MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
CEMBURU


__ADS_3

"Pagi pacar aku," goda Angkasa. "Sini aku pakein helmnya," dengan lembut ia menarik tangan Bulan agar mendekat, lalu memasangkan helm di kepala gadis itu. Dengan telaten ia merapikan beberapa helai rambut yang terjepit helm dan menjuntai di kening Bulan. "Pake helm juga cantik banget, pacar siapa sih ini?"


Bulan tak menjawab, hanya mencebik dan menoyor pipi Angkasa. Ia lalu naik ke boncengan. Hari ini adalah hari pertama angkasa menjemputnya dengan status baru, yang sebelumnya hanya sahabat, kini pria itu sudah resmi menjadi kekasihnya.


"Pegangan, aku mau ngebut," ucap Angkasa, ia menarik kedua tangan Bulan, menuntun tangan gadis itu agar melingkar di perutnya.


"Modus," gerutu Bulan.


"Modus sama pacar sendiri mah boleh," sangkalnya, "Papa kamu mana? Aku belum pamit, aku juga belum pamer kalau sekarang kamu resmi jadi pacar aku. Papa kamu kan suka ngeledek aku, katanya aku jomblo ngenes yang di tolak berkali-kali sama kamu tapi gak bisa move on."


Bulan tertawa, "Papa udah pergi ke toko. Ada pertemuan sama om Langit katanya, ayok berangkat, nanti kita telat."


"Yah gagal pamer," gumam Angkasa lalu menyalakan motor kesayangannya. Motor yang sejak dulu menjadi teman galaunya.


Sepanjang perjalanan, mereka asik mengobrol. Membicarakan apa saja yang terkadang membuat mereka tertawa, padahal yang mereka lihat tak terlalu lucu, tapi keduanya tertawa lepas.


Angkasa menghentikan laju motornya ketika lampu rambu lalu lintas berubah merah, ia menurunkan sebelah kakinya menahan keseimbangan motornya. Sebelah tangannya memegang kemudi, sebelah tangannya yang lain asik memainkan jari jemari Bulan yang melingkar di perutnya. Sesekali Angkasa mengusap punggung tangan Bulan, sesekali mencubit jemari lentik Bulan yang membuatnya gemas.


Mereka masih asik mengobrol, hingga mereka tak menyadari sepasang mata tajam mengawasi mereka.


"Ternyata rasa cemburu sepanas ini," gumam pria itu.


Adalah Bintang, yang juga kebetulan menghentikan mobilnya karena lampu rambu lalu lintas berubah merah. Ia berhenti tepat di sebelah motor Angkasa, namun sepertinya baik Angkasa maupun Bulan tak menyadari keberadaannya. Kali ini Bintang pun tahu dan dapat merasakan bagaimana sakitnya tak terlihat oleh seseorang yang di cintai.


Seperti sebuah karma, bahkan mungkin rasa sakitnya lebih sakit dari yang dulu Bulan rasakan. Jika dulu Bulan mengejarnya yang tak mempunyai kekasih, kali ini ia harus mengejar Bulan yang sudah mempunyai kekasih. Konyolnya, ia harus bersaing dengan sepupunya sendiri.


"Ini baru awal, aku tidak akan menyerah begitu saja, Bulan." Sekian tahun Bulan setia mengejarnya, masa iya ia harus menyerah dalam waktu beberapa hari saja?


***


Angkasa mengerutkan dahinya karena tiba-tiba Bulan melonggarkan lingkaran tangannya, gadis itu duduk tegak menjauh darinya. Ia pun menoleh, tanpa sengaja ia melihat mobil yang juga tengah berhenti. Mobil yang sangat ia kenali, "Jadi karena ada Bintang, dia menjauh?"


Pria itu tersenyum kecut, bahkan Bulan masih ingin menjaga perasaan Bintang yang pasti melihat mereka.


"Ada Bintang yah?" Tanyanya pada Bulan, ia sedikit menoleh, ingin melihat reaksi Bulan seperti apa.

__ADS_1


Bulan tampak terkejut, ia memalingkan wajahnya, gadis itu enggan menjawab karena Angkasa pun pasti sudah tahu jawabannya.


"Kamu gak mau dia cemburu karena ngeliat kita?" Tanya Angkasa lagi.


Bulan menghela nafas panjang, "Gak gitu, Sa."


"Terus?"


Dengan kesal Bulan menatap Bintang, entah mengapa moodnya jadi hancur, "Bisa gak jangan bahas dia? Kalau kamu masih mau bahas dia, aku turun disini aja. Aku lanjut naik taksi!"


Terbalik, bukankah seharusnya Angkasa yang kesal? Namun Angkasa mengingat rumus yang di katakan sang papa, belajar dari pengalaman papanya, bahwa semua wanita itu benar! Jika pun mereka salah, anggap saja mereka benar.


"Iya iya, jangan marah sayang. Aku cuma nanya," kata Angkasa.


"Nanya yang lain aja!" ucap Bulan dengan ketus.


Angkasa terkekeh, ia kembali menggenggam tangan Bulan. Ternyata sebahagia ini memiliki Bulan, meski ia tahu hati gadis itu bukan untuknya. Ia hanya bisa memiliki raganya saja, mengenai hati, tentu Angkasa tahu hati Bulan untuk siapa. Ia hanya bisa menikmati perannya sebagai kekasih Bulan sebelum gadis itu kembali pada pemilik hatinya.


Lampu rambu lalu lintas berubah kuning, Angkasa pun bersiap, dan kembali melajukan motornya saat lampu tersebut berubah hijau.


Begitu pun dengan Bintang, ia kembali melajukan mobilnya. Berusaha berkonsentrasi berkendara meski fokusnya sudah terbagi.


***


"Loh, bukannya jadwalnya besok ya mbak?" dengan kening berkerut Bulan bertanya, karena setahunya jadwal untuk proyek itu di mulai besok.


"Pak Bintang rubah jadwal. Katanya lebih cepat lebih baik, kita mah bisa apa selain nurut. Aku sih seneng-seneng aja Lan, sekalian cuci mata liat pak Bintang," Gea sedikit berbisik, ia terkikik di akhir kalimatnya.


"Pak Bintang juga ikut?" Tanya Bulan.


Belum sempat Gea menjawab, Gilang datang membawa kotak bekal yang ia letakkan di meja Bulan.


"Sarapan special buat gadis ku yang special," ucapnya dengan dramatis.


"Buat gue mana Lang?" Gea mengulurkan tangannya, meminta bekal yang sama dengan Bulan.

__ADS_1


"Gak ada! Gue cuma bikin satu dan itu khusus untuk Rembulan." Gilang duduk di tepian meja, menatap Bulan yang duduk di kursinya. "Di makan ya cantik," ucapnya.


"Apasi Lang, turun kamu! Gak sopan banget duduk di meja aku," Bulan mengomel, "Aku udah sarapan," ucapnya lagi. Lalu ia memberikan kotak bekal itu pada Gea, "Ini mbak, buat mbak aja. Aku kenyang."


Gea tersenyum lebar, ia memang belum sarapan, "Dengan senang hati Bulan, thanks." Gea lekas mengambil kotak bekal itu sebelum Gilang kembali mengambilnya.


"Kok gitu sih yayang Mbul? Itu kan spesial buat kamu, calon pacar aku!" Dengan percaya dirinya Gilang mengklaim calon pacar Bulan, membuat Angkasa yang baru saja datang mengeram kesal.


"Sayang.." Angkasa sengaja mengeraskan suaranya memanggil Bulan sayang, agar semua orang tahu bahwa Bulan adalah miliknya.


"Sayang?" gumam Gilang. Tatapannya mengikuti Angkasa yang berjalan mendekat pada Bulan, tanpa ragu Angkasa melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.


"Ada yang ganggu kamu yank?" Tanya Angkasa.


Bulan menahan tawa, melihat raut wajah terkejut Gilang, ia jadi ingin sengaja mengompori pria itu.


"Dia ganggu aku sayang, dia gak tahu aku pacar kamu," rengek Bulan.


Meski hanya sandiwara, Angkasa senang bukan main Bulan memanggilnya sayang. Apalagi jika Bulan benar-benar memanggilnya sayang, mungkin pria itu bisa kayang.


"Pacar?"


"Pacar?"


Gea dan Gilang terlihat kompak.


"Sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Gilang, "Bukannya pak Angkasa bilang saingan saya itu berat? Jadi sebenernya saingan saya itu pak Angkasa sendiri?" Gilang merasa di kelabui.


"Hei! Memangnya kamu pikir aku bukan saingan yang berat!" Tanya Angkasa, raut wajahnya tampak sengit.


"Bu-bukan begitu pak, maksud saya.."


"Alah sudah lah, kamu ini bikin saya darting aja pagi-pagi. Sana balik ke meja kamu!"


"Baik pak, permisi." Gilang kemudian menatap Bulan, "Dah yayang Mbul.."

__ADS_1


"Heh! Masih berani godain pacar atasan kamu? Cari mati kamu?" Angkasa mengomel, hendak melempar Gilang dengan ponsel namun Bulan merebutnya.


"Ponsel aku, Sa! Enak aja mau main lempar!" Omel Bulan, ia mengusap-usap ponselnya lalu mendelik tajam pada Angkasa yang tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


__ADS_2