
"Ekhem, selamat malam Tuan Bumi," Langit tersenyum, mengganggu kehangatan Bulan dan Bumi karena ia merasa tak tahan ingin menemui tamunya itu.
"Tuan Langit, maaf-maaf. Selamat malam," Bumi mengulurkan tangannya, menyalami Langit yang di sambut senang oleh sang tuan rumah.
"Tidak apa tuan Bumi, selamat malam juga. Ini putrimu?"
Bumi mengangguk, "Iya tuan, namanya Rembulan," Bumi memperkenalkan Bulan. Gadis itu tersenyum lalu menyalami Langit dengan sopan.
"Selamat malam, om. Saya Bulan," ucap Bulan.
"Nama yang cantik, sesuai dengan orangnya. Duduklah nak," ucapnya. Langit pun duduk di sofa yang lain, berseberangan dengan Bumi dan Bulan. Meja terbuat dari kaca sebagai pembatasnya.
Bulan tersenyum malu, ternyata benar apa yang sang papa katakan, Langit orang yang sangat ramah dan baik. Namun meski begitu, raut wajah pria itu terlihat tegas dan berkharisma. Wibawa kepemimpinannya begitu jelas terlihat. Hanya sekilas saja, sudah terlihat bahwa pria paruh baya itu bukanlah orang sembarangan. Wajah Langit memang wajah tipe-tipe seorang Presdir.
Kemunculan Bintang membuat semua orang menoleh. Pemuda itu tersenyum ramah lalu duduk di samping sang papi. Mereka terlihat seperti pinang di belah dua, pantas Bintang begitu tampan, karena Langit mewariskan ketampanannya pada pemuda itu. Meski usian Langit tak muda lagi, namun garis ketampanannya masih jelas terlihat.
"Tumben mau gabung," sindir Langit. Karena biasanya pemuda itu sangat sulit di ajak berkumpul bersama teman-teman papinya. Menghadiri acara undangan bisnis pun Bintang kerap menolak, jika pun mau, itu karena ancaman Jingga yang meminta Bintang menjadi member bapperware.
"Gak boleh, Pi?" tanyanya.
Langit tertawa tanpa suara, menepuk bahu sang putra lalu berkata, "Ajak Bulan keliling rumah, kalian sepertinya seumuran," ucapnya.
__ADS_1
Bintang berdehem, melirik Bulan yang tampak menunduk. Bintang lalu mengangguk.
"Nak Bulan, pergi lah bersama Bintang. Om dan papa kamu akan membicarakan kerja sama bisnis. Om takut kamu bosan," ucap Langit.
Bulan mengangguk, "Iya om, kalau gitu aku permisi dulu," pamitnya. Tidak lupa juga Bulan berpamitan pada sang papa. Ia lalu menghampiri Bintang yang sudah menunggunya, belum apa-apa jantungnya sudah memberontak, seperti mau meloncat dari tempatnya.
"Kita ke roof top," ucap Bintang.
Bulan hanya mengangguk mengiyakan, lidahnya terasa kaku untuk bicara, "Ya Tuhan, tenangkan jantung aku."
Sepanjang mereka berjalan menuju roof top, hanya keheningan yang menyertai. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan, sampai mereka tiba di pintu penghubung ke roof top, Bintang mempersilahkan Bulan berjalan lebih dulu.
Gadis itu memeluk dirinya sendiri, ternyata angin di roof top cukup kencang.
Bulan tersenyum, "Sedikit," jawabnya.
Karena Bintang pun tak memakai sweater, ia menghampiri Bulan dan berdiri di hadapan gadis itu. Ia raih kedua tangan Bulan, menggenggam jemari-jemari lentiknya dan sesekali ia usap-usap agar menimbulkan kehangatan.
Bulan terpaku dengan sikap manis Bintang, andai mereka benar-benar sepasang kekasih, mungkin Bulan akan menjadi gadis paling bahagia dan beruntung.
"Lumayan hangat kan?" Tanya Bintang, ia terus mengusap-usap jemari tangan Bulan.
__ADS_1
Bulan mengangguk, "Thanks," ucapnya. Ia menatap wajah tampan Bintang, pria itu sibuk menghangatkan jemarinya, mungkin tak sadar Bulan tengah menatapnya dengan penuh cinta.
"Apa aku seganteng itu? Kamu hampir ngiler," celetuk Bintang.
Bulan tergagap, jadi ternyata, pemuda itu tahu ia tengah menatapnya. "PD, mana ada aku ngiler," elaknya. Bulan bahkan tanpa sadar mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, membuat Bintang tertawa melihat kepolosan gadis itu.
"Ish, udah ah," ucapnya. Bulan menarik sebelah tangannya yang lain yang masih Bintang genggam, ia lalu pergi ke pagar pembatas roof top.
Bintang pun menyusulnya, berdiri di sebelah Bulan dan menatap langit malam itu. Langit malam bertabur bintang yang sangat indah, ada bulan sabit juga yang menyempurnakan keindahannya.
"Kamu lihat, Bintang. Keindahan malam akan semakin sempurna jika Bulan dan Bintang bersama. Tapi sayangnya Bintang yang ini gak pernah mau bersama Bulan," Bulan memberengut, bibirnya mengerucut lucu.
"Bulan, aku.."
"Tapi gak papa," potong Bulan. "Biarpun Bulan dan Bintang tidak pernah bisa bersatu, setidaknya, Bulan dan Bintang masih bisa terus berdampingan untuk menyempurnakan keindahan malam. Membuat langit malam terlihat indah karena kebersamaanya. Iya kan?"
Bintang terdiam beberapa saat, kemudian berkata, "Iya, kamu benar. Bulan dan Bintang memang tidak bisa bersatu, meski mereka berputar di satu rotasi yang sama dan menetap di langit yang sama. Mereka berbeda, tapi bukankah untuk bersatu tidak hanya memerlukan kesamaan aja? Perbedaan juga terkadang memberi warna."
Bulan menoleh, menatap Bintang yang juga tengah menatapnya. "Bintang, apa kamu.."
KRING KRING KRING
__ADS_1
Suara dering ponsel milik Bintang memotong ucapan Bulan, pemuda itu merogoh ponselnya dari saku celana, "Mami?"