
"Kenapa boongin aku?" Tanya Bulan, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Bintang, menatap pria itu dengan binar kebahagiaan.
"Kalau aku gak jebak kamu kaya gini, kamu pasti terus nolak aku. Tadinya aku mau langsung nikahin kamu, tapi kata mami, kalau aku di tolak gimana? Padahal aku yakin, kamu gak akan nolak aku," pria itu terkekeh, menarik pinggang Bulan agar lebih merapat padanya. Ia menyatukan keningnya dengan kening sang tunangan, bergerak seirama ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik romantis yang mengalun.
"Kata siapa aku gak akan nolak kamu?"
"Buktinya sekarang kamu nerima lamaran aku, ayolah sayang, akui kalau kamu masih cinta aku!" Bintang gemas, sedari tadi Bulan tak menyatakan perasaannya.
Bulan tersenyum, lalu berkata, "Aku cinta kamu," ucapnya dengan lembut.
"Aku lebih cinta kamu," balas Bintang. Jika saja semua orang tak tengah melihat mereka berdansa, mungkin ia bisa meraup bibir ranum gadis itu.
Dalam diam mereka saling menatap, tatapan yang menyampaikan banyak kata yang selama bertahun-tahun tertahan di hati. Kening mereka masih menyatu, tak bisa menahan diri, Bintang pun mengecup kening gadis itu dengan penuh perasaan.
Sorakan dan tepuk tangan menyadarkan Bintang, bahwa disana bukan hanya ada mereka, tapi para tamu juga keluarga yang juga ikut berbahagia atas pertunangan mereka malam ini.
Dengan malu-malu, mereka turun dari lantai dansa, sepertinya mereka harus menyantap sesuatu karena perut sudah membunyikan alarmnya. Karena terlalu bahagia dan ingin cepat berdansa, mereka sampai melewatkan makan bersama.
***
__ADS_1
"Kamu punya banyak foto aku di kamar kamu? Kok bisa?" Bulan menerima suapan Bintang, gadis itu menatap sang kekasih menunggu jawaban pria itu.
"Bisa lah, apa sih yang aku gak bisa? Terus selama aku di Amsterdam, aku nyuruh orang buat jaga kamu. Selain Angkasa, ada dua temen aku yang jaga kamu terus ngasih aku kabar tentang kamu. Mereka juga aku tugasin buat kirim foto kamu Satu jam sekali. Melebihi minum obat kan gilanya aku?" Jawab Bintang. Ia lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri lalu kembali menyuapi Bulan.
"Ish, penguntit!"
"Salah kamu malah blokir aku, aku sampai mau balik ke Indonesia lagi waktu itu, tapi Angkasa bilang aku harus ngasih kamu waktu dulu, kamu marah banget kan sama aku?"
"Iyalah, kamu ninggalin aku gitu aja. Coba kamu pikir, kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Malemnya kita baik-baik aja, paginya aku nerima kabar kamu pergi. Itu pun bukan dari kamu sendiri, tapi dari orang lain. Aku ngerasa kaya di samber gledeg tahu gak! Kamu kaya mainin perasaan aku, mata aku sampai kaya jengkol tiap hari nangis. Untung ada Angkasa, dia sabar banget jagain aku, sampai akhirnya aku bisa baik-baik aja."
"Tapi dia malah kebablasan macarin kamu, patah hati banget pas liat kamu jadian sama dia."
"Bukan salah dia, aku yang minta dia jadi pacar aku, aku kesel sama kamu!"
Bulan menggeleng, ia pun baru menyadarinya. Sibuk dengan kebahagiaannya sendiri, ia sampai melupakan Angkasa yang begitu berjasa untuknya juga hubungannya dengan Bintang. "Mungkin dia sama pacarnya."
Bintang manggut-manggut, ia kembali menyuapi Bulan.
"Kalau kamu tahu aku sejak kecil, kenapa gak bilang? Terus kenapa kamu nolak aku waktu aku ngejar kamu dulu?" tanya Bulan lagi.
__ADS_1
"Aku mau tahu aja, kamu ingat aku atau enggak. Tahunya gak inget-inget," Bintang merajuk. "Aku nolak kamu karena aku kaget aja, gadis kecil yang dulu imut, kenapa jadi bar-bar dan agresif? Ekspektasi aku tentang kamu jauh, aku kira Bulan kecilku akan jadi gadis feminim yang lembut. Tapi semakin kesini aku semakin menyadari, bahwa bagaimana pun kamu, ternyata aku tetap menginginkan kamu. Aku mencintai kamu apa adanya, aku bahkan merasa kehilangan saat kamu diam. Aku lebih suka kamu yang bar-bar, kamu yang agresif, kamu yang cerewet dan kamu yang begitu gigih mengejar ku."
Bintang berkata jujur. Ia membayangkan Bulan kecil tumbuh menjadi gadis lembut yang manis, tapi pada kenyataannya, Bulan ugal-ugalan. Hal itu sempat membuatnya terkejut dan kecewa, karena itu ia menolak Bulan dan bersikap dingin padanya, tapi kemudian ia sadar, bahwa tak semua harapan terjadi sesuai keinginan. Ada beberapa hal di luar kuasa manusia.
Perlahan Bintang mulai terbiasa dengan Bulan yang aneh menurutnya, rasa cintanya pada gadis itu mulai kembali. Dan semakin hari, cintanya pada Bulan semakin besar.
Namun masalah baru muncul saat cinta harus terbentur dengan cita-cita. Bintang harus memilih antara cinta dan cita-cita. Karena itu sebelum ia pergi, ia menyatakan perasaannya pada Bulan melalui sikapnya.
Ternyata sikap aja tak cukup untuk mengikat Bulan dan menunjukan perasaannya pada gadis itu. Salahnya ia tak memberi kepastian, membuat hubungan mereka memburuk dan menjauh.
Tak putus asa, Bintang terus berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan Bulan. Berbekal keyakinan bahwa Bulan juga masih mencintainya, Bintang terus berjuang untuk mendapatkan Bulan meski ia nyaris menyerah saat Angkasa lah yang berhasil mendapatkan gadis itu.
Dan akhirnya, perjuangannya berbuah manis meski ia harus membohongi Bulan lebih dulu dan membuat gadis itu kenyang menangis.
"Baru sadar Kisanak? Kalau ternyata kamu cinta sama aku?" Goda Bulan.
"Dari dulu aku sadar, sayang," kata Bintang merata mencubit ujung hidung mancung Bulan dengan gemas, "Cuma aku menyangkalnya. Itu tadi alasannya, tapi sekarang aku gak perduli, mau kamu bar-bar, mau kamu agresif, mau kamu aneh sekalipun, aku tetap cinta sama kamu. Cinta banget!"
Bulan tertawa, lalu mendekat dan mengecup pipi pria itu. Status tunangan yang ia sandang membuatnya sedikit berani, sepertinya kebar-barannya akan kembali.
__ADS_1
BAHAGIA BANGET BULAN SAMA BINTANG😜