MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BINGUNG


__ADS_3

Sesaat Bulan menghentikan langkah saat ia melihat Bintang dan Angkasa bergabung di mejanya. Angkasa tampak tengah berbincang-bincang dengan Cici, sedangkan Bintang duduk tepat di sebelah kursinya yang kosong.


Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, jantungnya kembali berdegup kencang, padahal si jantung belum benar-benar tenang sejak tadi. Di tambah lagi pipinya kembali merona mengingat peraduan bibir tadi.


"Astaga, kenapa dia duduk disana sih?"


Tapi tak ada pilihan lain untuk Bulan selain menghampiri mereka. Sepanjang melangkah, ia berpikir bagaimana harus bersikap di hadapan Bintang. Ia sendiri masih sangat bingung apa arti ciuman itu, Bintang tak mengatakan apapun padanya.


Untuk sebagian orang, mungkin sikap saja sudah cukup untuk memperlihatkan rasa cinta, tapi bagi Bulan tak begitu. Tak cukup hanya sikap, tapi juga harus ada pernyataan. Sedangkan Bintang, pria itu tak menyatakan perasaan padanya tapi sudah berani menciumnya. Bulan ingin memprotes tapi ia pun sangat bahagia, entahlah, apa Bulan segampang itu?


Semua orang menoleh saat Bulan datang, ia duduk di kursinya, tepat di samping Bintang.


"Kok lama sih, Lan? Gue sempet mau nyusul Lo tadi, Lo gak papa kan?" Tanya Cici sesaat setelah Bulan duduk.


"Ekhemmm," Bintang berdehem, membuat Bulan salah tingkah dan gugup.


"I-itu, itu tadi gue, gue.."


"Mungkin toiletnya ngantri, kaya toilet umum," celetuk Angkasa.


Bulan mendengus kesal, Angkasa selalu saja asal bicara. Sayangnya, meski pria itu pecicilan dan menyebalkan, tapi Bulan akui Angkasa pria yang sangat baik.


"Jangan ngajak berantem disini ya, Sa!" ucap Bulan.


Alunan lagu di atas panggung membuat mereka diam, menikmati suara merdu artis ibu kota berwajah tampan.

__ADS_1


Bulan tersentak saat tangan Bintang menggenggamnya di bawah meja. Ia menatap genggaman tangan itu, kemudian menoleh pada Bintang yang tampak asik menikmati musik. Pria itu bahkan tak menoleh padanya, "Apa jangan-jangan dia salah pegang? Tapi gak mungkin lah, mau pegang siapa lagi emang? Masa iya pegang tangan Angkasa?"


Jantung, Bulan tak tahu lagi keadaan jantungnya. Karena terlalu berdebar-debar, hingga rasanya mau meledak. Meledak mengeluarkan ribuan kupu-kupu indah yang berterbangan mengelilinginya. "Ya Tuhan, ini nyata kan?"


Sampai beberapa lagu mengalun pun, Bintang tak melepas genggaman tangannya. Sesekali pria itu menggerak-gerakkan ibu jarinya, mengusap punggung tangan Bulan atau memainkan jari telunjuk Bulan.


Hanya seperti itu saja sudah membuat hati Bulan berdesir hebat. Apalagi ketika Bintang membawa genggaman tangan mereka ke pangkuannya, membuat Bulan sedikit tertarik lebih dekat dengan pria itu.


"Ekhem ekhem, gandengan aja kaya mau nyebrang," sindir Cici yang duduk di sisi Bulan yang lain. Ia tak sengaja melihat Bintang menggenggam tangan Bulan, tentu ia senang melihat pemandangan itu, karena itu ia tak tahan untuk menggoda mereka berdua.


Bulan malu, ia hendak menarik tangannya dari genggaman Bintang, tapi pria itu justru mengeratkan genggaman tangannya.


"Gak usah di umpetin kali, biar semua orang liat," ucap Cici.


Bulan hendak menyahut tapi kedatangan seseorang membuatnya kembali bungkam.


"Mau nyamperin temen-temen gue lah, gak usah GR Lo!" Zeni yang saat itu baru saja datang tiba-tiba duduk di sebelah Bintang dan Angkasa.


"Katanya gak dateng, kenapa tiba-tiba dateng?" Tanya Angkasa.


"Tau tuh Bintang," ucapnya dengan kesal.


Bintang mengerutkan dahinya, kemudian menoleh pada Zeni, "Kenapa jadi aku?"


"Kamu tuh, katanya bilang gak dateng, tapi pas aku tanya sama temen-temen yang lain kamu dateng. Makanya aku mendadak kesini, tau gitu aku dateng dari tadi," gerutu Zeni.

__ADS_1


Saat Zeni bertanya, Bintang memang mengatakan ia tak akan datang. Tadinya memang seperti itu, tapi ia harus bertemu dengan Bulan, ia harus meminta maaf pada gadis itu meski caranya meminta maaf sedikit ekstrim. Itu karena Bintang bingung harus bicara apalagi, Bulan masih saja bersikap ketus padanya, karena itu ia memilih jalan pintas untuk membuat Bulan tak marah lagi. Yaitu dengan cara membungkam bibir Bulan dengan bibirnya.


"Kalau mau dateng ya dateng aja, gak usah tergantung sama aku. Lagian kan ini acara umum, bukan acara khusus aku. Kamu juga kan kelas 12, harusnya ya dateng aja," sangkal Bintang.


Zeni tampak memberengut, apalagi ketika ia melihat tatapan tak malas Angkasa padanya. Di tambah lagi, Bulan yang duduk sangat dekat dengan Bintang, belum lagi tatapan Cici yang seperti ingin menerkamnya.


Menyadari tangan Bintang dan Bulan saling menggenggam, Zeni bertambah kesal. Jika dapat terlihat, mungkin dari kepalanya keluar dua tanduk.


Bulan tak nyaman dengan tatapan Zeni padanya, ia menarik tangannya dari genggaman Bintang, membuat pria itu menoleh dan menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Bintang sedikit berbisik.


Bulan menggelengkan kepalanya, "Gak enak sama temen kamu." jawab Bulan, ia juga sedikit berbisik, membuat posisi mereka saling berdekatan. Hal itu semakin membuat Zeni berapi-api.


"Wah wah wah, akhirnya Bintang luluh juga sama Bulan, tapi udah mau lulus, udah jadian yah?" celetuk salah satu teman mereka yang duduk tak jauh dari meja mereka.


Bintang menoleh, ia hanya tersenyum menanggapi godaan teman-temannya yang lain. Sedangkan Bulan, ia bingung harus berbuat apa, karena buktinya, sampai sekarang tak ada pernyataan yang menyatakan bahwa mereka telah resmi menjalin sebuah hubungan.


Tiba-tiba Bintang kembali menggenggam tangan Bulan, ia beranjak lalu berkata, "Aku sama Bulan pulang duluan yah. Kalian have fun."


"Loh, Bintang?" Bulan menghentikan kalimatnya, ia bingung Bintang tiba-tiba mengajaknya pulang. Sungguh, malam ini banyak sekali kejadian yang membuatnya bingung.


"Eh, Lan. Gue gimana?" Tanya Cici.


"Pulang sendiri aja," ucap Bintang. Ia tak memberi kesempatan pada siapapun untuk menahannya membawa Bulan.

__ADS_1


Bahkan Zeni terdengar menggerutu. Baru saja ia datang, itu pun demi Bintang. Tapi pria itu pergi begitu saja. "Menyebalkan!!"


__ADS_2