MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
TAMU


__ADS_3

"Bulan bukan pacar aku ma, mama salah faham," ucap Angkasa. Karena pembicaraannya dengan Bulan beberapa hari lalu, Angkasa memberanikan diri meluruskan kesalahpahamannya dengan sang mama. Ia tak enak dengan Bulan, di tambah lagi ia melihat Bintang dan Bulan berpelukan, sepertinya ia memang tak ada harapan bisa menggantikan Bintang di hati Bulan.


Mega yang tengah menuangkan jus mangga kesukaan Angkasa ke dalam gelas terkejut, kemudian menghampiri putranya itu dan duduk di sebelahnya. "Loh, kok bisa begitu?" tanyanya.


"Mama salah faham," jelas Angkasa.


Mega mengerutkan dahinya, kemudian kembali bertanya, "Salah faham gimana maksud kamu? Bukannya kamu seneng banget kalau kamu menceritakan tentang Bulan ke mama?"


Setiap kali Angkasa menceritakan Bulan pada Mega, pemuda itu memang tampak bahagia dan antusias. Binar matanya menunjukan cinta, karena itu Mega mengambil kesimpulan bahwa Angkasa dan Bulan mempunyai hubungan special.


"Ya bukan berarti aku sama Bulan pacaran, ma. Aku juga gak pernah bilang begitu kan ke mama?" Angkasa menghela nafas panjang, raut wajahnya begitu muram.


"Iya juga sih, jadi mama salah? Yaaah, padahal mama seneng banget. Mama suka sama Bulan," Mega tampak loyo, ia memang sangat menyukai gadis cantik itu.


"Bukan mama aja yang suka sama Bulan," gumam Angkasa.


Mega menatap putranya dengan lekat, sepertinya, putranya itu memang menyukai Bulan. "Kamu juga kan?" tanyanya.


Angkasa tak menjawab, ia hanya menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan gusar, "Intinya, aku sama Bulan gak punya hubungan apa-apa. Kita cuma temenan, ma."


Mega menghela nafas pasrah, "Haaaah, mama doakan semoga kelak kalian berjodoh."


Angkasa diam saja, dalam hati ia mengaminkan, meski rasanya tidak mungkin mengingat hati Bulan sepenuhnya hanya untuk Bintang. Tapi mengacu pada pepatah, 'tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkehendak,' secercah harapan dan sikap optimisnya kembali muncul.


"Nanti malam mama sama papa mau ke rumah mami Ji, kamu mau ikut?" Tanya Mega.


"Mau ngapain ma?"


"Mami kamu punya bapperware baru, mama mau lihat, mami Ji juga mau kita makan malam bareng. Ikut gak? Ikut aja deh, ok?" Mega tampak semangat, ia dan Jingga memang sebelas dua belas, sama-sama penggila bapperware viral itu.


"Gak ah, aku ke cafe aja."

__ADS_1


"His, nanti kalau kamu gak ikut, kamu bawel nyuruh mama sama papa pulang buru-buru. Ikut aja, papa kamu aja ikut kok. Jam 7 kita pergi, makan malam bareng di rumah mami Ji. Ingat ya sayang, gak ikut bisulan!"


"Mama ih! Masa aku di doain bisulan," Angkasa mengomel, seumur-umur ia tak pernah merasakan penyakit modern itu. Amit-amit katanya.


"Biarin, biar kamu ngerasain. Apalagi bisulan biasanya nyempil di tempat yang gak pernah kamu duga, makanya ikut!"


"Ck, iya iya aku ikut." Putus Angkasa pada akhirnya, ia meminum jus mangga buatan sang mama, jus mangga yang ia dapuk menjadi jus terenak se seantero. "Abis, makasih mama sayang," Angkasa mengecup pipi kanan Mega, kemudian pergi ke kamarnya.


***


"Kok tumben masak banyak banget, mi? Ada acara yah?" Tanya Bintang, pemuda itu mengambil buah apel di atas meja makan, duduk lalu menyantapnya.


"Den, bibi kupas dulu," ucap Bi Inah.


"Gak usah, Bi. Enakan di makan gini." Bintang kembali menggigit buah apelnya, lalu menatap sang mami menunggu jawaban.


"Mama kamu mau kesini, kita makan malam bersama. Ada tamu papi juga nanti," jawab Jingga.


Bintang manggut-manggut, menghabiskan apel di tangannya lalu pamit hendak kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat suara bel pintu berdering, Bi Inah tergopoh-gopoh hendak membuka pintu, namun Bintang menahannya.


"Baik, den. Terima kasih," kemudian Bi Inah kembali ke dapur.


Saat bel kembali terdengar berbunyi, Bintang mempercepat langkahnya. Ia membuka pintu, pandangannya terkunci pada seseorang yang berdiri di belakang pria yang tampak tersenyum namun tanpa sadar Bintang acuhkan. Pemuda itu terkejut.


Sama halnya dengan Bintang, gadis itu pun tampak terkejut. Mungkin tak menyangka bahwa rumah mewah yang tengah ia sambangi itu adalah rumah pemuda yang sangat ia rindukan.


"Selamat malam," sapa pria paruh baya yang berdiri di hadapan Bintang.


Bintang tergagap, tatapannya masih pada sosok gadis cantik di belakang pria paruh baya tersebut. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?"


Pria paruh baya itu tersenyum, "Saya ingin bertemu dengan Tuan Langit, apa beliau ada di rumah? Saya sudah membuat janji siang tadi," jelas pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Ah, papi ada. Mari silahkan masuk," Bintang membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan kedua tamunya untuk memasuki rumah, ia sendiri berjalan di belakang gadis cantik berbaju merah muda, lalu sedikit mensejajarkan langkahnya. "Hai.." bisiknya.


Gadis itu sedikit menoleh dan tersenyum, "Hai.." balasnya. Jantungnya berdebar-debar, sudah satu Minggu sejak ujian selesai mereka tak bertemu. Tak juga saling menghubungi lewat ponsel.


"Kenapa gak bilang mau ke rumah?" Tanya Bintang lagi.


"Aku gak tahu ini rumah kamu, lagian kamu juga sombong gak pernah Wa aku. Aku juga takut ganggu kamu kalau Wa duluan," jawab gadis bernama Rembulan itu.


Bintang berdecak, mencubit pipi Bulan dan membuat gadis itu mengaduh. Bumi sontak menoleh, pria paruh baya itu tampak cemas.


"Ada apa, nak?" Tanya Bumi.


Bukan menggeleng, "Gak ada apa-apa, Pa. Tadi aku di gigit nyamuk," jawab Bulan.


Meski alasan putrinya sedikit tak masuk akal, Bumi memilih mengangguk percaya.


Sedangkan Bintang, pemuda itu terkekeh saat Bulan memelototinya.


"Silahkan duduk, om. Aku panggil papi dulu," ucap Bintang.


Bumi mengangguk, "Terima kasih, nak."


Bintang tersenyum, menoleh pada Bulan lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Bulan nyaris pingsan, pesona Bintang semakin nyata. Apalagi setelah satu Minggu mereka tak bertemu, Bulan rasanya ingin memeluk pemuda itu dengan erat. Tapi siapa Bulan? Hanya gadis yang dengan gigih mengejar cintanya Bintang, bahkan pemuda itu tak pernah sekalipun membalas ungkapan perasaannya. Hal itu lah yang membuat Bulan menahan diri untuk tak menghubungi Bintang lagi.


"Sayang, duduk lah. Kenapa kamu masih berdiri," tegur Bumi.


Bulan tergagap, lalu duduk di sebelah sang papa. Pandangannya mengedar, rumah merah Bintang tak berbeda jauh dengan rumahnya dulu. Tapi itu dulu, sekarang keadaanya dan sang papa sangat sederhana.


"Papa kenal sama om Langit?" tanya Bulan setelah beberapa saat hening.


Bumi mengangguk, "Sudah lama, tapi kami baru bertemu lagi tadi pagi, Tuan Langit menawarkan kerja sama dengan papa. Semoga berhasil dan bisa membuat perekonomian kita membaik. Papa ingin kamu kuliah nak," ungkap Bumi. Ia tak setuju dengan rencana cuti Bulan, hatinya sakit melihat putrinya ikut bekerja dan mengumpulkan uang.

__ADS_1


Bulan tersenyum tulus, lalu memeluk sang papa dengan erat, "Amiin, pa. Kita berjuang bersama, aku ikhlas bantu papa."


Bumi balas memeluk Bulan, mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Pemandangan yang membuat hati Langit menghangat.


__ADS_2