
4 Tahun Kemudian..
"Kamu yakin gak mau nerima kesempatan emas kaya gini, Lan?"
Angkasa terus bertanya, ia tengah menawarkan pekerjaan pada Bulan. Satu bulan setelah wisuda, Bulan memang tengah gencar-gencarnya mencari pekerjaan.
Sesuai janjinya pada sang papa, Bulan berhenti bekerja di cafe milik Angkasa lalu fokus kuliah. Toko mebel milik Bumi memang maju pesat setelah ia bekerja sama dengan LaGroup, hingga kini mempunyai tiga cabang berbeda di tiga daerah berbeda. Karena itu Bulan menyetujui untuk kuliah tanpa harus susah-susah bekerja dahulu.
"Menurut papa, kamu coba saja dulu. Ini kesempatan emas sayang, dan kesempatan emas itu tidak datang dua kali. Lagi pula, untuk masuk ke LaGroup itu sangat sulit, seleksinya ketat, mereka tidak main-main dalam merekrut karyawan. Kamu beruntung di tawari langsung oleh Om Langit," ucap Bumi yang saat itu mendengar percakapan Angkasa dan Bulan.
"Tapi pa.."
"Apa sih yang kamu takutin?' Tanya Angkasa, "Papa kamu bener loh, jangan nyia-nyiain kesempatan yang sudah di depan mata." Angkasa menyeruput kopi panas yang Bumi sajikan, sejak kuliah di universitas yang sama, Angkasa memang sangat dekat dengan Bulan dan Bumi. Karena apalagi alasannya selain karena sering antar jemput Bulan. Panggilan gue elo bahkan sudah berubah menjadi aku kamu. Angkasa menjelma menjadi pria dewasa yang tampan dan mapan. "Kalau kamu terima tawaran itu, aku juga terima tawaran papa untuk kerja disana," timpalnya lagi.
Bulan berdecak, ia semakin bingung, "Ck, kalau kamu mau kerja disana, jangan tergantung sama aku, Sa."
"Gak gitu juga, Lan. Aku kan ojol pribadi kamu, iya gak om?" Angkasa menaik turunkan alisnya, membuat Bulan bergidik tapi Bumi justru tertawa.
"Aku pikir-pikir dulu deh," kata Bulan.
"Yah dia kelamaan mikir, om." Angkasa menggeleng, ia menatap Bumi meminta bantuan, tapi Bumi justru mengedikan bahunya seraya beranjak pergi, tidak lupa juga ia membawa kopinya.
__ADS_1
"Maksa banget kamu, Sa." Bulan melipat kedua tangannya di bawah dada, mendelik tajam pada Angkasa yang duduk bergeser mendekatinya.
"Kamu tuh masih takut ketemu Bintang?" Tanya Angkasa, raut wajah serius Angkasa membuat Bulan menghela nafas panjang.
"Aku gak takut, cuma males." Bulan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, matanya terpejam ketika bayangan wajah Bintang melintas di benaknya. Ia hanya tak ingin bertemu dengan pria itu lagi, pria yang sudah membuatnya sangat kecewa. Sejak Bintang pergi tanpa memberinya kepastian, Bulan memblokir semua akses komunikasi antara dirinya dan Bintang. Semua sosial media miliknya tutup akun, bahkan ia berganti nomor ponsel, juga mengancam Angkasa agar tak memberi tahu nomor barunya pada Bintang. Bulan benar-benar ingin melupakan Bintang dan mengubur semua kenangan manis yang sudah pria itu ciptakan sebelum pergi.
Cukup saat itu saja ia menjadi bodoh karena cinta, sekarang tidak akan lagi. Bulan menganggap dirinya bodoh, yang membiarkan Bintang berbuat semaunya tanpa sebuah status yang jelas. Dan sejak saat itu juga, ia membentengi dirinya dengan semua pria kecuali Angkasa.
Entah mengapa ia tak bisa menjauhi Angkasa, padahal ia juga sempat marah pada pria itu. Tapi karena Angkasa tidak bersalah dan gencar meminta maaf padanya, Bulan memaafkannya.
"Kamu belum move on dari dia? Hadapi Lan, sampai kapan kamu terus sembunyi? Lambat laun, sengaja atau tidak, kalian pasti akan bertemu." Angkasa menatap wajah sendu Bulan, bahkan 4 tahun berlalu tak cukup untuk Bulan bisa lepas dari bayang-bayang Bintang. Empat tahun juga ia hanya menjadi bayangan untuk Bulan.
"Sa, jangan bahas dia lagi. Sakit kepala aku, mendingan kamu pijitin aku, mau yah? Pijitan kamu kan kaya Mak Nur, tukang pijit langganan aku," ucap Bulan. Tanpa di minta, ia duduk membelakangi Angkasa, agar pria itu memijat kepalanya seperti biasa. Karena bukan hanya kali ini saja Bulan meminta Angkasa memijatnya, tapi berkali-kali tak terhitung.
"Apa apa apa?" Tanya Bulan seraya menoleh.
Tapi Angkasa sigap mengarahkan kepala Bulan agar kembali lurus membelakanginya. Lalu ia mulai memijat.
"Kenceng dikit, Sa!" pintanya, "Aw aw, gak kenceng-kenceng banget juga, Sa!" omelnya.
Angkasa mendengus, tapi ia tetap memijat Bulan sesuai permintaan gadis itu.
__ADS_1
"Kalau kamu mau nerima kerja di LaGroup, aku pijit kamu tiap hari selama satu bulan, gimana?" Angkasa masih berusaha, ia memberi penawaran agar Bulan tertarik.
"Ogah, masa cuma satu bulan."
"Dua bulan? Mau yah?"
"Gak!"
"Tiga bulan, gimana?"
"Emmm," Bulan tampak berpikir, ia memang tengah butuh pekerjaan, lagi pula, yang Angkasa katakan tadi memang benar. Ia tak boleh terus menghindar, ia harus berani move on dan mengetes hatinya jika bertemu dengan Bintang. "Deal!"
Angkasa membalik tubuh Bulan dengan kencang, membuat gadis itu kesal lalu mencubit lengannya. "Sakit, Lan.." rengeknya.
"Sama, gimana kalau aku salah urat? Narik-narik kenceng banget, tambah lah jadi lima bulan pijit gratis. Sakit nih bahu aku!" omel Bulan.
Angkasa berdecak, "Ck, iya-iya. Aku pulang dulu, mau ngabarin om Langit kalau kamu terima tawaran dia."
"Dih begitu, mijitin aku-nya gimana? Kan belum selesai?" protes Bulan.
"Besok aja aku lanjut. Salam buat om Bumi, bilangin aku pamit pulang dan terima kasih buat kopinya. Dah.." ucap Angkasa seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Bulan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Angkasa, meski menyebalkan, tapi pria itu memang sangat baik. Angkasa bahkan selalu pasang badan untuk melindunginya.