
"Bulan.."
Panggilan itu membuat Bulan tersentak, ia segera menghapus air matanya lalu berbalik. "Iya?"
"Kamu nangis?" Bintang menunduk, menatap mata sembab Bulan yang jelas terlihat. Hidung gadis itu bahkan memerah.
Bintang memang menyusul Bulan, tapi saat ia bertanya pada Jingga dan Mega, mereka mengatakan Bulan hendak menyusul papanya di ruang kerja Langit setelah gadis itu melihat koleksi bapperware terbaru milik Jingga.
"Aku kelilipan gajah," sangkal Bulan. Ia memalingkan wajahnya, lalu hendak pergi. Tapi Bintang menahannya.
"Jangan boong! Kenapa kamu nangis?" Tanya Bintang lagi. Dan bisa-bisanya jawaban gadis itu random. Kelilipan Gajah katanya?
"Aku bilang aku kelilipan, Bintang. Kenapa aku harus nangis? Aku itu Bulan yang kuat, aku gak pernah nangis kecuali saat kamu bentak aku."
Di ingatkan tentang kejadian itu, Bintang kembali merasa bersalah. "Aku minta maaf, aku gak sengaja bentak kamu. Saat itu aku.."
"Belain Zeni, iya kan?" potong Bulan. Gadis itu tertawa, lalu mendorong pelan dada Bintang, "Aku becanda. Serius amat, aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf."
Bintang tersenyum, menatap Bulan yang juga menatapnya. Mereka terus saling melempar senyum dengan tatapan yang menggambarkan sejuta kata yang tak bisa terungkap dari bibir masing-masing.
"Bulan, aku.."
__ADS_1
"Loh, kalian disini?" Langit bertanya memotong ucapan Bintang, ia tak tahu jika Bintang dan Bulan ada di dekat ruangannya.
"Iya, Om. Aku mau ajak papa pulang, gak enak udah malam. Takut ganggu istirahat Om dan Tante," jawab Bulan seraya tersenyum.
"Oh begitu, Tidak mengganggu kok. Baru pukul sembilan, masih terlalu dini untuk tidur." Ucap Langit, ia balas tersenyum.
"Kamu gak takut ganggu istirahat aku juga?" Tanya Bintang, ia memberengut karena Bulan tak menyebut namanya.
Baru saja Bulan hendak menjawab, Bumi dan Alex muncul dari dalam sana.
"Bulan?" Bumi menghampiri putrinya, ada ketakutan dalam hatinya saat melihat mata sembab Bulan. "Ada apa nak?"
Bumi mengangguk kemudian berpamitan pada Langit dan Alex. Tidak lupa juga ia mengucapkan terima kasih atas jamuan makan malam juga kerja sama yang baru saja terjalin.
Langit dan Alex mengantar mereka ke pintu depan. Tentu Bintang tak ketinggalan, ia menarik tali tas Bulan hingga gadis itu mundur sejajar dengannya, membiarkan pada bapak berjalan di depan mereka.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku," bisik Bintang.
"Apa?" Bulan tak kalah berbisik.
Bintang hendak menjawab, tapi Angkasa datang bersama pasukannya, Jingga dan Mega. "Ck, ganggu!"
__ADS_1
Angkasa hanya mengedikan bahu mendengar umpatan sang sepupu, ia tersenyum saat tatapannya beradu dengan Bulan.
"Kamu naik apa kesini?" Tanya Angkasa pada Bulan.
"Motor sama papa, kenapa emang?" Tanya Balik Bulan.
"Aku anterin aja, aku bawa mobil kok."
Bulan menggeleng, "Gak usah, kasian papa sendirian. Kamu juga mau pulang kan? Mama sama papa kamu gimana kalau kamu nganter aku, masa iya mereka jalan kaki," ucap Bulan.
"Tau nih, anak durhaka," celetuk Bintang.
Angkasa mendengus, memukul lengan sepupu menyebalkannya itu. Bintang memang selalu bisa membuatnya mati kutu.
Yang di pukul justru tertawa, puas juga sudah membuat Angkasa kesal.
"Kalian ini masih kaya anak kecil aja," celetuk Jingga. "Masih kecil rebutan mainan, sudah besar jangan sampai rebutan pacar," celetuknya lagi. Jingga melihat tatapan yang sama dari Bintang dan Angkasa pada Bulan.
"Uhuk uhuk uhuk," Bintang tersedak ludahnya sendiri, entah mengapa ucapan maminya itu sedikit mengena di hatinya.
Sedangkan Bulan, gadis itu hanya diam. Lagi pula mana mungkin dua pemuda itu sama-sama jatuh cinta padanya. Mustahil! Ia pun merasa tak pantas untuk mereka, apalagi setelah tahu tentang masa lalu mamanya. Bulan benar-benar merasa kerdil.
__ADS_1