
Angkasa menoleh saat seseorang ikut berbaring di sebelahnya. Ia menghela nafas panjang, ia tahu tujuan kedatangan Bintang menemuinya. Meski begitu, ia tetap bertanya, "Apa?"
"Kamu jadian sama Bulan?" Bintang tak basa basi, mendengar percakapan Angkasa dan Bulan siang tadi, ia tak bisa tenang. Padahal ia sudah tahu jawabannya, tapi ia tetap ingin bertanya untuk lebih memastikan.
Sekilas Angkasa menoleh, lalu kembali menatap langit-langit kamar. Pria itu terkekeh, "Lo ngintip kan tadi? Terus Lo kesini mau labrak gue, gitu?"
"CK, jawab aja apa susahnya, Sa?"
"Gak usah ngegas! Lo udah tahu kan jawabannya? Ngapain nanya lagi?" Angkasa beranjak duduk, menyugar rambut hitamnya ke belakang, membuat pria itu tampak seksi dan mempesona"Lo kesini cuma buat nanya itu?"
Bintang kembali berdecak, mengambil bantal di atas kepalanya lalu ia lempar pada sang sepupu, "Kenapa Sa?" tanyanya, raut wajah Bintang tampak frustasi, dan itu membuat Angkasa tertawa setelah sedikit mengomel karena lemparan bantal.
"Lo tanya aja sama Bulan," kata Angkasa.
Bintang menghela nafas gusar, lalu duduk bersebelahan dengan Angkasa. Mereka sama-sama menatap lurus ke depan, "Kamu kan tahu perasaan aku ke dia, kamu juga tahu perasaan dia ke aku. Aku cuma minta kamu jagain dia selama aku gak ada, kenapa Ujung-ujungnya malah di pacarin?"
__ADS_1
"Gue bilang, Lo tanya aja sama Bulan. Lo yakin kalau Bulan masih cinta sama Lo?" Angkasa menoleh, menatap Bintang yang kemudian juga menoleh.
Mendengar pertanyaan itu, Bintang tak bisa menjawab. Apalagi mengingat ucapan Bulan siang tadi, bahwa semua hanya angin lalu, hanya masa lalu yang sudah gadis itu lupakan. Bahkan Bulan meminta agar mereka bersikap seperti orang asing yang tak saling mengenal. Tapi mana bisa begitu?
"Kenapa dulu Lo gak kasih dia kepastian? Apa susahnya bilang cinta dan minta dia buat nunggu Lo? Lo malah pergi gitu aja, Lo bayangin gimana perasaannya dia. Lo PHP!"
"Kamu tahu sendiri alasannya, Sa! Aku cuma gak mau dia sedih, aku gak mau liat dia nangis saat aku pergi."
"Tapi tanpa Lo sadari, Lo udah bikin dia nangis bertahun-tahun. Lo gak tahu gimana susahnya dia buat move on dari Lo, Lo gak tahu sebengkak apa matanya saat dia tangisin Lo. Tiap hari Bintang, tiap hari dia nangis dan bilang kalau dia cinta sama Lo. Terus sekarang Lo berharap dia masih kaya dulu?"
Ia sempat bertanya pada Cici, tapi sambutan gadis itu kurang baik. Bukannya memberi kabar tentang Bulan, ia justru mendapat omelan sepanjang jalan kenangan dari gadis itu.
"Kasih dia waktu, Bintang. Dia cuma marah sesaat, cintanya masih buat Lo."
Bintang menoleh, menatap Angkasa penuh tanya, "Kalau kamu tahu cintanya cuma buat aku, kenapa kamu mau pacaran sama dia? Bukannya itu gak adil buat kamu?"
__ADS_1
Angkasa terkekeh, "Lo juga tahu kan gimana perasaan gue ke dia sejak dulu, bahkan sebelum Lo nyadar kalau Lo cinta sama dia. Jadi, kasih gue waktu juga buat nikmatin semuanya sebelum dia balik ke Lo."
"Sial! Jangan gila, Sa!"
"Gue emang gila, dan Lo berdua yang udah bikin gue gila."
Bintang mendengus, mau bagaimana pun juga, Angkasa dan Bulan sudah terlanjur resmi menjalin hubungan. Ia juga tak mungkin memaksa keduanya untuk mengakhiri hubungan mereka. Biarlah semua mengalir seperti air, dan dia akan berusaha mendapatkan Bulan dengan caranya.
Beberapa saat hening, Bintang beranjak.
"Mau kemana Lo?" tanya Angkasa.
"Makan, aku laper!"
"Lo kesini mau numpang makan doang?"
__ADS_1
"Salah satunya itu," jawab Bintang tanpa menoleh. Karena saat ia datang tadi, Mega tengah menyiapkan makan malam, dan perempuan itu mengatakan akan membuatkan makanan kesukaannya.