
"Mau ajak aku kemana? Kok tumben pakai motor?" Tanya Bulan, ia menerima helm yang Bintang berikan padanya.
"Rahasia, pakai helmnya," kata Bintang. Tapi kemudian ia kembali mengambil helm tersebut lalu memakaikannya pada Bulan.
"Aku bisa sendiri, Bintang."
Bintang tak mendengar, ia memasangkan helm itu pada Bulan, mengaitkan pengait helm dengan sangat hati-hati hingga membuat jarak di antara mereka semakin terkikis. Nafas hangat Bintang bahkan menerpa permukaan wajah Bulan, membuat gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah.
Tapi Bintang justru terlihat tenang, pria itu bahkan menyisir beberapa helai rambut Bulan yang menjuntai di kening gadis itu, "Udah rapi, ayo naik," ucapnya.
Bulan yang masih menenangkan jantungnya sedikit terkejut saat Bintang menjentikkan jari di depan wajahnya. Ia lalu naik ke boncengan dan memegang ujung jaket yang Bintang kenakan.
"Pegangan yang benar, kamu bisa jatuh," Bintang menarik tangan Bulan bergantian, membuat gadis itu melingkarkan tangannya di perut Bintang.
Bulan tak bisa berkata-kata lagi, jantungnya terlalu memberontak di dalam sana. Mungkin Bintang juga dapat merasakannya, mereka benar-benar dekat.
Sepanjang perjalanan, baik Bintang mau pun Bulan sama-sama diam. Meski motor itu melaju dengan pelan, Bulan tak memprotes, ia justru senang karena waktunya bersama Bintang akan lebih lama walau pun tetap saja waktu selama apapun masih akan terasa kurang bagi Bulan.
Hembusan angin menyentuh permukaan wajah gadis cantik itu, membuat matanya terpejam menikmatinya. Hari ini terasa begitu indah, hal yang selalu ia khayalkan sejak dulu, akhirnya bisa benar-benar terjadi. Rasanya bagai mimpi, dan jika benar ini hanya mimpi, maka Bulan rasanya tak ingin terbangun.
Bintang tersenyum tipis, ia menumpuk sebelah tangannya di atas tangan Bulan yang melingkar di perutnya, sementara sebelah tangannya yang lain tetap memegang kemudi tentunya. Ia usap lembut punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya, ia bisa merasakan lingkaran tangan Bulan semakin erat.
__ADS_1
"Kamu tahu Bintang? Hal ini selalu aku khayalkan dari dulu," ucap Bulan jujur. Ia menyimpan dagunya di bahu Bintang, membuat pipi mereka nyaris saling bersentuhan.
"Oyah?"
Bulan mengangguk, ia tersenyum lebar, meski jantungnya tak seberontak tadi, tapi tetap saja ia merasa jantungnya meletup-letup karena bahagia.
"Kebayang gak se-seneng apa aku saat ini?" Tanya Bulan lagi.
Bintang menggeleng, membuat Bulan tertawa lebar.
"Jangankan kamu, aku aja gak bisa bayangin kebahagiaan aku saat ini, ini benar-benar kaya mimpi."
Bagaimana ia bisa menghindari pria itu, bahkan Bulan lupa bahwa sebelumnya ia merasa tak pantas dekat dengan Bintang. Pesona pria itu benar-benar tak ada lawan. Bulan tak mampu menolaknya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mereka sampai di sebuah danau. Danau yang masih terlihat asri dan segar dengan rumput hijau di sekelilingnya.
Bulan turun dari boncengan, membuka helmnya lalu ia berikan pada Bintang. Gadis itu tampak tak sabar ingin segera mendekati danau.
"Bulan, tunggu!" Bintang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bulan yang begitu riang seperti anak kecil. Gadis itu berlari ke sisi danau, duduk lesehan di atas rumput hijau.
Rasanya benar-benar tenang dan nyaman, Bulan menyukai tempat ini.
__ADS_1
"Aku di tinggalin," komentar Bintang, ia lalu duduk di sebelah Bulan. "Suka?" tanyanya seraya menoleh.
Bulan mengangguk semangat, "Suka banget. Kok aku baru tahu ada danau seindah ini."
"Karena danau ini emang gak di buka untuk umum," kata Bintang.
Bulan mengerjap ia melihat ke sekeliling, ia baru sadar kalau di tempat itu memang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sepertinya bertugas menjaga dan membersihkan area danau tersebut. "Iya loh, aku baru sadar. Kok bisa begitu?"
"Bisa lah, danau ini papi aku yang bikin. Dia bikin ini sebagai hadiah buat mami, hadiah anniversary pernikahan mereka yang ke 15 tahun. Karena mami suka alam, suka area hijau seperti danau ini."
Bulan terkejut, ternyata seromantis itu kedua orang tua Bintang. "Manis banget papi kamu, kalau aku punya suami, aku juga mau yang kaya om Langit. Yang memperlakukan Tante Jingga seperti ratu di hidupnya."
"Kalau gitu sama aku aja, aku kan anaknya papi, pasti keromantisannya turun ke aku."
"Hah?"
Bintang mengerjap, ia baru sadar dengan kalimat yang bagus saja ia ucapkan. "Hahahah," Bintang tertawa garing, "Aku becanda," sangkalnya.
"Kirain serius, baru aja aku mau salto terus bilang IYA!"
Kali ini Bintang benar-benar tertawa, Bulan begitu polos, mungkin terlalu jujur juga. Tapi itu sangat menggemaskan. Tanpa sadar ia terus menatap Bulan, melihat gadis itu yang masih mengerucutkan bibirnya, rasanya ia ingin mencubitnya.
__ADS_1