
Waktu terus berlalu, hari ini Bintang dan Bulan akan mengambil cincin kawin yang sudah mereka pesan beberapa hari yang lalu.
Memasuki salah satu mall terbesar di Ibu Kota, tangan mereka saling bertaut erat. Seakan tak ingin berjauhan sekejap pun. Bintang begitu posesif pada Bulan, ia bahkan ingin menunjukan ke semua orang bahwa Bulan adalah miliknya. Karena itu ia tak membiarkan Bulan jauh sedikitpun.
Di sambut senyum ramah pemilik toko perhiasan tersebut, Bulan dan Bintang tampak antusias melihat perhiasan yang mereka pesan.
"Sesuai keinginan kita, ini sempurna Zeny," kata Bintang.
Zeny tersenyum, "Tentu lah, aku bikin ini special untuk pernikahan sahabat aku."
Ya, Zeny. Ia adalah pemilik toko perhiasan tersebut, bukan hanya itu, Zeny juga pemilik butik terkenal langganan para pejabat dan kalangan atas.
Sempat menimba ilmu bersama Bintang di Amsterdam, gadis itu kemudian sukses dengan usahanya. Menjalani beberapa bisnis yang kini sudah dapat di sandingkan dengan bisnis para milyarder Ibu Kota.
Selain karena modal yang kuat, kemahirannya dalam mengelola bisnis juga salah satu senjata yang membuat gadis itu sukses di usia muda. Belajar dari sang papa yang juga pebisnis perhiasan dan berlian, nama Zeny melejit bak sebuah roket.
"Thanks banget ya Zen, kamu juga harus datang ke acara kita nanti," kata Bulan. Ia tak menyangka gadis yang dulu memusuhinya itu kini sangat baik padanya.
__ADS_1
"Pasti dong Lan, rugi kalau gak dateng. Aku mau abisin makanan disana nanti," jawab Zeny seraya tertawa.
"Pokonya harus, kita tunggu!" Kata Bulan lagi, yang juga di iyakan Bintang.
"Di cobain dulu, mumpung masih ada waktu. Kalau kegedean atau kekecilan bisa di ganti ukurannya," saran Zeny.
Bulan mengangguk, ia tersenyum sumringah saat Bintang menyematkan cincin itu di jari manisnya. Hanya mencoba saja rasanya sudah berdebar-debar, apalagi nanti.
Cincin bertahtakan berlian itu tampak sangat cocok di jari manis Bulan, terlihat berkilau dan serasi dengan kulit putih gadis itu. "Ini bagus banget Zen," kata Bulan dengan mata berbinar.
"Tergantung yang pake, karena yang pake juga cantik, cincinnya jadi tambah cantik." Bintang menggombal, entah sejak kapan pria itu belajar menggombali calon istrinya. Karena itu bukan Bintang banget!
"Aku belajar dari kamu," jawab Bintang.
"Tapi bener loh Lan, cincinnya jadi tambah cantik di pakai kamu," Zeny menimpali.
"Kompak banget godain aku," Bulan menatap Zeny dan Bintang bergantian, yang di tatap justru tertawa kompak.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan urusan perhiasan, Bulan dan Bintang memutuskan untuk pulang. Mereka akan mampir ke rumah Angkasa karena sesaat yang lalu Mega menghubungi Bintang dan meminta mereka mampir, Mega memasak makanan kesukaan Bintang katanya. Karena itu perempuan itu memaksa untuk makan malam bersama di rumahnya. Sekalian mengajak Jingga dan Langit untuk berkumpul. Mega mengatakan ada sesuatu hal yang penting yang ingin ia bicarakan pada keluarganya.
"Siap ketemu mantan?" Goda Bintang, membuat Bulan mendelik mendengar godaan pria itu.
"Dia itu mantan terbaik aku, mantan terindah lagi," balas Bulan. Ia terkikik saat melihat raut wajah kesal Bintang. Pria itu yang mulai, tapi saat Bulan menjawab jadi kesal sendiri.
"Mantan terindah?" ulang Bintang, ia cemburu.
"Iya, kan mantan aku cuma dia. Aku gak pernah pacaran selain sama dia. Jadi, dia yang menyandang mantan tersegalanya," goda Bulan lagi, ia balas dendam.
Bintang mencebik, dia yang terlalu pengecut akhirnya tak bisa memberikan status pada gadis itu, "Tapi sekarang aku calon suami kamu! Jangan ada kata mantan," ucapnya.
"Dih amit-amit jabang bayi, ngeri banget ngomongnya!" Bulan memukul lengan Bintang, dalam hati pria itu juga mengucap kalimat yang sama.
"Amit-amit jangan sampai jadi mantan, apalagi mantan suami!" Bintang bergidik ngeri, membayangkan hidup jauh dari Bulan sudah membuatnya sangat takut. Apalagi jika itu terjadi kembali, ia sangsi bisa melaluinya lagi.
Nyaris menghabiskan waktu satu jam, akhirnya mobil Bintang terparkir cantik di halaman rumah mewah Angkasa. Kemacetan ibu kota nyaris membuat mereka terlambat.
__ADS_1
Bintang turun lebih dulu, kemudian membuka pintu mobil untuk calon istrinya. Dengan sigap Bintang menghalangi kepala Bulan, jangan sampai kepala Bulan terbentur pintu bagian atas. Hal yang sangat sederhana namun mampu membuat hati Bulan melumer.