MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BUKTI


__ADS_3

Sepuluh menit berlalu, tapi antara Bulan dan Bintang masih saling diam. Tentu Bulan tak akan memulai, bukankah memang seharusnya Bintang yang bicara?


Sementara Bintang, masih sibuk memikirkan dari mana ia harus memulai. Di jelaskan sedemikian jelas pun Bulan tetap menolak. Tapi sepertinya, ia harus kembali menjelaskannya, memohon sekali lagi agar gadis pujaannya itu memberi maaf.


Baru saja Bintang membuka sedikit mulutnya, Bulan lebih dulu bicara, "Kalau gak ada yang mau kamu omongin, lebih baik kamu pulang! Aku mau istirahat!"


Suara dingin dan raut wajah sinis Bulan membuat Bintang menelan ludah. Ia memberanikan diri meraih tanga Bulan lalu ia genggam dengan lembut, "Aku minta maaf," lirihnya.


"Untuk?" Tanya Bulan tanpa menatap Bintang. Pandangannya lurus dan kosong, gadis itu terlihat lelah.


"Untuk semuanya, semua yang aku lakukan padamu, aku terus nyakitin kamu. Dari dulu, aku selalu jadi alasan kamu nangis. Kenapa semuanya harus seperti ini? Padahal niatku tulus ingin membahagiakan Kamu dan mencintai kamu, tapi ujung-ujungnya, aku selalu bikin kamu nangis. Aku menyakitimu, maaf sayang.."


Perlahan Bulan menoleh, hatinya sakit melihat kedua mata tajam itu berkaca-kaca. Sepasang mata yang selalu mampu membuatnya luluh dan terlena, kini mata itu terlihat sendu berselimut kelabu.


"Kenapa terus nyakitin aku?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan menetesnya cairan bening dari mata Bulan.


Bintang menggeleng, ia menunduk dalam, "Aku gak berniat nyakitin kamu. Sedikitpun gak terlintas buat nyakitin kamu, maaf.."


Bulan terisak, hatinya sakit mengingat peristiwa kemarin, tapi lebih sakit lagi saat melihat pria di sebelahnya itu menangis.


"Kamu laki-laki, kenapa kamu nangis?" ledek Bulan.


"Aku takut, jangan tinggalin aku sayang. Pernikahan kita tinggal menghitung hari, ketakutan terbesar aku adalah kehilangan kamu lagi. Bertahun-tahun aku menunggu moment itu, jika itu gak terjadi, apa aku bisa bertahan? Mungkin aku akan gila, memikirkannya saja aku sangat takut," lirih Bintang seraya terisak.


Bulan menghela nafas panjang, menghalau rasa sesak yang kembali menyeruak.

__ADS_1


"Kalau begitu jelaskan kenapa itu bisa terjadi?" titah Bulan, meski ia sudah mendengar penjelasan dari Kimmy, ia ingin mendengar langsung dari mulut calon suaminya.


"Aku memang bodoh, aku yang salah. Harusnya aku gak melibatkan orang lain untuk bisa mendapatkan kamu. Sebelum kita tunangan, kamu selalu nolak aku kan? Aku dan Angkasa berencana membuat kamu cemburu, dengan cara meminta Kimmy berpura-pura dekat denganku, agar kamu mengira Kimmy lah yang akan bertunangan denganku. Aku cuma mau liat reaksi kamu, aku mau tahu apa cinta kamu masih buat aku? Aku mau tahu seberapa besar kecemburuan kamu pada Kimmy, sampai akhirnya aku tahu kamu memang masih mencintaiku. Aku juga meminta Kimmy dekat denganku supaya kejutan yang aku siapin buat kamu berhasil juga, maaf sayang.."


"Angkasa juga terlihat?" Bulan terkejut, ternyata mantan kekasihnya itu sama bodohnya dengan calon suaminya. Masa lalu dan masa depan sama-sama konyol!


Bintang mengangguk pasrah. Sementara itu, Angkasa yang namanya di bawa-bawa mengusap telinganya yang mendadak berdengung.


"Terus kemarin? Apa kejadian itu juga rencana kalian? Kamu kelihatan menikmatinya, dia duduk di pangkuan kamu, tentu saja kamu senang. Iya kan?" tuding Bulan, dadanya masih bergemuruh panas saat ia mengingat lagi kejadian kemarin.


Bintang sontak menggeleng, "Gak gitu sayang, aku berani bersumpah. Aku syok, aku gak sempat dorong dia pas kamu datang. Percaya sama aku, aku mana mau kaya gitu selain sama kamu," elak Bintang.


"Setelah kita hubungan, aku jadi tahu se-mes*m apa kamu itu!"


"Cuma sama kamu doang! Aku bersumpah demi kamu, aku gak gitu sama perempuan lain." Bintang tak terima, "Aku bukan laki-laki gampangan," ucapnya lagi.


Bintang kembali menggeleng, "Enggak! Dia aja aku enggak!"


"Jangan boong!" Entah mengapa, Bulan menikmati wajah cemas Bintang saat ini. Tak apa, hitung-hitung hukuman untuk pria itu.


"Percaya sama aku sayang, gimana lagi aku jelasinnya?" Bintang mulai tampak frustasi.


"Apa buktinya?"


Lalu Angkasa masuk begitu saja, ia menyodorkan ponsel milik Bintang yang sedari tadi ia pegang, "Nih liat!" pintanya.

__ADS_1


Bulan mengambil ponsel itu, Bintang menatap Angkasa penuh tanya, kenapa ponselnya di berikan pada Bulan? Ada apa di ponsel itu? Begitu pikir Bintang.


Pria itu duduk merapat pada calon istrinya, melihat rekaman yang mulai berputar di layar ponselnya. Rekaman cctv di ruangan Bintang yang menampilkan kejadian kemarin dengan jelas.


Di sana terlihat Kimmy dengan sengaja melempar tubuhnya ke pangkuan Bintang. Bintang yang terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu tampak mengerjap, ia hendak bicara namun pintu ruangannya lebih dulu terbuka, Bulan berdiri di ambang pintu dengan level kemarahan tertinggi.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa dengan cctv!" Gumam Bintang.


"Bukan lupa, Lo emang bodoh," ledek Angkasa.


Bintang mencebik, namun ia mulai lega. Angin segar mulai menerpa hatinya yang semula gersang, galau, gelisah berujung merana.


Keamanan LaGroup yang super ketat membuat cctv bertengger dimana-mana. Termasuk di ruangan para petinggi perusahaan. Hanya saja, berbeda dengan cctv yang ada di area umum yang bisa di akses petugas atau orang-orang penting LaGroup untuk keamanan dan urusan tertentu, cctv di ruangan para petinggi LaGroup hanya bisa di akses oleh masing-masing pemilik ruangan. Tak bisa sembarangan orang mengaksesnya, karena cctv di ruangan hanya terhubung ke ponsel pemilik ruangan, tidak terhubung ke ruang cctv umum.


"Gimana sayang? Percaya kan?" kata Bintang seraya menatap bulan dengan lekat.


Bulan mendelik, "Tetap aja, di situ pernah di duduki gadis lain!" kata Bulan seraya menunjuk pangkuan Bintang.


Bintang menghela nafas panjang, laku menarik Bulan dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya, "Kalau gitu hapus aja sama kamu. Supaya di sini cuma ada jejak kamu," bisik Bintang.


Pria itu mendekatkan wajahnya, hendak menempelkan bibirnya di bibir calon istrinya, namun gagal karena Soang bersuara.


"Ekhem, tahan kali. Gue orang, bukan nyamuk! Lagian kalian itu gak boleh deket-deket gini, ketemu aja gak boleh. Lagi di pingit kalau kalian lupa!" omel Angkasa. Ada rasa panas yang menjalar di hatinya, ternyata hatinya masih tak terlalu kuat menyaksikan kemesraan Bulan dan Bintang. Ingat si kentut lah Soang!!


Bintang mendelik, lalu memeluk Bulan dengan erat. Menumpahkan rasa lega dan rasa rindu yang mendesak hadir secara bersamaan.

__ADS_1


IKLAN


Ges, aku tamatin sampai bab 80 kayanya, nanti aku lanjutin di lapak AngkasaSemesta, supaya sekalian up nya. Jadi gak sirik kalau salah satu lapak gak bisa update.


__ADS_2