MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
JADI NYAMUK


__ADS_3

Bintang menelan ludahnya dengan susah payah. Entah mengapa, cairan dalam mulutnya itu terasa berubah seperti biji kedondong, sangat sulit untuk di telan.


"Gimana kalau Bulan nolak aku?" lirihnya, ia tatap rumah pujaan hatinya dengan nanar, teringat kemarahan gadis yang di cintainya itu membuat hatinya meringis. Juga saat melihat air mata yang mengalir di pipi gadis itu, hatinya ikut sakit. Apalagi penyebab Bulan menangis adalah dirinya.


"Belum apa-apa udah keok duluan Lo mah. Usaha dulu, emang Lo mau kawinan Lo batal? Lagian ide Lo gila, ngapain bawa-bawa Kimmy buat bikin Bulan cemburu?" Omel Angkasa, ia greget melihat Bintang yang hendak menyerah sebelum berperang.


"Kamu kan juga setuju," sengit Bintang tak mau di salahkan. Karena ide itu juga di setujui Angkasa. Saat hendak memberi surprise pertunangan pada Bulan, Bintang memang meminta Kimmy untuk berpura-pura dekat dengannya. Agar Bulan mengira, Bintang akan bertunangan dengan Kimmy. Ia juga ingin tahu, apakah cinta Bulan untuknya tetap sama? Karena sikap Bulan yang begitu acuh, membuat Bintang sempat ragu kalau-kalau cinta Bulan sudah berubah untuknya.


Angkasa berdecak, dalam hati ia mengakui, bahwa ia memang menyetujui ide itu untuk melihat kecemburuan Bulan. Padahal Angkasa yakin, bahwa cinta Bulan sampai kapan pun hanya untuk Bintang, "Ck, gue gak tahu akhirnya Kimmy bakalan segila itu!"


"Sa, apa aku minta bantuan Kimmy aja?"


Angkasa mengerutkan dahinya, "Maksud Lo?"

__ADS_1


"Ya minta dia buat jelasin ke Bulan kalau dulu aku minta dia buat pura-pura deket sama aku," jelas Bintang dengan bodohnya.


"Dasar bodoh! Lo denger sendiri kan kemarin dia ngomong apa ke Bulan? Dia udah ngaku kalau dulu kalian cuma pura-pura, tapi akhirnya dia malah minta Bulan ngizinin dia deket sama Lo kan?" Angkasa semakin greget, ingin menggetok otak cerdas Bintang yang kadang-kadang jadi bodoh jika menyangkut dengan Bulan.


Bintang mengusap wajahnya dengar gusar, yang Angkasa katakan benar, ia sendiri mendengarnya.


"Terus gimana dong, Sa?"


"Turun dulu napa, Lo malah ciut duluan sebelum perang!" Omel Angkasa, ia turun lebih dulu, tak lupa juga membawa ponsel milik Bintang yang sedari tadi ia simpan.


Bertepatan dengan Bintang menginjakkan kakinya di teras rumah, pintu terbuka. Bulan menyembul dari baliknya, gadis itu hendak kembali menutup pintu tapi Angkasa menahannya.


"Lan, masalah kalian harus cepet di selesaikan. Hari pernikahan kalian sudah di depan mata, jangan sampai pernikahan kalian tertunda lagi terus ujung-ujungnya kalian menyesal," kata Angkasa.

__ADS_1


Bulan berdecak, ia memalingkan wajah saat Bintang mendekat.


"Kita harus bicara sayang, tolong dengerin aku dulu," ucap Bintang dengan lembut. Tatapan pria itu begitu memohon.


Bulan menghela nafas panjang, teringat pesan sang papa bahwa ia memang harus membicarakan ini dengan Bintang, ia pun mengangguk.


Tidak ada yang di sembunyikan dari Bulan pada sang papa, karena hanya pada pria itu lah ia bisa berpegangan dan bergantung selama ini. Tak ada yang di rahasiakan, apapun itu Bulan akan selalu jujur. Apalagi Bumi selalu menyadari perubahan sikap Bulan, ia mengamati Bulan yang tampak murung. Saat Bumi bertanya, Bulan pun menceritakan semuanya.


Namun sebagai orang tua yang bijak, Bumi tak menelan mentah apa yang Bulan ceritakan padanya. Ia harus mendengar dari sisi Bintang, ia mengatakan pada Bulan bahwa Bulan harus bicara baik-baik dengan Bintang, mendengarkan penjelasan pria itu dengan hati yang tenang.


"Jika pun hubungan kalian harus berakhir, setidaknya akhiri dengan baik-baik nak. Jangan sampai kamu menyesal, papa tidak akan membela siapapun, papa hanya akan melihat cara kalian menyelesaikan masalah kalian. Ingatlah perjuangan kalian untuk sampai ke titik ini, dan yang papa tahu, menuju hari pernikahan memang banyak cobaan. Mungkin saja apa yang kalian alami sekarang adalah bentuk cobaan Tuhan untuk menguji kekuatan cinta kalian. Juga untuk melihat, sejauh mana kalian bisa saling percaya."


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Bulan, dan sepertinya ia memang harus memberi Bintang kesempatan untuk bicara.

__ADS_1


Angkasa yang mengerti situasi hanya menunggu di depan teras. Membiarkan Bulan dan Bintang bicara di dalam rumah, jika saja Bumi ada di rumah, mungkin ia akan punya teman ngobrol, namun sayangnya pria itu tengah menghadiri acara salah satu pelanggan tokonya, Angkasa harus pasrah menjadi nyamuk.


"Miris banget nasib gue, jadi nyamuk iya, dengerin mantan ngomong sama calonnya iya, di tinggal bini juga iya! Kurang miris apalagi Tuhan?" gumam Angkasa. Tiba-tiba ia teringat senyuman Esta, ah astaga, ia bahkan teringat suara Ngik yang pernah Esta keluarkan.


__ADS_2