MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
DIMANA BULAN?


__ADS_3

Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Bintang tiba di sekolahan dan memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Namun pemuda itu masih enggan keluar, entah apa yang tengah ia pikirkan, sedari tadi matanya menatap lahan parkir kosong di sebelahnya.


Tempat itu adalah tempat biasa Bulan memarkirkan mobilnya. Ya, perihal mobil pun Bulan memang selalu ingin berdampingan dengan Bintang. Namun kali ini tempat itu masih kosong, padahal biasanya Bulan datang lebih dulu darinya untuk menyimpan bekal sarapan atau makan siang untuknya di laci meja.


"Apa dia gak masuk?" gumamnya. Entah mengapa Bintang merasa tak tenang. "Mungkin karena aku merasa bersalah, apa aku minta maaf aja?"


Bintang terus bermonolog sendiri, berusaha mengusir resah yang membalut hatinya. Berpikir mungkin Bulan sudah datang dan tak membawa mobilnya, Bintang pun memutuskan untuk turun dan pergi ke kelas.


Ekor matanya melirik ke dalam kelas saat ia melewati kelas Bulan, tapi sepertinya Bulan tak ada. Ia lalu mempercepat langkahnya menuju kelasnya sendiri, Bintang bahkan berlari kecil menuju ke bangkunya. Sebelah tangannya meraba laci meja, "Kosong?"


"Nyari bekal yang biasanya ada di sana yah?" Sindir Angkasa yang baru saja datang.


"Apa sih Sa, enggak!" Elak Bintang, "Kata mami bapperware yang kemaren sama yang warna biru anter ke rumah. Awas aja sampai hilang, mami bisa ngomel."


"Ck, iya iya. Mami Ji bawel, untung sayang." Angkasa lalu duduk di bangkunya, tepat di belakang Bintang. "Tang.." panggilnya.


"Bintang, Sa. Gak usah di potong-potong, aku gak suka. Kesannya kata manggil kacamata gunung punya mami," omel Bintang. Ia memang paling tak suka saat ada seseorang memanggilnya hanya dengan panggilan nama belakangnya saja.


"Lo nya aja yang ngeres, bisa aja kan bukan ingat ke situ. Misalnya ingat ke tang peralatan buat bongkar motor, atau alat perkakas," elak Angkasa.


Bintang berdecak, "Ck, kamu juga gak mau kan aku panggil angka atau kasa?"


"Emang gue perban," omel Angkasa.


"Tuh kan, kamu juga gak mau! Makanya jangan singkat nama orang, panggil yang lengkap!"


"Ish, ribet dah."

__ADS_1


Bintang tak menanggapi lagi, ia mulai mengeluarkan buku untuk mata pelajaran pertama. Berdebat dengan Angkasa membuatnya lupa ingin menanyakan Bulan pada Angkasa. Siapa tahu sepupunya itu tahu tentang Bulan. "Astaga, otak aku mulai gesrek, kenapa bisa inget Bulan terus sih?" batinnya.


Sampai waktu istirahat tiba, konsentrasi belajar Bintang benar-benar terganggu. Ia terus memikirkan Bulan, mungkin dia hanya merasa bersalah, itu saja.


"Kantin gak?" Tanya Angkasa yang entah sejak kapan berdiri di sebelah Bintang.


Bintang menghela nafas panjang, kemudian mengangguk seraya beranjak. Mungkin secangkir capuccino hangat akan membuatnya lebih baik.


"Eh, Zeni mana?" Tanya Bintang yang baru menyadari ketidak hadiran gadis itu.


"Baru nyadar? dia izin gak masuk, gak tahu juga alasannya apa. Gue wa gak bales tuh anak."


Lagi-lagi Bintang menghela nafas panjang, apakah kedua gadis itu tidak masuk sekolah karena dirinya?


"Yaelah malah bengong, buruan gue laper," Angkasa yang sudah mengayunkan kakinya beberapa langkah kembali menghampiri Bintang dan merangkul bahu sang sepupu juga sedikit menariknya agar pemuda itu berjalan cepat.


"Kenapa emang?" Angkasa balik bertanya.


Bintang berdecak, "Di tanya malah balik nanya," gerutunya.


Angkasa tertawa, "Santai dong sepupuku tersayang." Angkasa menghentikan tawanya, menatap Bintang dengan serius, "Lo mulai mikirin Bulan, apa itu artinya Lo mulai tertarik sama dia?"


Bintang menggeleng, "Apa sih, Sa! Aku cuma merasa bersalah aja. Mungkin kemaren aku keterlaluan, aku cuma mau meminta maaf."


"Lo baru nyadar? Lo emang keterlaluan, gue liat dia sakit hati banget. Apalagi waktu liat Lo peluk Zeni, mungkin Bulan tulus cinta sama Lo, itu yang gue liat dari matanya. Andai gue jadi Lo, gue gak akan mikir-mikir lagi buat jadiin dia pacar. Tapi Lo terus tolak dia. Gini ya Tang.."


"Bintang!"

__ADS_1


Angkasa berdecak, "Ck, iya iya Bintang. Sini gue kasih tahu, cinta itu gak bisa di atur mau singgah di hati siapa buat hati siapa. Gue juga yakin, Bulan gak mau kaya gini, dia pasti cape cintanya sepihak. Tapi perihal hati, siapapun tidak ada yang bisa mengatur kecuali Tuhan. Kalau hatinya Bulan udah buat Lo, Lo gak bisa larang dia buat cinta sama Lo. Lo boleh tolak dia, tapi jangan sakiti dia dengan memaksanya berhenti cinta sama Lo. Orang mau berhenti ngerokok aja susahnya Masya Allah, perjuangannya gede. Apalagi orang berhenti mencintai, itu gak gampang Bintang."


Angkasa menjelaskan panjang lebar, ia bicara seperti itu tulus dari hatinya. Andai Bulan jatuh cinta padanya, mungkin dia tidak akan berpikir dua kali untuk menerima cinta gadis itu.


"Dan satu hal lagi, untuk menyatakan perasaan itu butuh keberanian yang Masya Allah juga, cowok aja kadang memilih memendam perasaannya karena gak berani ngomong cinta. Tapi lihat Bulan, dia gigih banget ngejar Lo. Dia terus menyatakan perasaanya sama Lo, padahal Lo terus tolak dia, tapi dia gak nyerah. Dia menebalkan mukanya buat dapetin cinta Lo. Gue harap, lain kali Lo lebih bijak. Kalau Lo gak bisa terima cintanya dia, minimal Lo gak nyakitin perasaannya dengan kata-kata yang kurang pantas. Gue yakin Lo ngerti isi ceramah gue ini!"


Bintang menghela nafas gusar, lalu mundur dan bersandar pada dinding di belakangnya, "Terus aku harus apa? Aku juga mau minta maaf ke dia, makanya aku tanyain dia ke kamu. Dan perlu kamu tahu, aku sangat pintar untuk mengerti isi ceramah panjang lebar kamu itu."


Angkasa ingin tertawa, tapi tak cukup tega saat melihat wajah galau sepupunya. "Iya gue tahu Lo pinter, nanti gue kasih tahu dimana rumahnya Bulan. Kita ke kantin dulu, gue laper!"


"Beneran?" Tanya Bintang untuk memastikan, sebenarnya ia tahu Bulan tinggal di salah satu kompleks perumahan elite tak jauh dari kompleks perumahannya, tapi ia tak tahu persis Bulan tinggal di rumah yang mana. Itu pun karena ia tak sengaja melihat mobil Bulan berbelok di kompleks itu.


"Kapan gue bohong?" Angkasa justru balik bertanya.


"Kebiasaan, kenapa sih pertanyaan aku gak pernah kamu jawab dengan benar?"


Angkasa tertawa, entahlah, ia begitu suka menggoda Bintang. Sepupunya itu bisa lebih cerewet jika di hadapannya dan keluarganya. "Gak usah kaku gitu ngomongnya, santai aja. Gue serius, nanti sore gue anterin Lo kesana."


"Kamu tahu dari mana kalau itu beneran rumahnya, Bulan? Jangan-jangan kamu ngarang," ucap Bintang, ia menatap Angkasa dengan penuh selidik, menunggu jawaban dari pemuda itu dengan tak sabar.


"Gue pernah anter dia pulang."


"Apa?"


IKLAN


Udah pada baca EXTRA PART nya LangitJingga belum? Serbu ges..

__ADS_1


__ADS_2