
"Lan, mending kamu istirahat aja," Gea menatap Bulan dengan cemas, melihat wajah pucat gadis itu, ia tak tega jika Bulan ikut berjibaku di cuaca panas macam saat ini.
"Aku gak papa, mbak. Cuma flu biasa aja, minum obat warungan juga sembuh," Bulan tersenyum, menyembunyikan rasa pusing yang kian terasa. Kepalanya terasa berputar, sesekali tubuhnya oleng, beruntung kedua kakinya masih kuat menopang tubuh dan berusaha menyeimbangkan diri dengan cepat.
"Aku bilang pak Bintang aja ya, Lan. Kamu keras kepala banget ih," Gea jadi kesal, mungkin dengan cara melapor pada Bintang, Bulan akan menurut.
"Jangan mbak, iya-iya aku istirahat," putus Bulan dengan cepat. "Aku duduk di bawah pohon itu aja ya mbak," Bulan menunjuk salah satu pohon rindang tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada tempat duduk terbuat dari kayu disana, Bulan bisa beristirahat sebentar.
Gea tersenyum, ia lalu mengangguk, "Iya, di ancam sama pak Bintang aja baru kamu nurut," ucapnya.
Bulan tak menjawab, ia berbelok menuju pohon tersebut, tapi rasa pusing di kepalanya semakin tuing-tuing. "Astaga, jangan kenapa-kenapa dulu. Kuat dong kuat.." gumamnya pada diri sendiri.
Namun tubuhnya justru semakin lemas dan berat. Matanya berkunang-kunang, terik matahari semakin menambah rasa pusing di kepalanya. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya, berusaha mengembalikan penglihatan yang mulai kabur. Namun tubuhnya semakin lemas dan terasa melayang, Bulan oleng, beruntung ada tangan kekar seseorang yang sigap menangkap tubuhnya hingga tubuh lemas gadis itu tak menyentuh tanah.
Samar-samar Bulan melihat siapa seseorang yang menopang tubuhnya. "A-angkasa.." lirih Bulan sebelum akhirnya memejamkan mata, semuanya mulai tampak gelap, Bulan tak sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemas dalam dekapan Angkasa.
"Bulan, Lan bangun Lan. Jangan bikin aku cemas," Angkasa menepuk-nepuk pipi Bulan dengan lembut, namun gadis itu tetap memejamkan mata. Angkasa cemas, ia lalu menggendong tubuh lemas gadis itu ke pos penjagaan proyek yang lebih dekat dari sana.
"Pak tolong carikan minyak kayu putih, atau apalah itu. Teman saya pingsan," kata Angkasa saat ia sampai di pos penjagaan. Ia cemas bukan main, apalagi melihat wajah Bulan yang sangat pucat, tubuh gadis itu juga terasa hangat.
"Bulan, bangun Lan. Kenapa kamu maksain kerja sih? Ini pasti gara-gara kemaren kamu hujan-hujanan," Angkasa menggerutu sendiri, ia teringat hujan besar kemarin sore. Penyesalan tiba-tiba menyusup ke hatinya, kemarin sore ia bersikap acuh pada gadis itu, padahal Bulan memanggilnya. "Maafin aku," lirihnya.
"Ini pak," kata seorang penjaga yang memberikan minyak kayu putih pada Angkasa.
__ADS_1
Angkasa segera mengambilnya, "Makasih, pak." Ia menuang minyak tersebut ke telapak tangan, kemudian menggosokkan tangannya ke tangan Bulan dengan lembut. Ia lakukan juga pada kaki Bulan, hingga perlahan dua netra gadis itu mengerjap.
"Angkasa," panggil Bulan dengan suara lemahnya.
"Iya, Lan. Ini aku," Angkasa tersenyum, mengusap puncak kepala Bulan dengan lembut.
"Maafin aku," Tiba-tiba Bulan menangis.
"Kenapa kamu nangis, jangan nangis, aku gak suka liat kamu nangis. Kita ke rumah sakit, ok?"
Bulan menggeleng, perlahan ia bangkit, Angkasa sigap membantunya duduk.
"Jangan marah lagi, jangan hindari aku lagi, Sa. Aku minta maaf, aku salah.." lirih Bulan seraya terisak.
Bulan semakin terisak, ia membalas pelukan pria itu dengan erat. Entah terbuat dari apa hati Angkasa, pria itu begitu tulus dan baik. Tapi kenapa hatinya tak bisa mencintai pria itu? Bulan merasa dirinya bodoh.
"Udah, jangan nangis lagi. Jelek kalau kamu nangis," goda Angkasa seraya melerai dekapannya. Ia usah air mata yang membasahi pipi Bulan, lalu mencubit pipi gadis itu dengan gemas, "Hidung kamu merah kaya tomat," godanya lagi.
Bulan memberengut, memukul pelan dada Angkasa.
"Bulan, kamu gak papa?"
Bintang mundur selangkah saat ia melihat Angkasa dan Bulan tampak begitu bahagia. Entah apa yang membuat mereka terlihat bahagia, atau mungkin mereka kembali menjalin hubungan karena Bulan menyadari perasaannya terhadap Angkasa? Begitu pikir Bintang.
__ADS_1
"Dia gak papa, Bintang. Temenin dia yah, gue mau samperin Gea dulu," Kata Angkasa. Ia lalu kembali menatap Bulan, ia usap puncak kepala gadis itu dengan gemas, "Aku pergi dulu, Bintang jagain kamu disini," ucapnya.
Bulan menggeleng, ia menarik ujung jari telunjuk Angkasa agar pria itu tak meninggalkannya bersama Bintang. Tapi Angkasa justru tersenyum lalu pergi. Pria itu menepuk bahu sang sepupu beberapa kali seraya tersenyum sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Tatapan Bulan dan Bintang bertemu, namun kemudian Bulan memalingkan muka.
"Kamu gak papa?" Tanya Bintang, ia menghampiri Bulan lalu duduk berhadapan dengan gadis itu.
Bulan menggeleng, ia masih enggan menatap pria itu. "Kamu pergi aja, aku bisa sendiri," lirih Bulan.
Bintang menghela nafas panjang, ia meraih tangan Bulan lalu ia genggam, "Aku gak akan ninggalin kamu lagi."
Kalimat itu seperti menyiratkan banyak arti, tapi bagi Bulan, ia tak mau lagi menggantungkan harapan pada pria itu.
"Terserah," ucap Bulan.
"Kamu benci banget yah sama aku?" Rasa putus asa mulai kembali datang, melihat Bulan bahkan enggan menatapnya, hatinya terasa tercubit. Jadi ini yang dulu Bulan rasakan? Ketika ia mengabaikan gadis itu, dan sekarang ia merasakannya.
Bulan hanya diam, di bilang benci mungkin tidak. Ia hanya kecewa, tapi untuk kembali menerima Bintang dalam hidupnya, rasanya tak akan semudah itu.
"Baiklah, kalau kamu gak mau aku ganggu kamu lagi, aku gak akan ganggu kok. Tapi please, jangan benci aku. Sekali lagi aku bilang sama kamu, bahwa aku gak berniat sedikit pun nyakitin kamu. Aku emang salah, aku pergi tanpa kabar dan memberi kamu kepastian. Tapi aku melakukan itu karena aku gak mau liat kamu nangis saat aku pergi, aku gak sanggup Bulan. Sampai di Amsterdam, aku berusaha menghubungi kamu untuk ngasih kamu kabar, tapi kamu menutup semua akses komunikasi buat aku. Aku hanya bisa tahu kabar kamu dari Angkasa, itu pun aku harus kena omel dia dulu. Maafin aku, sekali lagi maafin aku Bulan."
Selepas mengatakan kalimat panjang lebar itu, Bintang beranjak, ia mengusap puncak kepala Bulan lalu pergi.
__ADS_1
Seiring dengan kepergian pria itu, setetes air bening menetes membasahi pipinya. "Bintang.." lirihnya, dadanya sesak, lidahnya terasa kelu untuk sekedar berteriak memanggil nama pria itu.