
"Haciiiiiim haciiiiimmm.."
Bulan menggosok hidungnya yang gatal, hidung mancungnya tampak memerah. Hasil hujan-hujanan kemarin, ia jadi terkena flu.
"Bandel sih, coba ikut aku. Nih obat flu sama sarapan buat kamu."
Bulan sedikit terkejut, Akhir-akhir ini Bintang seperti jelangkung gagal pulang. Datang tak di undang, datang tiba-tiba tapi perginya susah.
"Gak usah, aku udah sarapan."
"CK, jangan keras kepala! Hidung kamu meler tuh, cepet makan terus minum obatnya," Bintang yang sempat duduk di hadapan Bulan lalu beranjak, mengusap puncak kepala Bulan dengan lembut lalu keluar dari ruangan itu.
"Tumben, biasanya susah banget di suruh pergi." Gumam Bulan, ia menatap kotak makanan dan obat flu yang Bintang berikan, lalu menghela nafas panjang. Bintang sangat gencar mengejarnya, tapi ia belum mau memaafkan pria itu.
Baru saja hendak membuka kotak makan itu,
suara seseorang yang akhir-akhir ini ia rindukan membuat tubuhnya beranjak keluar ruangan.
"Bawa laporannya ke meja saya!"
"Baik, pak. Akan segera saya selesaikan," Gilang mengangguk patuh saat sang atasan meminta laporan keuangan bulan ini.
"Jam makan siang harus sudah selesai," Angkasa lalu berbalik hendak kembali ke ruangannya. Langkahnya sejenak terhenti saat tatapannya bertemu dengan tatapan Bulan yang berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Hai, Sa.." sapa Bulan.
Angkasa tersenyum lalu pergi begitu saja. Pria itu bahkan tak membalas sapaannya. Membuat Bulan menunduk murung menahan tangis. Inilah resikonya, persahabatan mereka merenggang karena cinta. Bukan salah cinta, karena cinta hadir tanpa memilih, karena hati tak tahu berlabuh dimana dan pada siapa. Hanya saja, mungkin persahabatan mereka belum terlalu kokoh, hingga nyaris runtuh saat badai pertama datang.
"Semuanya berubah, kamu berubah, Sa." Bulan tatap punggung lebar Angkasa yang semakin menjauh, ia merasa sangat kehilangan pria itu.
"Bulan.."
__ADS_1
Bulan sontak menghapus air matanya, lalu menoleh dan tersenyum pada Gea yang menghampirinya. "Iya mbak?"
"Siang ini ada peninjauan proyek, kamu ikut kan?"
Sejenak Bulan terdiam, ia tengah tak enak badan, tapi ia juga tak mungkin membiarkan Gea sendiri. Ini juga tanggung jawabnya.
"Ikut mbak, jam berapa kita pergi?"
"Jam sebelasan aja, makan siang disana. Gimana?"
Bulan lalu mengangguk, "Boleh mbak, aku beresin kerjaan aku yah. Supaya nanti gak keteteran," kata Bulan.
"Sip, kamu emang karyawan teladan, Lan."
"Ish, bisa aja mbak Gea. Aku masuk duluan yah.."
Gea mengangguk, lalu ia juga kembali ke ruangannya.
***
Kepalanya mulai terasa berat, hidungnya bahkan semakin meler. Padahal ia sudah meminum obat, tapi bukannya sembuh, ia justru mengantuk.
"Lan, makan siang dulu yuk," ajak Gea.
Bulan mengangguk, meski tak nafsu makan, tapi ia harus paksakan agar tak sakit berkepanjangan.
Mereka memilih makan siang di sebuah warung nasi di dekat proyek. Meski hanya warung nasi sederhana, tapi rupanya menu makanan disana cukup banyak dan bervariatif.
Ternyata di warung nasi itu tak hanya ada mereka, ada Bintang dan Angkasa juga yang sudah lebih dulu berada disana.
Melihat dua pria itu, Bulan otomatis menghentikan langkah, ia bingung harus lanjut atau pergi lagi. Tapi ia butuh duduk untuk beristirahat, kepalanya semakin pusing.
__ADS_1
"Lan, sini gabung.." Bintang melambaikan tangannya, membuat Bulan yang masih serba salah menoleh. Di saat yang bersamaan, Angkasa yang duduk membelakangi gadis itu juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, tapi kemudian Angkasa memalingkan wajahnya.
Melihat reaksi Angkasa, Bulan pun menggeleng, "Gak, makasih." Ia menggandeng tangan Gea untuk mencari tempat duduk yang lain. Mengabaikan raut wajah kecewa dari Bintang.
"Enak banget jadi kamu, Lan. Di kelilingi cowok-cowok ganteng. Kayanya pak Bintang juga suka sama kamu," ucap Gea sedikit berbisik.
"Mbak ngaco, gak mungkin lah. Dia itu cuma temen aku pas aku sekolah SMA, sama kaya Angkasa juga."
"Masa sih? Tapi dari matanya mbak bisa liat Lan, dia itu suka sama kamu. Tatapannya sama kaya tatapan pak Angkasa ke kamu," ucap Gea lagi.
Bulan menggeleng, ia lalu memesan makanan. Nasi rames plus es teh manis menjadi pilihannya, meski hidungnya mampet, tapi cuaca panas membuat Bulan sangat ingin meminum yang dingin-dingin.
Dari tempatnya duduk, Angkasa mengawasi Bulan. Ia berdecak saat Bulan memesan minuman dingin, padahal ia tahu gadis itu tengah flu.
"Gue ke toilet sebentar," kata Angkasa seraya beranjak.
"Hemm.." Bintang bergumam sebagai jawaban. Meski sedikit dongkol karena lagi-lagi Bulan menolaknya, Bintang memilih menghabiskan makanannya untuk menambah energi, agar saat gadis itu menolaknya lagi, ia masih kuat berdiri.
***
"Minum ini, kamu lagi flu kan? Jangan minum yang dingin dulu!" Setelah meletakkan teh manis hangat di hadapan Bulan, Angkasa pergi membawa es teh manis yang tadi Bulan pesan. Membuat Bulan dan Gea ternganga.
Dengan tatapan mengharu biru, Bulan menatap Angkasa yang sudah kembali duduk di tempatnya. Ternyata dalam keadaan marah pun pria itu masih memperhatikannya. Ingin rasanya ia mengembalikan Angkasa yang dulu, yang pecicilan namun perhatian. Yang menyebalkan namun baik hati, yang terkadang terlihat acuh tapi sebenarnya memperhatikan. Tapi Bulan sadar betul, dirinya lah yang salah dan sudah membuat Angkasa kecewa padanya.
Di sisi lain, Bintang mengusap wajahnya dengan gusar. Lagi-lagi ia kalah start dari Angkasa. Beberapa saat yang lalu ia baru saja akan beranjak menghampiri Bulan saat ia melihat Bulan meminum minuman dingin, tapi niatnya terhenti saat ia melihat Angkasa sudah lebih dulu bertindak, mengganti minuman dingin Bulan dengan minuman hangat.
"Kenapa Lo?" Tanya Angkasa.
"Gak, aku udah selesai. Aku ke proyek duluan, kamu nyusul aja, makanan kamu belum abis."
"Loh, Bintang?"
__ADS_1
Bintang tak mendengar, ia buru-buru keluar dari sana untuk mendinginkan rasa panas di hatinya.