MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
GILA!


__ADS_3

Bulan berjalan santai memasuki ruangan calon suaminya, membuat sepasang manusia di dalam sana terkejut.


Bintang bahkan mendorong Kimmy dari pangkuannya, pria itu terlihat panik. Membuat Kimmy jatuh terduduk di atas lantai. Gadis itu meringis menahan sakit dan malu secara bersamaan. Posisi jatuhnya tak indah, tentu gadis sekelas Kimmy akan merasa sangat malu, ia bahkan lebih mementingkan rasa malu ketimbang rasa sakit di area bokongnya.


"Sayang, kamu udah dateng," kata Bintang. Terlihat jelas kegugupan di raut wajahnya.


Bulan tak menjawab, ia hanya tersenyum lantas menghampiri Bintang dan Kimmy yang masih berdiri bersebelahan. Meski Kimmy sempat terjatuh menyentuh lantai, gadis itu segera berdiri kembali di samping Bintang.


"Berikan ini padanya! Kayanya emang gak cocok ada disini," Bulan memperlihatkan jari manisnya yang sudah kosong, ia melepas cincin pertunangannya dengan Bintang dan meletakkan benda bermata berlian itu di atas meja.


"Sayang, kamu salah faham," Bintang semakin panik, ia kembali mengambil cincin Bulan lalu ia berikan kembali pada gadis itu. Sayangnya Bulan kembali menolak.


"Dia lebih pantas memakainya, Bintang!" ucap Bulan dengan tegas, gadis itu bahkan hanya memanggil nama saja pada Bintang, padahal sebelumnya ia memanggil MAS setelah pertunangan mereka di gelar.


"Dengerin aku dulu, aku berani bersumpah kalau aku sama Kimmy gak ada hubungan apa-apa. Apa yang kamu lihat tadi bukan yang sebenarnya, aku.."


"Aku permisi," potong Bulan. Ia tak bisa menahan air matanya lebih lama lagi, asal kalian tahu, berpura-pura kuat itu berat. Seberat menahan rasa mulas di perut saat toilet umum penuh.

__ADS_1


"Sayang, tunggu! Dengarkan aku dulu," Bintang masih berusaha menahan Bulan. Pernikahannya dengan Bulan tinggal menghitung hari, bahkan besok mereka sudah mulai menjalankan tradisi pingitan, masa iya semuanya harus batal.


Bulan tak mendengar, ia terus berjalan dan keluar dari ruangan Bintang. Rasanya campur aduk, hatinya carut marut tak karuan. Antara marah, kecewa, kesal, cemburu dan cinta. Menjadi satu kesatuan yang membuatnya serasa menggila.


"Bintang, aku saja yang kejar," Kimmy menahan Bintang, gadis itu berlari tanpa menunggu jawaban dari Bintang.


Dengan gusar Bintang mengusap wajahnya, bisa-bisanya ia lupa jika Bulan akan datang. Dan untuk apa juga Kimmy datang? Pekerjaan mereka selesai, tak ada pertemuan lagi, hanya tinggal meninjau proyek yang sudah setengah berjalan.


"Sial!" geramnya, ia kembali memasuki ruangan, kemudian menghubungi Angkasa untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Sementara itu, Kimmy berhasil mengejar Bulan, gadis itu meraih tangan Bulan agar Bulan tak pergi dulu sebelum ia bicara.


Bulan menghapus air matanya dengan asal, lalu menoleh pada Kimmy, "Mau apa?" tanyanya.


"Bulan, aku minta maaf. Aku tahu kalian mau menikah, tapi.."


"Tapi?"

__ADS_1


"A-aku, aku cinta sama Bintang. Maaf, awalnya Bintang minta aku buat bantu dia bikin kamu cemburu, sebelum kalian bertunangan. Tapi karena kami terus dekat, perasaan aku sama dia semakin dalam. Aku memang cinta sama dia dari dulu, tapi dia selalu nyebut nama kamu. Aku.."


"Jadi apa mau kamu sebenarnya?" Potong Bulan, "To the point aja, Kimmy!"


"Aku gak akan minta kalian putus apalagi membatalkan pernikahan kalian. Aku hanya mau, kamu mengizinkan aku terus berhubungan dengannya. Apa bisa?"


"Apa hak kamu meminta? Kamu gila, Kimmy! Kalau pun aku mengizinkannya, apa dia mau berhubungan sama kamu?"


Kalimat itu membuat Kimmy bungkam, karena sekuat apapun ia berusaha mencari perhatian dari Bintang, nyatanya ia selalu gagal. Nama Bulan yang selalu Bintang gaungkan, dalam setiap kesempatan, Bintang akan menyebut nama Rembulan.


"Aku mohon, Bulan," dengan tak tahu malunya Kimmy terus memohon. Meminta Bintang dari Bulan seperti Bintang sebuah barang


yang bisa beralih tangan dengan mudah.


"Terserah kamu, cincin pertunangan aku udah ada di tangan Bintang, buat dia memasangkannya di jari kamu kalau kamu bisa! Jika itu berhasil, aku mundur."


Bulan berucap tegas, ia tatap Kimmy dengan tatapan tajam, tak habis pikir dengan kegilaan gadis itu. Kenapa di dunia ini begitu banyak perempuan yang menyakiti perempuan lain demi keegoisan dirinya?

__ADS_1


"Terima kasih, Bulan. Kamu sudah memberiku kesempatan, aku akan berusaha melakukannya," kata Kimmy. Entah polos atau bodoh, Kimmy justru merasa mendapat lampu hijau dan angin segar dari Bulan. Gadis itu tak juga sadar.


Bulan tersenyum sinis, lalu pergi saat Bintang datang. Kenapa cobaan itu datang ketika hari pernikahan hanya tinggal menghitung hari? Ia kira semuanya akan berjalan mulus, tapi nyatanya ada saja cobaannya.


__ADS_2