MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
HARINYA REMBULAN


__ADS_3

REMBULAN POV


Aku menatap pantulan diriku di cermin, Ya Tuhan, rasanya masih tak percaya. Hari ini hari yang selalu aku impikan sejak aku bertemu dengannya, sejak kami masih duduk di bangku kelas 10 sekolah menengah atas.


Tak terbayang sebahagia apa aku sekarang, aku sampai tak bisa berkata-kata.


Hari ini, berbalut kebaya modern berwarna putih bersih, aku akan resmi menyandang status nyonya Bintang.


Acara yang di gelas di salah satu hotel milik keluarga calon mertuaku, akan berlangsung beberapa saat lagi.


Dadaku berdesir, jantungku bertalu-talu sejak pagi tadi aku membuka mata, membayangkan pria pujaanku akan mengucap namaku dan mengikrarkan janji suci di hadapan Tuhan dan semua orang.


Ah, rasanya tak terlukis lagi. Wajah berhiaskan make up natural, dengan sanggul khas Sunda menjadi pilihanku dan calon suamiku. Meski kami tak ada keturunan Sunda, tapi impianku sejak dulu adalah jika aku menikah nanti, aku ingin menggunakan adat Sunda yang menurutku sangat unik. Tentu saja itu mimpi kedua setelah mimpi pertamaku, yaitu menjadi istri Bintang.


Jika dulu ada yang bertanya, apa impian terbesar dalam hidupmu? Aku selalu menjawab, menjadi istrinya Bintang. Apa keinginanmu di masa depan? Menjadi istrinya Bintang. Apa harapan dalam hidupmu? Menjadi istrinya Bintang, menjalani sisa usia bersama Bintang. berbagi segala hal dengan Bintang, semua hanya tentang Bintang.


Bayangkan saja, semua mimpi itu akan terwujud. Tuhan memang maha baik. Hari yang dulu hanya ada dalam anganku, kini tiba di depan mata, aku benar-benar mau salto rasanya.


Dan hari ini, mimpi itu akan benar-benar terwujud. Selain mengucap syukur pada yang maha kuasa, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sampai bingung dengan cara seperti apa aku harus mengapresiasi rasa bahagia yang membuncah ini.


Tak mudah berada di titik ini, banyak sekali cobaan yang sudah kita lalui. Namun ternyata, cobaan itu semakin membuat cinta kami kuat meski sempat terombang-ambing dalam ketidak pastian.


Dan waktu menjawab semua, kalimat akan indah pada waktunya itu ternyata benar. Sekuat apapun kita memaksa dan berusaha, jika waktunya belum tiba, maka tidak akan terjadi. Itu lah yang dapat aku pelajari dari perjalanan cintaku dan Bintang.

__ADS_1


CEKLEK


Pintu terbuka, aku tersenyum saat Zeny menghampiriku. Seseorang yang dulu menjadi musuh, kini menjadi salah satu sahabat terbaikku. Karena Cici, gadis itu pindah ke Singapure mengikuti kedua orang tuanya. Kami tak pernah bertemu lagi sejak malam prom night dulu.


Zeny tak sendiri, ada mbak Gea yang juga akan mendampingiku. Sahabat sekaligus atasan divisi ku di LaGroup.


"Sudah siap tuan putri?" Goda mbak Gea, ia tampak antusias saat aku memintanya menjadi pengiring pengantin.


Aku mengangguk dengan senyuman lebar, di gandeng mbak Gea dan Zeny, aku mulai melangkah keluar kamar menuju ballroom acara.


Kata mbak Gea, akad nikah yang sudah terjadi beberapa menit lalu berjalan lancar. Bintang mengucap ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Papa sebagai wali meneteskan air mata haru katanya.


Aku memilih bersembunyi dahulu selama akad nikah berlangsung, dan baru keluar setelah kami sah menjadi pasangan suami istri.


"Deg-degan gak?" Bisik Zeny, ia tersenyum menggoda.


Aku menganggu, "Sangat Zen, kamu tahu sendiri gimana gilanya aku ngejar dia. Dan sekarang akhirnya kita nikah," jawabku tak kalah berbisik.


"Udah sah jadi nyonya Bintang, cieeee.." goda Zeny lagi.


Aku tersipu malu, jantungku semakin bertalu-talu saat aku berdiri di pintu ballroom yang siap di buka. Di dalam sana, ada suamiku yang akan menyambut kedatanganku.


Suami? Ya Tuhan, menyebutkannya saja sudah membuat dadaku berdesir. Aku sangat bahagia! Bahagianya gak ada obat!

__ADS_1


CEKLEK


Pintu ballroom yang menjulang tinggi di hadapanku terbuka. Dua daun pintu itu sudah di buka dengan sangat lebar, sialnya, aku justru ingin pergi ke toilet. Perut mulas, kebelet ingin pipis pula.


"Tenang Bulan," bisik mbak Gea.


Aku mengangguk, berusaha untuk tersenyum menjawab sapaan dan teriakan para tamu yang menyambut kedatanganku.


Tatapanku lurus ke depan, mataku memanas saat di depan sana Bintang berdiri dan berjalan pelan menghampiriku. Tatapan kamu bertemu, rasa hati dan rasa bahagia bercampur menjadi satu. Perasaan ini begitu membuncah, membuat mata ini semakin memanas dan berembun.


Mbak Gea dan Zeny berhenti di tengah jalan, mereka membiarkan aku berjalan sendiri menghampiri suamiku yang juga berjalan pelan menghampiriku.


Iringan musik romantis justru membuat ku semakin tak bisa menahan tangis hingga air mata itu mulai berjatuhan.


Dengan pandangan Yangs edikit kabur karena air mata, aku melihat suamiku juga sama. Pria itu terisak dan terus berjalan.


Kenapa gedung ini begitu luas? Aku merasa kami tak sampai-sampai. Ingin rasanya berlari menghampirinya, bertingkah bar-bar seperti dulu saat aku mengejarnya. Tapi tentu aku masih waras, aku pasti akan kepayahan berlari karena memakai kain batik. Lagi pula, orang-orang akan memandang aneh padaku. Sampai saat ketika kami semakin dekat, debaran jantung ini kian menjadi-jadi.


"Istriku.." lirihnya seraya terisak.


Aku semakin menangis mendengarnya memanggilku istri, aku masih sempat bertanya-tanya dalam hati, apa ini mimpi? Jika ini mimpi, jangan biarkan aku terbangun Tuhan.


Tapi saat dia berdiri tepat di hadapanku, dan tatapan kami saling menyampaikan rasa bahagia lewat derai air mata, aku yakin ini bukan mimpi.

__ADS_1


__ADS_2