
Bulan sudah menyelesaikan soal ujiannya sejak lima menit yang lalu, tapi gadis itu masih betah duduk di bangkunya. Menatap lekat punggung pemuda tampan yang sangat di cintainya.
Sebulan belakangan, ia dan Bintang memang di satukan dalam satu kelas saat bimbingan belajar. Tapi tempat duduk mereka tak sedekat ini, bahkan Bintang terkesan menghindarinya. Dan kali ini, takdir kembali mendekatkan mereka, duduk berdekatan meski tak saling menyapa.
Ingin rasanya Bulan menyapa Bintang, dan mengatakan betapa ia merindukan senyum Bintang uang pernah ia lihat dulu, namun ia tak seberani itu, apalagi Bintang kembali bersikap dingin padanya.
Entahlah, Bintang memang sulit di tebak. Terkadang pemuda itu bersikap ramah, baik dan manis, tapi dalam sekejap pemuda itu bisa berubah kembali acuh dan dingin. Bulan tak tahu sebabnya, ia hanya bisa membiasakan dirinya menjauh dari Bintang.
"Lima belas menit terakhir," seru pengawas di depan sana.
Bulan menghela nafas dalam, entah mengapa ia justru ingin lebih lama lagi tinggal di kelas. Dengan enggan ia beranjak, meninggalkan meja ujian beserta soal dan isi ujiannya. Melewati Bintang yang ternyata juga ikut beranjak.
Tak tahan rasanya ingin menoleh, tapi leher Bulan mendadak kaku. Ia terus berjalan keluar kelas setelah berpamitan pada pengawas ujian.
"Bulan.."
DEG
Suara itu begitu terdengar merdu, bak nyanyian cinta berujung rindu. Perlahan Bulan menoleh, tersenyum saat Bintang berdiri menatapnya.
"Iya?" jawabnya.
"Ini punya kamu?" Bintang menunjukan bolpoin yang terjauh di depan pintu kelas. Karena gugup dan terlalu kaku, Bulan sampai tak sadar benda itu terjatuh dari saku roknya.
__ADS_1
"I-iya, kenapa bisa sama kamu?"
Bintang tak lekas menjawab, ia menghampiri Bulan dan berdiri di hadapan gadis itu, "Tadi jatuh di dekat pintu."
"Ah gitu, makasih.." ucapnya, Bulan berdehem gugup, lalu pamit pada Bintang, "Aku duluan."
Bintang mengangguk, "Good luck untuk ujian kamu," ucap Bintang tiba-tiba.
Bulan sontak kembali menghentikan langkahnya, ia berbalik dan tersenyum, "Good luck juga buat kamu," balasnya. Sesuatu yang tak pernah Bulan duga sebelumnya, ternyata Bintang masih mau menyemangatinya.
Bintang mengangguk, meski sikap pemuda itu dingin, tapi tatapan Bintang menyiratkan hal lain. Pemuda itu lalu pergi melewati Bulan tanpa berkata apapun lagi.
Bulan menghirup udara sebanyak-banyaknya, kedua tangannya mengipasi wajahnya yang memanas, ternyata masih sedahsyat ini efek dari suara Bintang. Apalagi kalimat yang pemuda itu lontarkan padanya adalah kalimat penyemangat, yang meski sangat sederhana, tapi amat berarti untuk Bulan.
Kalimat itu membuat Bulan menoleh, ia tersenyum malu, "Apasi, Sa!"
"Lo masih suka sama dia? Dia udah kaya es kutub juga," kata Angkasa. Ia menghampiri Bulan dan menatap gadis itu dengan tatapan...entahlah.
"Buat ngelupain cinta itu gak segampang berkedip, Sa. Gak mungkin aku bisa instan lupain dia. Susah, apalagi aku suka sama dia udah 3 tahun, kebayang kan sedalam apa cinta aku ke dia. Kalau di ukur-ukur, mungkin dalamnya ngalahin sumur bor di rumah kamu," ucap Bulan dengan asal.
Angkasa tertawa, mencubit ujung hidung mancung Bulan dengan gemas, "Bisa aja ngomongnya, udah yuk pulang. Gue anterin Lo, biar Lo bisa ngirit ongkos."
Angkasa menarik tangan Bulan, membuat Bulan mau tak mau mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Tapi Cici belum keluar, Sa. Aku mau nungguin dia aja," tolak Bulan. Tapi Angkasa tak menggubrisnya. Pemuda itu terus menarik tangan Bulan hingga ke parkiran.
Bulan sontak menarik tangannya saat mendapati mobil Bintang masih terparkir disana. Entah hanya perasaannya atau bukan, ia merasa Bintang memperhatikannya dari dalam mobil.
"Yaelah, santai aja kali Lan," sindir Angkasa.
Bulan berdecak, jika di pikir-pikir benar yang Angkasa katakan, harusnya Bulan bisa santai. Toh Bintang bukan pacarnya, yang akan marah ketika melihatnya dengan pria lain. Bintang juga tak akan perduli, begitu bukan?
Angkasa kembali menarik Bulan agar mendekat padanya, lalu pemuda itu memasangkan helm di kepala Bulan. Ia usap dahi Bulan, agar beberapa helai rambut yang menghalangi pandangan gadis itu bisa ia rapihkan dan ia selipkan ke dalam helm.
"Yuk, naik," ucapnya saat helm sudah terpasang sempurna di kepala Bulan.
Bulan mengangguk kaku, ia lalu naik ke boncengan Angkasa. Ia sempat menoleh ke arah mobil Bintang, entah mengapa ia merasa tak enak pada pemuda itu. Lalu Bulan kembali menekankan hatinya, bahwa Bintang juga tak akan perduli padanya. Bintang bukan kekasihnya!
"Pegangan, gue mau ngebut!" Angkasa menarik kedua tangan Bulan, melingkarkannya di pinggangnya.
Bulan yang masih melamun tak menolak, ia bahkan terlihat seperti memeluk Angkasa.
Sementara Bintang, pemuda itu menghela nafas panjang lalu memalingkan wajahnya. Ia nyalakan mesin mobilnya lalu mulai melakukan mobilnya di belakang Angkasa.
IKLAN
Ges ramein komennya atuh, aku tuh suka semangat kalo banyak yang komen. 🥺🥺
__ADS_1
Oiya, aku bikin ujian sekolah BulanBintang masih manual yah, gak pake komputer2an. Soalnya aku kananak tahun 2000an, yang masih rada jadul 😜