MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
PROM NIGHT


__ADS_3

Malam ini adalah malam prom night untuk seluruh kelas 12. Tapi jelas yang lain pun di perbolehkan ikut untuk memeriahkan malam perpisahan itu.


Tepat pukul delapan malam acara di mulai, acara yang di adakan di salah satu hotel milik LaGroup itu tampak sangat meriah. Salah satu band ternama di ibu kota menjadi tamu istimewa malam itu.


Sejak pagi tadi Bintang berada di sana, mengawasi orang-orang sang papi yang bertugas menyulap ballroom hotel menjadi tempat indah yang siap di gunakan malam ini.


"Ada waktu lima belas menit lagi," gumamnya seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ia selesai bersiap di kamar presidential suite yang khusus di peruntukan untuknya. Memakai setelan jas berwarna hitam pekat yang sangat pas di tubuh tingginya.


"Haaah, andai aja kamu gak marah, mungkin aku bisa jemput kamu," gumamnya lagi. Teringat pada Bulan yang masih marah padanya, ia semakin menyesal.


Apalagi Angkasa juga mengomelinya, ia semakin merasa bersalah. Andai waktu bisa ia putar ke satu hari sebelumnya, ia tak akan membahas hal itu. Bintang akan menggunakan waktunya dan Bulan dengan sebaik-baiknya.


Dering ponsel membuatnya sedikit terkejut, ia mengambil benda pipih itu di atas ranjang, duduk di sisi ranjang seraya mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari sang sepupu.


"Ya, Sa?"


"Lo masih di kamar? Gue udah di ballroom, turun sini!"

__ADS_1


"Iya iya, aku turun sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari Angkasa, Bintang menutup panggilan telponnya, lalu menyimpan benda itu di saku jasnya.


Dengan malas ia berjalan, berdiri di depan cermin untuk memastikan kesempurnaan penampilannya. Jika bukan karena ingin meminta maaf pada Bulan, mungkin Bintang tak akan menghadiri acara itu.


"Tapi, apa Bulan mau datang?" Bintang bergumam, dengan gusar ia mengusap wajahnya.


Pria itu berdecak saat ponselnya kembali berbunyi, Angkasa mengiriminya pesan.


"Cepetan turun yaelah! Lama amat dandannya, udah kaya anak gadis aja!"


Tak berniat membalas pesan singkat itu, Bintang memilih pergi meski sedikit malas. Semoga saja Bulan menghadiri acara itu.


***


"Cantik banget sahabat gue," pekik Cici. Ia merengkuh kedua bahu Bulan, menggerakkan bahu gadis itu ke kiri dan ke kanan, "Lo pasti jadi bintang malam ini," ucapnya lagi.


"Ish, jangan nyebut nama itu lah. Gue masih sebel," ucap Bulan seraya menyingkirkan tangan Cici dari kedua bahunya.


"Ck, masih kesel aja Lo. Dia gak sengaja kali Lan, gue yakin maksudnya gak gitu," komentar Cici, ia tahu masalah itu dari Bulan yang semalam curhat padanya.

__ADS_1


Baru saja Bulan hendak menyahut, Bumi keluar dari rumah. Pria paruh baya itu tersenyum, "Cantiknya putri papa," komentarnya.


"Bener kan om? Bulan emang cantik banget malam ini," timpal Cici, dan Bumi mengangguk beberapa kali.


"Jadi kemaren-kemaren aku jelek?" Bulan merajuk, ia menggandeng tangan sang papa lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, "Aku di rumah aja ya pa, aku males."


Mendengar ucapan Bulan, Cici membulatkan matanya, ia menatap Bumi meminta tolong melalui isyarat. Agar pria itu membantunya membujuk Bulan.


"Gak boleh gitu, nak. Ini kan malam penting, suatu saat nanti, malam ini akan menjadi cerita tersendiri untuk anak-anak kamu."


"Iya, betul!" Seru Cici.


Bulan mendesah malas, lalu mengangguk dan menyalami Bumi, "Ya udah aku pamit, paling jam sembilan juga aku udah pulang, papa baik-baik yah di rumah."


Bumi tersenyum, mengusap lembut pipi Bulan lalu mengangguk, "Hati-hati ya nak, dan selamat bersenang-senang."


Bulan hanya mengangguk, lalu menunggu Cici yang tengah berpamitan pada Bumi.


"Titip putri cantik om ya, Ci," pesan Bumi.

__ADS_1


"Pasti om, akan aku jaga dengan segenap jiwa raga," Cici menjawab lebay, ia tertawa setelahnya.


Mereka pun pergi ke acara prom night itu menggunakan mobil Cici.


__ADS_2