
Hari pernikahan Bulan dan Bintang sudah di tetapkan. Selesai acara pertunangan, kedua keluarga berkumpul untuk menetapkan tanggal pernikahan dan persiapan pernikahan yang akan mulai di urus oleh orang-orang LaGroup.
Satu Bulan dari pertunangan, pernikahan mereka akan di gelar. Bintang tak mau berlama-lama lagi, selain karena ia tak ingin lagi jauh dari Bulan, menurut kepercayaan orang tua, tak baik jika setelah pertunangan jarak menuju ke pernikahan terlalu lama. Banyak gangguannya katanya.
Namun meski begitu, mereka masih bekerja seperti biasanya. Baik Bintang maupun Bulan tak perlu repot-repot mengurus pernikahan, sudah ada yang mengurusnya. Mereka hanya tinggal menentukan gaun juga cincin kawin dan maharnya. Selain dari itu, Jingga dan orang-orang utusan Langit yang mempersiapkannya.
Seperti pagi ini, Bintang menjemput Bulan untuk bekerja. Jarak antara kantor LaGroup dan rumah Bulan yang cukup jauh membuat Bintang pergi pagi-pagi sekali. Ia akan meminta Bulan untuk menyiapkan bekal sarapan untuknya.
Sebenarnya, Jingga ingin menyiapkan bekal untuk putranya itu. Namun Bintang menolak, Bintang mengatakan, "Aku sarapan di rumah Bulan aja mi. Mau masakan calon istri."
Rasanya masih tak percaya, semua yang terjadi bagai mimpi. Akhirnya ia bisa menjadikan Bulan calon istri otw menjadi istri sah. Menanti satu bulan rasanya satu tahun, lama dan membuatnya tak sabar. "Kenapa aku gak minta nikah Minggu depan aja sih!" Bintang bergumam sendiri ketika ia baru saja tiba di rumah Bulan dan melihat gadis itu sudah menunggunya di teras.
"Hai calon suami," kata Bulan sesaat setelah Bintang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Hai juga calon istri, kamu nunggu lama?" Bintang mendekat lalu mengecup kening gadis itu tanpa ragu.
"Gak juga, lain kali jangan main sosor sayang, gak enak kalau ada yang liat," protes Bulan.
"Biarin aja, kamu calon istri aku. Kalau pun di grebek warga, aku malah seneng. Aku bisa cepet nikahin kamu kan?" Bintang tertawa dengan ucapannya sendiri. Bisa-bisanya ia berpikir konyol macam itu.
Bulan mencebik, memukul lengan pria itu dengan gemas. "Kamu belum sarapan kan? Aku bikinin sarapan buat kamu, mau makan di kantor atau gimana?"
Bulan mengangguk, lalu tidak lupa mengunci rumah sebelum pergi, karena Bumi sudah pergi ke toko sejak pagi-pagi sekali.
Sesaat mobil melaju, Bulan mulai mengeluarkan kotak bekal yang sengaja ia siapkan untuk Bintang. Dengan telaten ia menyuapi pria itu, "Enak gak?" Tanyanya di suapan pertama.
Memang hanya nasi goreng di tambah nugget dan kornet, tapi entah mengapa rasanya sangat lezat. Mungkin karena ini suapan dari orang terkasih, Bintang pun mengangguk tanpa ragu, "Enak banget sayang, kamu yang masak kan?"
__ADS_1
"Iya, papa mana sempet masak. Dia lagi sibuk-sibuknya memasok bahan bangunan buat proyek LaGroup. Beneran enak?" Tanya Bulan lagi, ia takut Bintang berbohong hanya untuk menyenangkannya saja.
"Serius, enak banget loh. Udah nikah sama kamu bisa-bisa aku gemuk kalau tiap hari kamu masakin."
Bulan tersenyum malu, pipinya bahkan memerah membayangkan jika nanti mereka sudah benar-benar menikah dan menjadi suami istri. Ah, Bulan jadi menghayal yang tidak-tidak. Ia lalu kembali menyuapi Bintang, sesekali mengusap ujung bibir pria itu untuk membersihkan sisa minyak atau bumbu yang tertinggal.
"Berasa mimpi ya sayang, akhirnya aku bisa meresmikan hubungan kita. Bukan cuma jadi pacar, tapi calon istri," kata Bintang lagi. Tak hentinya ia bersyukur, karena gadis yang di cintainya sejak dulu akan menjadi teman hidupnya.
Bulan mengangguk, "Aku juga gak nyangka, kamu tahu sendiri gimana dulu aku gigih banget ngejar kamu. Muka aku udah kaya tembok, kebal banget meski pun kamu terus nolak aku. Tunangan sama kamu cuma ada di khayalan aku, tapi Tuhan maha baik, ternyata Tuhan menyatukan aku sama kamu. Semoga aja gak ada gangguan apa-apa sampai kita nikah nanti."
"Amiin, kamu gak tahu aja secinta apa aku sama kamu. Cinta banget tahu.."
Bulan tersenyum bahagia, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Sengaja Bintang melambatkan laju mobilnya, agar ia bisa mempunyai lebih banyak waktu untuk bersama Bulan. Bintang tak perduli meski ia terlambat masuk ke kantor, toh dia bosnya kan? Tak akan ada yang berani menegurnya. Benar-benar contoh yang tidak baik..
__ADS_1