
Bintang menghentikan mobilnya di sebuah rumah, mengikuti Angkasa yang lebih dulu menghentikan motornya. Rumah berpagar tinggi yang tak kalah megah dan mewahnya dengan rumah miliknya.
Ia keluar dari mobil, menghampiri Angkasa yang tengah memegang kunci gembok besar di luar pagar. Keningnya berkerut melihat gembok besar itu tergantung, kerutannya menjadi lebih tajam saat ia melihat plang besar di atas pagar bertuliskan RUMAH INI DI SITA BANK.
"Sa, kok di sita?" Tanya Bintang.
Angkasa menggeleng, wajahnya tampak cemas, "Gue juga gak tahu."
"Kamu gak salah rumah kan?" Tanya Bintang lagi. Ia melihat rumah besar itu tampak sepi, penjaga pos satpam pun tak ada.
"Enggak lah, gue yakin bener ini rumahnya. Apa terjadi sesuatu sama keluarganya Bulan?"
Bintang menggeleng, "Mana aku tahu."
Angkasa berdecak, ia mengusap wajahnya dengan gusar. Terlihat jelas seberapa besar rasa cemas pemuda itu untuk Bulan.
Hal itu memancing rasa penasaran Bintang, ia lalu bertanya, "Kamu keliatan cemas banget. Ada apa? Atau jangan-jangan kamu suka sama Bulan?"
Angkasa terkesiap, ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Bintang, "Mana ada begitu, enggak lah. Lagian kalau pun gue suka sama dia, percuma kan? Yang dia suka itu Lo, bukan gue."
"Kalau kamu suka, kenapa gak coba nyatain? Siapa tahu dia terima kamu." Ucap Bintang, ia menepuk bahu Angkasa lalu tersenyum. Mereka bersandar pada motor sport berwarna hitam milik Angkasa, menatap gedung megah tiga lantai yang tampak sepi.
"Ck, percuma Bintang. Kalau pun gue di terima, gue gak mau macarin cewek yang belum selesai move on dari sepupu gue sendiri. Sakitnya tuh disini.." ucap Angkasa dengan dramatis, sebelah tangannya menyentuh dada Bintang. Yang sontak Bintang singkirkan seraya bergidik.
"Menggelikan," gerutu Bintang.
Angkasa tertawa, ia merangkul bahu Bintang lalu menepuknya beberapa kali, "Gue gak suka sama dia. Lo tenang aja.."
Bintang menghela nafas panjang, menyingkirkan tangan sang sepupu dari bahunya, "Apa sih, Sa!"
Angkasa tersenyum, ia menggelengkan kepalanya lalu kembali merangkul bahu Bintang meski Bintang kembali menyingkirkan tangannya.
***
Keesokan harinya, tidak biasanya Bintang Bagun lebih pagi dan bersiap ke sekolah lebih pagi. Ia turun ke bawah, menghampiri sang mami yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Karena meski ada pelayan yang siap memasak, tapi sebisa mungkin Jingga akan menyiapkan sendiri makanan untuk suami dan putranya.
Jingga tersenyum saat Bintang mengecup pipinya, kemudian pemuda itu duduk di meja makan lalu mengambil roti dan ia oles dengan selai kacang kesukaannya.
"Kok sarapan roti? Sebentar lagi masakan mami selesai kok," Jingga meletakkan nasi yang sudah ia siapkan sebelumnya ke atas meja, lalu kembali untuk mengambilkan susu coklat hangat kesukaan putranya.
"Aku buru-buru, mi.." ucap Bintang saat Jingga meletakkan segelas susu coklat yang masih tampak mengepulkan asap.
"Tumben, memangnya ada pelajaran sepagi ini?"
Bintang berhenti mengunyah, mengerjap lalu mendongak menatap Jingga yang berdiri di sebelahnya, ia lalu menggeleng, "Tidak ada mi, aku ada keperluan lain."
Jingga manggut-manggut, ia menahan senyum lalu menggoda putranya, "Keperluan hati yah?"
"Ish, mami. Bukan, aku pergi ya mi.." ia menyalami Jingga namun perempuan itu menahan tangan Bintang yang masih ia genggam. "Buru-buru, mi.." rengeknya.
"Susunya di minum dulu, sayang.."
Bintang tersenyum, ia mengangguk lalu meneguk susu coklat itu sampai tandas.
***
Sampai di parkiran sekolah, ia tak lekas turun. Helaan nafas panjang berhembus dari bibirnya saat mendapati parkiran di sebelahnya masih kosong. Itu artinya Bulan belum datang, ia hanya ingin meminta maaf pada Bulan, entah mengapa ia merasa harus menjelaskan tentang sikap buruknya beberapa hari yang lalu. Terutama saat Bulan melihatnya memeluk Zeni.
"Apa dia gak masuk lagi?" gumamnya. Ia memutuskan untuk turun dan pergi ke kelasnya.
Di dekat lapangan, ia melihat Bulan berjalan tak jauh darinya. Ternyata Bulan sudah datang, lalu kemana mobilnya? Bintang yang semula hendak mengejar Bulan urung saat gadis itu berbelok ke kelasnya.
"Biasanya ke kelas aku duluan," gumamnya.
Tak ingin menebak-nebak, Bintang melanjutkan langkah. Ia harus menemui Bulan untuk meminta maaf sesuai rencananya sejak kemarin.
Sementara Bulan, ia yang baru saja sampai di kelasnya kemudian menuju bangkunya. Duduk bersandar dengan mata terpejam, ia lalu menghela nafas panjang. Mulai hari ini, ia harus benar-benar fokus pada sekolahnya.
"Bulan.."
__ADS_1
Mendengar suara itu, Bulan sontak membuka mata. Ia terkejut saat mendapati Bintang berdiri tak jauh darinya. Entah sejak kapan pemuda itu masuk ke kelas, Bulan tak mendengar langkahnya sama sekali.
"Bintang?"
"Boleh ngomong sebentar?" Tanya Bintang.
Sejenak Bulan terdiam, mungkin masih tak percaya Bintang menghampirinya lebih dulu. Terasa seperti mimpi, tapi Bintang nyata berdiri tak jauh darinya. Ia lalu mengangguk, dan semakin terkejut saat Bintang duduk di sebelahnya. Jantungnya sudah berdetak tak karuan sejak pemuda itu memanggilnya, apalagi sekarang Bintang duduk di sebelahnya. Parfum pemuda itu bahkan tercium jelas memenuhi indera penciumannya.
"A-ada apa?" Tanya Bulan.
"Mmmm, aku cuma mau minta maaf."
"Untuk?"
Bintang tak menjawab, owmudacitu justru menatap Bulan, membuat Bulan salah tingkah lalu menunduk. Padahal ia sudah meyakinkan dirinya bahwa ia harus berhenti mengejar Bintang, tapi kenapa sekarang pria itu justru mendekat. Pertahanannya bisa roboh jika seperti ini, tidak, ia harus bersekolah dengan sungguh-sungguh demi sang papa yang menggantungkan harapan begitu besar padanya.
"Bintang, sebaiknya kamu ke kelas," ucap Bulan saat Bintang terus menatapnya.
Bintang mengerjap, pemuda itu berdehem lalu berkata, "Aku minta maaf karena sikap kasar aku waktu itu. Aku kebawa emosi, dan soal Zeni, aku memeluknya hanya untuk menenangkannya."
Dengan kening berkerut Bulan memberanikan diri menatap mata elang Bintang. Hatinya terasa porak poranda, pesona pemuda itu memang tak kaleng-kaleng. "Ka-kamu tidak usah minta minta maaf. Aku udah maafin kamu, dan tentang Zeni, tidak masalah buat aku. Kamu gak perlu menjelaskan juga, toh kita gak punya hubungan apa-apa kan? Hak kamu mau peluk siapa aja, aku udah belajar menerima apa yang kamu omongin ke aku. Aku memang harus fokus belajar, ujian udah dekat. Dan kamu tenang aja, mulai hari ini aku gak akan ganggu kamu lagi," Bulan tersenyum, lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Bukan karena aku tersinggung dengan ucapan kamu, tapi karena aku sadar, apa yang aku lakuin ke kamu emang gak ada gunanya. Aku masih bisa melakukan hal yang lebih berguna lagi dan fokus dengan sekolah aku. Thanks yah udah ngingetin aku," Bulan kembali tersenyum. Ia memalingkan wajah saat lagi-lagi Bintang terus menatapnya.
Entahlah, bukankah harusnya Bintang senang mendengar kalimat itu? Bukankah ia memang kerap merasa terganggu dengan kegigihan Bulan mengejarnya? Bukankah ini yang dia harapkan? Bulan tak mengganggunya lagi, dan ia akan tenang. Tapi kenapa ia justru tak suka mendengar ucapan Bulan? Mungkin karena selama hampir tiga tahun gadis itu mengganggunya, ia mulai terbiasa dengan kegilaan Bulan dan sikap di luar prediksi gadis itu.
"Itu bekal kamu?" Tiba-tiba Bintang bertanya, ia melihat kotak bekal di tas Bulan yang sedikit terbuka.
Bulan mengangguk, "Iya."
"Aku lapar!"
"Hah?"
IKAN ILKAN EH IKLAN.
Ges maaf kemaren Mak gak sempet up. Mak sibuk di dunia nyata🤣🤣 Sibuk milihin daster robek buat Bebeb main bola. Hahahaha
__ADS_1