MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PERDEBATAN


__ADS_3

Tepat pukul 16.30 sore, bimbingan belajar selesai. Bulan tengah membereskan buku pelajarannya saat Zeni menghampirinya.


“Kok lo bisa sih bertahan di sekolah ini? Padahal kan biaya di sekolah ini gak murah, gue denger-denger bokap lo bangkrut. Ngamen dimana buat nyari duit?”


Mendengar kalimat itu, pergerakan tangan Bulan sempat terhenti, ia menghela nafas panjang dan mencoba tak perduli dengan semua kalimat yang Zeni lontarkan. Ia hanya ingin fokus sekolah dan menghindari masalah.


Hal itu semakin membuat Zeni kesal, ia tersenyum sinis dan kembali berkata, “Lo jual diri yah? Di bayar berapa sama sahabat gue buat biaya sekolah lo? Oh, gue tahu, lo manfaatin Angkasa buat dapetin duit? Dia kan tajir,” bisik Zeni.


Bulan tak tahan lagi, siapa pun boleh mengoloknya. Tapi tidak menginjak harga dirinya dan mencemarkan nama baiknya. Ia menatap Zeni dengan tatapan tajam, “Apa maksud lo? Kenapa sih lo cari gara-gara terus? Gue gak ada urusan apa-apa sama lo, salah gue apa? Kenapa lo terus ngusik gue?”


Cici yang berdiri di sebelahnya mencoba menenangkan Bulan, ia mengusap bahu Bulan beberapa kali, ucapan Zeni benar-benar keterlaluan. “Zen, jaga omongan lo!”


Zeni menatap Cici dengan tajam, ia menunjuk gadis itu tepat di depan hidung mancungnya, “Diem lo, ini bukan urusan lo!” Kemudian Zeni kembali menatap Bulan dengan tatapan meremehkan, “Karena lo caper, lo terus nempel sana sini. Gak sama Bintang sekarang Angkasa. Orang miskin kaya lo tuh gak pantes deket-deket sama mereka. Lo itu virus tahu gak!”


Bulan mengepalkan kedua tangannya, tak tahan rasanya ingin menjambak rambut panjang Zeni. Tapi ia masih waras, ia tak mau sama gilanya seperti gadis itu, “Kalau gitu lo bilang aja sama mereka, gak usah deket-deket sama gue! Gue gak minta kok!” Sentak Bulan.


Suara Bulan yang sedikit keras mengundang perhatian yang lain termasuk Angkasa dan Bintang yang semula tengah bicara. Mereka saling menatap kemudian segera beranjak untuk melihat Zeni dan Bulan yang tampak masih bersitegang. Yang lain pun mulai mengerumuni Bulan dan Zeni, melihat perdebatan di antara dua gadis itu, mereka penasaran.


“Belagu banget lo! Harusnya orang miskin bangkrut kaya lo gak pantes sekolah disini, lo itu sampah. Lo..”


“Zeni!!!”

__ADS_1


Zeni tersentak saat ia mendengar suara keras Bintang. Ia menoleh, menatap Bintang dan Angkasa yang menghampirinya. Wajah tampan dua pemuda itu tampak memerah, mereka bahkan menatap Zeni dengan tatapan tajam yang menyeramkan. Zeni tak pernah melihat ke dua sahabatnya semarah ini, apa yang salah dengan perkataannya? Bukankah semua yang dia katakan fakta? Bulan memang orang miskin, begitu pikir Zeni.


“Bintang, aku..”


“Diam!” Sentak Bintang lagi, semua orang menciut takut melihat kemarahan Bintang yang baru kali ini pemuda itu tunjukan. “Lo udah terlalu banyak bicara, Zeni! Jangan campuri urusan orang lain! Apalagi sampai menghinanya, apa hak lo menghakimi Bulan kaya gitu, hah?” sentaknya, Bintang bahkan menggunakan bahasa lo gue yang sangat jarang ia gunakan.


“Yang aku omongin itu fakta, Bintang. Dia memang orang miskin, papanya bangkrut, dia gak pantes deket-deket sama kalian,” ucap Zeni. Ia menatap Bintang dan Angkasa bergantian.


“Cukup ya Zen, lo udah keterlaluan. Gue gak bisa diem lagi, lo..”


“Sa, apa yang Zenia omongin emang bener, papa aku bangkrut dan kalian gak pantes deket sama aku.”


Setelah mengatakan kalimat itu, Bulan pergi. Ia sedikit berlari dan menghapus air matanya dengan asal, bukan malu karena ia orang miskin, tapi tuduhan Zeni padanya benar-benar melukai hatinya. Ia tak merasa menjual diri untuk tetap melanjutkan sekolah, ia juga tak merasa memanfaatkan pertemanannya dengan Angkasa untuk kepentingan pribadinya, tapi kata-kata Zeni berhasil menusuk relung hatinya.


“Bintang, lo kejar Bulan. Zeni biar jadi urusan gue,” ucap Angkasa. Ia tahu sepupunya itu begitu cemas saat melihat Bulan pergi dan menangis. “Semuanya bubar, ini bukan tontonan!” Teriak Angkasa. Semua orang pun membubarkan diri dan menyoraki Zeni yang masih berdiri dengan angkuh.


Bintang mengangguk, ia berlari untuk mengejar Bulan. Melihat Bintang mengejar Bulan, Cici menghentikan langkahnya, membiarkan Bintang yang menenangkan Bulan. Meski akhir-akhir ini Bulan menghindari Bintang begitu pula sebaliknya, tapi Cici tahu sedalam apa cinta Bulan untuk Bintang. Ia berharap Bintang bisa menghibur Bulan.


“Bulan, tunggu..” Bintang meraih tangan Bulan menggenggamnya lalu menariknya dan membawanya ke dalam dekapannya. Ia usap punggung Bulan yang bergetar karena tangis, “Sssssttt, jangan nangis lagi..” ucapnya dengan lembut.


Alih-alih membuat tangis Bulan mereda, ucapan Bintang justru semakin membuat gadis itu menangis. Teringat dengan ucapan Zeni, ia menarik diri dan sedikit mendorong Bintang hingga mereka berjarak. “Jangan deket-deket aku, Zeni benar, kita gak pantes temenan. Aku orang miskin..”

__ADS_1


“Gak kaya gitu, Bulan. Aku gak pernah melihat seseorang dari status sosialnya. Aku gak perduli yang Zeni omongin, aku cuma gak mau kamu nangis lagi, itu aja..”


“Kenapa? Apa kamu kasihan sama aku? Aku gak butuh, Bintang. Aku gak butuh di kasihanin, lebih baik kamu jauhin aku. Apa salah aku? Aku juga gak mau hidup kaya gini, aku juga gak mau papa bangkrut. Tapi aku bisa apa? Seandainya aku bisa milih, aku juga gak mau hidup susah, tapi aku gak bisa apa-apa kan? Tuhan yang mengatur jalan hidup seseorang, aku hanya berusaha menjalani hidup aku dengan baik. Tapi kenapa Zeni justru menuduhku yang tidak-tidak? Aku tidak pernah menjual diri, aku juga gak bermaksud memanfaatklan Angkasa atau kamu, aku..”


Bulan tak dapat melanjutkan kalimatnya, ia menangis tersedu-sedu. Harga dirinya benar-benar terluka.


Bintang menghela nafas panjang, ia kembali menarik Bulan dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya, “Aku tahu, aku tahu kamu gak gitu. Jangan menangis lagi, please.. Aku gak suka liat kamu nangis.”


Bulan semakin menangis, menjadikan dada pemuda itu sebagai sandaran pelipur laranya. Sedangkan Bintang, ia semakin mengeratkan dekapannya, menyalurkan kekuatan dan ketenangan untuk Bulan. Entah mengapa hatinya ikut sakit mendengar tangis pilu Bulan, ia benar-benar tak suka melihat Bulan menangis.


***


“Apa maksud lo mempermalukan Bulan kaya tadi? Lo punya masalah apa sih, Zen? Gue gak nyangka lo bisa se tega itu ngomong gitu sama Bulan, padahal kalian sesama perempuan, tapi kata-kata lo ke dia kasar banget, Zen.” Angkasa mengusap wajahnya dengan gusar, jika Zeni seorang pria, mungkin Angkasa sudah melayangkan bogem mentahnya.


“siapa yang mempermalukan dia? Gue ngomong kenyataan kali, Sa. Lo tuh di kasih apa sih sama dia? Sampai-sampai segininya banget bela dia. Jangan-jangan bener lagi dia jual diri sama lo.”


“Zeni!!” Teriak Angkasa, ia tak habis fikir dengan sahabatnya itu, kenapa semua ucapan yang terlontar dari mulut gadis itu tak mencerminkan seseorang yang berpendidikan sama sekali. Ucapan Zeni begitu frontal.


“Kenapa? Bentak gue Sa, bentak gue sepuas lo. Lo itu beda banget sejak deket sama Bulan. Padahal lo sahabat gue, tapi mana pernah lo belain gue kaya lo bela dia.” Zeni mulai menangis, ia sakit hati karena baik Bintang maupun Angkasa sama-sama membela Bulan.


“Lo salah Zen, mana mungkin gue belain lo. Kalau pun Bulan yang salah, gue juga gak bakal belain dia.”

__ADS_1


“Bulsyit!!” Zeni mengambil tasnya, lalu pergi begitu saja.


Angkasa menghela nafas panjang, sedari dulu, Zeni memang keras kepala, gadis itu sangat susah di beri tahu. Mungkin hanya Bintang yang bisa membuat gadis itu mengerti, Zeni hanya mau mendengarkan Bintang.


__ADS_2