MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BOLEH KHILAF LAGI?


__ADS_3

"Sun dulu dong calon istri," pinta Bintang saat Bulan hendak turun dari mobil.


Bulan mencebik, "Gak, kamu suka minta bonus! Nanti kebablasan," tolak Bulan.


"Ish begitu, pelit banget neng. Awas aja nanti, kalau kita udah nikah, aku gak akan lepasin kamu. Kalau perlu kita pergi bulan madu terus pagi siang malam aku gak akan biarin kamu turun dari ranjang. Liatin aja nanti," Bintang tersenyum menyeringai, membayangkannya saja sudah membuatnya tak sabar.


Bulan bergidik, ia jadi takut, "Jangan gila deh mas, mau bikin aku gak bisa jalan?"


"Iya, aku emang gila. Aku tergila-gila sama kamu oooh Rembulan ..."


Bulan tertawa, menjalin hubungan dengan pria itu membuatnya semakin banyak tahu. Tahu tentang hal-hal aneh dan sisi lain dari seorang Bintang.


Bintang sangat dingin, ketus dan sulit di dekati. Tapi Bintang yang sekarang dengannya sangat berbeda, gombal, banyak bicara, manja bahkan mes*m.


"Kamu mau mampir dulu?" Tanya Bulan mengalihkan pembicaraan saat Bintang mulai mendekat. Karena setiap kali Bintang mendekatinya, jantungnya berdetak tak karuan. Pesona pria itu membuat tubuhnya tertarik, padahal hatinya menolak melakukan hal-hal yang kerap membuat keduanya mabuk kepayang dan nyaris khilaf.

__ADS_1


"Udah malam, nanti aku malah ganggu papa. Aku pulang aja," ucap Bintang. Ia berhenti bergerak, menatap wajah gugup Bulan dengan penuh damba. Semburan merah di pipi gadis itu semakin membuatnya gemas.


"Mas Brondong, aku turun dulu," cicit Bulan dengan pelan.


"Boleh, tapi bayar dulu taksi onlinenya."


Bulan mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan ucapan kekasihnya, "Aku harus bayar?"


Bintang mengangguk, ia menyodorkan pipinya, "Bayar pakai ini," ucapnya.


"Ih modus!" Meski mengomel, Bulan mendekat, hendak mengecup pipi Bintang namun dengan sengaja pria itu merubah posisi hingga Bulan mengecup bibirnya.


Perlahan Bulan membalas, gadis itu mulai terbuai dan memejamkan mata saat Bintang mel*mat lembut bibirnya. Ah Bulan memang lemah, ia tak bisa menolak pesona pria itu. Pria yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak bertahun-tahun lalu.


Bintang yang mendapat lampu hijau dari calon istrinya semakin menginginkan gadis itu. Ia terus mengeksplor isi bibir Bulan, menggoda lidah gadis itu dengan lidahnya.

__ADS_1


Sampai ketika tangannya merambat turun menyentuh dada Bulan, gadis itu melepas pagutan bibirnya dan menahan tangannya.


"Mas, udah," pinta Bulan dengan suara lembut.


Bintang menatap Bulan dengan mata sayu, pria itu mulai di kuasai hasratnya. "Maaf," lirihnya.


Bulan terkekeh, "Kamu benar-benar bahaya, mas. Kalau aku-nya khilaf, mungkin kita bisa kebablasan. Katanya gak bakalan kaya gitu lagi, kenapa sekarang gak bisa nahan?"


Bintang mengusap bibir basah Bulan dengan ibu jarinya, masih mencari kesempatan mengecup kening gadis itu, lalu ia kembali duduk lurus, "Gak tahu, tiap deket sama kamu, aku gak bisa nahan. Makanya aku nyesel, kenapa waktu itu aku kasih kejutan pertunangan ke kamu? Kenapa gak langsung aku nikahin aja."


Bulan jadi tertawa, ia memeluk lengan Bintang dengan gemas, "Sabar ya mas brondong, dua minggu lagi kok."


Mendengar kata dua Minggu, Bintang terlonjak, ia lalu berkata, "Dua Minggu lagi, Astaga, itu artinya aku ketemu kamu cuma tinggal seminggu lagi? Seminggunya kita di pingit, iya kan sayang?"


Bulan mengerjap, ia juga baru ingat, "Eh iya ya mas? Aku juga baru engeuh."

__ADS_1


Bintang mengusap wajahnya, raut wajah pria itu tampak putus asa, ia lalu menoleh pada sang kekasih, "Boleh aku khilaf lagi gak?"


"Hah?"


__ADS_2