MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
MAKAN MALAM


__ADS_3

Mega menyambut Bulan dan Bintang dengan heboh. Ternyata disana memang sudah ada Hingga dan Langit juga.


"Cantik banget mantu mami," puji Jingga. Ia menggandeng tangan Bulan agar duduk di dekatnya, membuat Bintang berdecak karena memang selalu saja seperti itu. Ketika Bulan bertemu Jingga, ia tersisihkan. Maminya itu pasti akan menguasai calon istrinya.


"Apa kabar nak?" tanya Langit saat Bulan menyalaminya.


"Baik, Pi. Papi apa kabar?" Tanya balik Bulan, karena pria itu baru saja pulang dari Jerman untuk tugas pekerjaan.


"Baik, papi punya oleh-oleh untuk kamu dan papa kamu. Nanti mami kamu yang kasih," kata Langit lagi.


"Terima kasih, Pi. Papi repot-repot," Bulan tampak senang.


"Gak repot, untuk mantu papi apa sih yang enggak."


Bulan tersenyum haru, ia beruntung berada di tengah-tengah orang-orang baik yang menyayanginya.


"Sudah-sudah, nanti kangen-kangenannya. Langsung makan saja yuk, nanti kita ngobrol-ngobrol," ajam Mega.


Mereka lalu menuju meja makan.


"Loh, Esta?" Bulan terkejut, ternyata Esta ada disana. Ah, kenapa juga ia harus terkejut? Bukankah Esta adalah kekasih Angkasa, wajar jika Esta berada disana.

__ADS_1


"Mbak Bulan," sapa Esta seraya tersenyum.


"Wah, semuanya sudah siap sayang?" Seru Mega, ia harus mengalihkan pembicaraan dulu, ada saatnya dimana ia akan bicara tentang anak dan menantunya.


"Sudah, ma.." kata Esta. Ia lalu mempersilahkan semua orang duduk dan menikmati hidangan yang tersedia.


Tak lama kemudian, Angkasa datang. Pria itu tampak terkejut karena semua orang ada di rumahnya. Ia memang tak tahu tentang undangan Mega untuk makan malam, sedari siang tadi, Angkasa tak bisa di hubungi.


"Kebetulan kamu sudah pulang, duduk sayang, kita makan malam," kata Mega.


Angkasa menatap semua orang yang juga tengah menatapnya. Tak ingin menimbulkan suasana tak nyaman, ia pun memutuskan untuk duduk di samping Esta.


Makan malam di mulai, semua orang sibuk menyiapkan makanan ke piring masing-masing. Namun Bulan justru terdiam, ia tengah mengamati Esta yang sedang menyiapkan makanan untuk Angkasa.


Bukan Bulan ingin mencampuri hubungan mereka, tapi sebagai sahabat, ia pasti akan ikut bahagia jika mereka bahagia. Dan Bulan ingin menjadi salah satu dari banyaknya orang yang ikut mendengar kabar bahagia dari mereka.


"Sayang, kenapa bengong?" bisik Bintang.


"Ah, enggak. Aku gak papa," Bulan sedikit terkejut.


Bintang tersenyum, mengusap puncak kepala Bulan dengan gemas, "Makan yang banyak, masakan mama Mega enak loh, beneran, kamu harus coba," bisik Bintang lagi.

__ADS_1


"Aku tahu sayang, dulu pas kamu di Amsterdam aku sering di bawain makanan sama Angkasa. Katanya masakan Tante Mega, emang enak banget."


JLEB


Bintang terdiam, ia lupa jika dulu orang terdekat Bulan adalah Angkasa. Dan mereka sempat menjalin hubungan meski sebentar, tentu saja Bulan tahu rasa masakan Mega.


Suasana makan malam itu terasa hangat, di selingi perbincangan-perbincangan juga tawa. Meski dalam hati Angkasa masih bertanya-tanya, untuk apa sang mama meminta mereka berkumpul? Bukankah ia sudah mengatakan pada kedua orang tuanya, bahwa ia ingin merahasiakan pernikahannya dulu. Dan kehadiran Esta disana pasti menimbulkan pertanyaan besar.


Selepas makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Di suguhi beberapa camilan sebagai makanan penutup, membuat Jingga yang akhir-akhir ini doyan makan jadi semakin betah saja.


Bulan bahkan duduk lesehan di karpet, pahanya di jadikan bantalan oleh Bintang yang merebahkan dirinya di karpet bulu tersebut. Pasangan bucin itu tak terpisahkan.


"Pijitin aku dong yank," pinta Bintang, ia meraih tangan Bulan, mengarahkannya di keningnya. "Pusing mikirin waktu, padahal tinggal dua Minggu, tapi berasa dua tahun."


Dan kalimat itu mendapat sorakan dari semua orang. Tingkah Bintang sebelas dua belas dengan Langit, karena meski pria itu sudah tak muda lagi, tapi sikap manjanya pada Jingga tak hilang-hilang atau berkurang.


"Gak sabaran banget loh, bucin akut," ledek Angkasa.


"Sirik, kamu atur dong pernikahan kamu sama Esta, supaya kita bisa double date nanti." Bintang menengadah, menatap Bulan yang tampak malu-malu, "Keras dikit yank," pintanya.


"Ah, iya. Aku mengundang kalian kesini ingin membicarakan itu," sambar Mega. Yang di angguki oleh Alex.

__ADS_1


DEG


Angkasa tersentak, jadi benar, kedua orang tuanya akan membicarakan pernikahannya dengan Esta?


__ADS_2