MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BERASA MIMPI


__ADS_3

"Makan siang nanti ke ruangan aku ya sayang ..."


Pesan yang Bintang kirim pada Bulan beberapa menit yang lalu. Dan tahu kah kalian? Bulan masih saja senyam senyum dan terus mengulang membaca isi pesan itu.


"Ya Tuhan, masih berasa mimpi," gumamnya. Ia mengusap layar ponselnya, layar itu menampilkan gambar dirinya dan Bintang ketika mereka memperlihatkan cincin di acara pertunangan malam itu. Senyum merekah terlihat dari Bulan dan Bintang dalam foto itu. Menggambarkan betapa mereka sangat bahagia.


Suara ketukan di pintu ruangan membuat perhatian Bulan teralihkan, ia tersenyum saat Esta berdiri di ambang pintu.


"Masuk, Esta ..."


Esta mengangguk, meletakkan secangkir kopi di meja Bulan, "Kopinya, mbak."


"Makasih, Esta. Oiya, kenapa kemaren kamu gak dateng di acara aku sama Bintang? Aku cari-cari kamu loh, pacar kamu juga ngilang gitu aja. Ah, aku tahu, kalian pasti pergi berdua. Iya kan?"


Esta tersenyum kikuk, "Emmm aku emang gak dateng mbak. Maaf ya mbak, malam itu aku lagi gak enak badan. Dan selamat untuk mbak dan pak Bintang, semoga lancar sampai hari H nanti."


"Amiin, terima kasih Esta. Tapi sekarang kamu udah sembuh kan? Kenapa udah masuk kerja aja? Bukannya istirahat atuh neng," Bulan meraih tangan Esta, mengajak gadis itu duduk berhadapan dengannya di kursi tamu.


"Aku udah mendingan kok mbak.." Esta jadi tak enak, ia begitu cemburu pada Bulan. Padahal Bulan tak salah apa-apa, Bulan juga begitu baik padanya. Yang salah adalah Angkasa yang tak mau berjuang melupakan Bulan, pria itu membiarkan dirinya terus tenggelam dalam kisahnya di masa lalu.


Angkasa bahkan tak membiarkan Bulan tahu tentang pernikahannya. Entah apa maksud pria itu ingin merahasiakan pernikahannya, mungkin malu mempunyai istri seorang OG seperti Esta. Atau malu karena alasan pernikahan mereka?


"Syukurlah, jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu cape, dan aku doakan, semoga kamu dan Angkasa cepat bertunangan juga."

__ADS_1


"Kami bahkan sudah menikah, mbak." Ingin rasanya Esta menjawab demikian, tapi kalimat itu hanya terucap dalam hatinya.


"Esta, kok bengong.." Bulan sedikit mengguncang lengan Esta, membuat gadis itu terkejut karena ternyata ia melamun.


"Ah maaf mbak," kata Esta.


"Kayanya kamu emang butuh istirahat Esta, kamu pasti masih gak enak badan.." Bulan tampak cemas, ia bahkan meminta gadis itu pergi ke ruang kesehatan untuk beristirahat. Tapi Esta menolak dan pamit untuk kembali bekerja.


Tak lama setelah Esta pergi, Angkasa datang. Pria itu duduk di kursi yang sebelumnya Esta duduki. Bulan hendak beranjak untuk berpindah duduk tapi Angkasa menahannya. Mereka duduk berhadapan.


"Ada apa, Sa? Kemaren kemana? Kamu ngilang gitu aja, padahal acaranya belum selesai. Atau kamu nemenin Esta yang lagi sakit?"


"Esta sakit?" ulang Angkasa. Tinggal serumah dengan gadis itu, tapi ia tak tahu jika Esta tengah sakit. Ya Tuhan, suami macam apa dia ini?


"Emang kamu tahu dari siapa kalau dia sakit?" Ada rasa bersalah yang menyusup di hatinya, kejamnya dia sebagai seorang suami, kenapa ia tak memperdulikan istrinya sendiri? Angkasa justru sibuk meratapi nasibnya di tinggal Bulan tunangan.


"Dari Esta sendiri, barusan dia ke ruangan aku. Nganterin kopi sama ngucapin selamat buat aku. Dia emang keliatan pucat sih," kata Bulan. Karena Esta memang terlihat pucat saat menemuinya tadi.


"Aku pergi," Angkasa beranjak, ia bahkan tak mendengar saat Bulan mulai mengomel karena ia mengabaikan Esta.


"Dasar pasangan aneh, masa pacarnya sakit dia malah gak tahu. Terus kemana dia malam itu? Aku kira nemenin Esta," Bulan bergumam sendiri, lalu kembali ke kursinya untuk bekerja.


***

__ADS_1


Jam makan siang, Bulan bersiap untuk menemui Bintang di ruangannya. Ponselnya sudah beberapa kali berdering, pesan dari Bintang yang memintanya untuk segera datang.


"Lan, mau kemana?" Tanya Gea yang baru saja hendak mengajak Bulan makan siang di kantin kantor.


"Ke ruangan pak Bintang, mbak. Kenapa?"


"Ish, aku lupa kalau sekarang kamu udah punya pak Bintang. Mau ngajakin kamu makan siang bareng di kantin, tapi ya udah lah ya, aku gak akan menang lawan pak Bintang."


Bulan terkekeh, lalu memeluk Gea sekilas, "Maaf banget ya mbak, lain kali kita makan siang bareng. Itu pun kalau pak Bintang gak ngajak aku makan bareng."


"Iya deh iya, sana pergi. Entar pak Bintang ngomel," Gea memberengut, tapi Bulan justru tertawa.


"Sedih banget di tinggal ayank Mbul. Bener kata pak Angkasa, lawan aku bukan kaleng-kaleng, gak akan kuat.." Gilang yang baru muncul tampak galau. Ia menatap punggung Bulan yang semakin menjauh sampai gadis itu hilang memasuki lift.


"Cup cup cup, jangan bersedih Kisanak. Masih banyak gadis jomblo disini, salah satunya itu.." Gea menunjuk seorang gadis cantik yang baru saja keluar dari lift. Kedua tangannya memegang sapu dan alat pel. "Namanya Semesta, dia OG baru disini. Cantik kan?"


"Waw, amazing! Kenapa aku baru tahu? Itu sih cantik banget mbak, kerjaan OG tampang istri bos itu mah. Gas, dukung aku mbak. Comblangin aku sama dia."


"Beres, yuk temenin aku makan dulu, biar aku gak kaya orang b*go makan sendirian."


IKLAN


Serbu cerita AngkasaSemesta di judul MENIKAHI KAKEK TUA ya ges. Angkasa mainnya sat set, Esta udah di nikahin aja sama do'i.

__ADS_1


__ADS_2