikan itu.


Kimmy yang katanya ingin membantunya menjelaskan justru malah semakin membuat Bulan marah. Keadaannya semakin rumit saat gadis itu meminta Bintang secara terang-terangan. Bintang mendengar percakapan Kimmy dan Bulan, saat ia hendak menghentikan Kimmy, Bulan justru pergi menghindarinya.


Angkasa berdecak, lama-lama ia tak tega juga.

__ADS_1


"Dasar bodoh, mana ponsel Lo?!" Angkasa mengulurkan tangannya, meminta ponsel Bintang tapi sepupunya itu justru menggeleng dan menyembunyikan ponselnya.


"Mau apa kamu?"


"Yaelah, katanya mau gue bantu! Sini hp Lo!"


Bintang memberikan ponselnya pada Angkasa, "Mau ngapain sih?" tanyanya.


"CK, buka dulu kuncinya!" Angkasa kembali menyodorkan ponsel itu pada Bintang, Bintang menempelkan jarinya lalu kunci layar pun terbuka.


Bintang menunggu dengan tak sabar, ia menatap Angkasa yang tengah mengotak-atik ponselnya. Entah mencari apa, ia juga tak mengerti.


"Mau kemana? Aku gak bisa keluar, mami pasti ngomel, aku kan lagi di pingit," kata Bintang.


"Gue yang minta izin sama mami, gaya Lo di pingit, emang jadi kawin?" ledek Angkasa. Ia tertawa saat Bintang melemparnya dengan bantal sofa, tepat mengenai dadanya.

__ADS_1


Mau tak mau, Bintang mengikuti Angkasa. Keluar dari kamarnya menuruni anak tangga untuk menemui Jingga yang tengah berkumpul bersama keluarga yang lain di ruang keluarga. Mereka tengah mencoba gaun keluarga yang sudah di siapkan desainer ternama untuk mereka pakai di hari spesial Bintang yang terancam batal.


***


"Kalian mau kemana? Calon manten gak boleh keluar, pokonya kalian gak boleh kemana-mana," tolak Jingga saat Angkasa meminta izin mengajak Bintang keluar.


"Mi, sebentar aja kok," Angkasa masih belum menyerah. Kasihan juga melihat Bintang yang wajahnya semakin kusut.


Jingga berdecak, ia lalu menoleh pada Langit, "Mas, anak kamu tuh. Di bilangin bandel," adunya.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Dan ingat, hati-hati, papi gak mau kalian kenapa-kenapa," Langit justru mengizinkan mereka. Membuat mata Bulan membulat dan hendak memprotes, tapi Langit segera menjinakkan singkat betinanya itu. "Sayang-nya mas, cinta-nya mas, jangan marah-marah terus. Aku bisa semakin tergila-gila sama kamu, karena saat kamu marah kecantikan kamu naik berkali-kali lipat. Kamu gak kasian sama aku? Gimana kalau aku semakin tua semakin gila? Kamu juga yang repot tiap malam."


Mendengar kalimat itu, mata Jingga membulat, ia sontak membungkam mulut pria itu dengan tangannya. Ngeri juga, tidak gila saja pria itu meminta jatah tiap malam, apa lagi gila? Jangan-jangan ia tak akan bisa berjalan lagi. Tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi, begitu mungkin.


Mega dan Alex tertawa, begitu juga dengan Violet dan kedua orang tua Jingga yang juga berada disana.

__ADS_1


"Hati-hati nak," pesan Mega saat kedua putranya itu menyalami mereka bergantian.


"Beres, ma. Cuma sebentar kok," kata Angkasa. Akhirnya mereka bisa lolos.


__ADS_2